Pages

Thursday, December 21, 2006

the amazing journey - Part 1

Sudah 2 tahun ini Ma setiap hari minum pil Norvasc untuk mengontrol tekanan darahnya. Kadang Ma lupa minum obat, tekanan darahnya jadi tinggi tapi so far baik2 saja.
Pas liburan Lebaran kemarin, Ma mengeluh sesak nafas dan ga enak badan. Tapi mama ngeyel ga mau di ajak ke Jakarta untuk konsultasi ke dokter jantungnya. Ma malah marah2 kalau diajak ke dokter.
Hingga tiba2 tgl 10 November tiba2 Ma bilang mau ke jakarta. Aku cepet2 telp Garuda book tiket untuk penerbangan Senin, 13 November.
Aku ga pernah menyangka kalau itu menjadi awal dari Amazing Journey yang menguras emosi dan fisik mirip The Amazing Race.
Berikut ini catatan “ringkasnya”.

13 November 2006
Aku dan Ma ke Jakarta pake Garuda penerbangan jam 11. Di Jakarta dijemput Nyo dan Wik langsung ke toko buku mandarin di Glodok, trus makan di Plaza Semanggi dan ke Dapur Coklat di Menteng. Tadinya mau nginep di apartemen Ay di Semanggi, tapi ga jadi karena ada tamu, so kami memutuskan nginep Ibis Tamarin.
Malamnya makan di Plaza Indonesia. Beli coklat yang 100 gramnya 85 ribu di toko (namanya lupa).
Di Kinokuniya dapet buku2 tentang coklat.
Nyo dan Wik balik apartemen.

14 November 2006
Sesudah sarapan langsung check out dan ke RS Jantung Harapan Kita
Berhubung dokter Aulia Sani sedang cuti, Ma ditangani oleh Prof. Dr. Harmani. Setelah melihat hasil EKG dan treadmill, beliau menyimpulkan ada penyempitan di pembuluh jantung Ma. Dr Harmani menyarankan endoskopi untuk mengetahui tingkat penyempitan. Awalnya Ma ga mau takut sakit, tapi dokter dan kami terus ngomong perlunya tindakan tersebut.
Sore itu Ma langsung masuk RS Mitra International Jatinegara.
Malam itu aku tidur di RS, Nyo dan Wik balik apartemen lagi.

15 November 2006
Pagi2 jam 5 suster sudah masuk minta mama menyiapkan diri untuk endoskopi. Mustinya dijadwalkan jam 9 pagi, tapi ternyata molor sampai jam 10.30.
Hasil endoskopi sangat buruk : 70%, 100%, 80% disarankan untuk ambil tindakan berupa pemasangan ring. Biayanya 140 juta. Alternatif lain operasi by pass biayanya 120 jt. ALAMAK!!
Papa datang dari Semarang…bikin ribet dengan tiket Adam Air-nya
Telp Titi susah banget dan ga bisa membantu. Jadi jengkel.
Malamnya dokter datang dan menegaskan pentingnya utk segera diambil tindakan. Karena kondisinya sangat riskan. Tapi mama tetap ga mau.
Ya sudah, aku ngomong dokter bahwa kami butuh waktu.
Rencana besok balik dari RS mau ke apartemen tapi ternyata masih ada mas Rudy.

16 November 2006
Sesudah beresin administrasi rumah sakit, dll, langsung cabut ke rumah Nyo di Cikarang. Seneng ketemu Moses dan Lia.
Makan siang di resto (lupa namanya) di Cikarang juga
Malamnya ke Hero…tapi mama jadi kecapean dan lehernya bengkak.
Malam itu aku putuskan besoknya balik ke Semarang. Telp ke Garuda, tiket ke Semarang tinggal 2, itu saja kelas yang mahal. Merem waelah! supaya mama bisa istirahat lebih baik.

17 November 2006
Pakai penerbangan Garuda, ke semarang jam 13.00
Di Airport di jemput papa trus langsung pulang ke Grand Marina
Sorenya ke toko buku [ài].
Titi sms dipromosikan jadi koordinator CC
Pulangnya mampir Hero…Ma malah beli 2 kantong gorengan!!! Ckckckck!
Tekanan darah Ma normal, tapi masih ga mau operasi.
Malamnya ngobrol sebentar sama Titi pake frenz papa.

18 November 2006
Pagi2 aku ajak mama ke pasar tiban dekat gate Grand Marina beli sayur mentah sekalian jalan2. Aku telp Wik supaya ke Semarang menemani mama, so aku bisa balik Solo.
Sementara kami bersaudara sepakat harus segera diambil tindakan, menunggu mama siap mental.

19 November 2006
Wik dijemput papa di airport. Aku balik pake joglosemar jam 12 siang. Di toko buku [ài]. , mama dan wik ketemu Ko Chea dan isterinya Ci Ninik. Mereka share pengalaman Ko Chea operasi bypass di KL, dan memberikan rekomendasi dokter dan RS.
Malamnya kami bersaudara : aku, Ay, Wik, Nyo dan Iwan ngobrol lewat telp. Kami sepakat berangkat ke KL. Aku dan Ma belum punya paspor harus segera ngurus.

20 November 2006
Di Solo aku beresin kerjaan. Toko2 juga kebetulan malah rame.
Kami bersaudara sepakat berangkat ke KL a.s.a.p. Paspor segera dibuat. Yang berangkat Ma, aku, Wik dan Irawan.
Titi ke Solo ngasih sweater hehe..

21 November 2006
Ay urus dokumen di Yogya, cari Malaysia Ringgit dan US dollar

22 November 2006
Ay bilang besok kudu ke yogya foto paspor.
Ketemu mas Wima yang bakal renovasi rumah.
Pesan2 untuk penanggung jawab di Solo sementara aku ga ada.
Gajian Karyawan hari ini diberesin.
to be continued...

Monday, September 18, 2006

p u l a n g

Baru jam 10 pagi, ketika kami tiba di Singapura. Suatu kesempatan luar biasa kalau kami sekeluarga besar bisa ke Singapura. Bahkan tante Ie-ie, adik mama yang biasanya paling males kalau diajak jalan2; kali ini tumben mau ikut.

Dari airport kami langsung menuju rumah teman papa. Mereka tinggal di sebuah bangunan berasitektur “peranakan” yang bagus banget.
Bentuknya rumah toko model kuno kayak di daerah Pasar Baru dan Senen di Jakarta. Bagian bawah mereka gunakan sebagai toko kelontong. Naik ke lantai 2 kudu lewat tangga kayu. Jadi ingat rumah kami di Solo jaman dulu.
Lantai 2 yang luas digunakan sebagai rumah tinggal yang terdiri dari beberapa kamar. Lantainya dari kayu yang licin karena usianya. Semua pintu kamar dilengkapi dengan korden kain putih berbunga cherry merah jambu. Dibagian depan ada balkon berlantai kayu yang lumayan luas. Balkon ini menghadap jalan yang ramai dengan pejalan kaki. Sayang kamar mandinya masih model kuno, sehingga kesannya agak jorok.
Papa yang mengenal rumah ini paling semangat mengajak kami berkeliling rumah.

Selesai menaruh tas dan koper serta melihat-lihat ruangan, kami sepakat pergi jalan2. Semua tampak happy dan santai. Tapi sebenarnya aku sangat cemas karena nanti aku kudu balik Indonesia pake pesawat jam 08.00 malam. Selama jalan2 dari satu mall ke mall lain aku bolak-balik liat jam.

Meski aku sudah berusaha ngecheck waktu, tapi tiba2 aku sadar sudah jam 6 sore. Aku langsung minta rombongan supaya balik, karena aku dan tante kudu siap2 ke airport dan pulang.

Sebenarnya agak males musti pulang ke Indonesia malam itu, lagipula kami akan mendarat di semarang jam 10 malam, trus masih kudu ke solo. Another 2,5 jam perjalanan darat. Tapi kata tante aku, “malam ini kudu jaga rumah”.

WAKS!!!
Ga tahu gimana, sampai rumah teman papa, sudah jam 07.00 malam. Aku jadi stress banget! Ga mungkin banget bisa ngejar pesawat. Kalau ngebut ke airport bisa ½ jam saja, pasti tiba di counter check-in sdh jam 19.45. Pasti udah closed. Kalaupun ada delay, pasti kudu berantem sama petugas check-in. Males banget musti berantem pake bahasa Inggris. Aku sudah mulai mengarang alasan kenapa late check-in.

Tapi aku kudu pulang! ada sesuatu di benak yang mengharuskan aku pulang.
Ketika menuruni tangga sambil bawa koper, aku sadar, dompet aku ga ada! HADUH!!
Melihat kehebohan aku, isteri teman papa cuma senyum dibalik kacamata berbingkai emasnya.
Aku lihat tante sudah nunggu dibawah. Aku berlari menuruni tangga sambil teriak, “simpenin dompet aku ya!”
Taksi juga sudah menunggu. Taksinya berwarna kuning.

Aku liat jam dinding sudah jam 19.27 !! Wadouuuww!!

Ga ngerti gimana aku kok malah balik naik ke lantai 2, di sana aku liat Moses (keponakan aku yang berusia 5 tahun) sedang mainan dompet aku.
Aku find out ternyata Moses punya kios di balkon berlantai kayu. Dan dia juga sedang berantem sama pemilik kios disebelahnya. Aku mikir, wah Moses kok galak.
Tiba-tiba terdengar suara azan. Anehnya aku yakin itu pasti azan subuh.

Wait!, wait!!

Moses keponakan berusia 5 tahun punya kios di balkon orang ?
Suara azan subuh jam 7.30 malam ?

Iya aku cuma bermimpi!! Dan terbangun karena mendengar azan subuh masjid sebelah.

Sekilas seperti mimpi biasa. Tapi 1 tahun ini aku sering bermimpi berthema sama : dalam sebuah perjalanan ke kota lain dan dikejar waktu kudu pulang dan menghadapi masalah; jalanan macet, ga nemu hotel tempat city check-in, kesasar, ketiduran, lupa liat jam, jalan ke airport ditutup utk bazaar, penjual tiketnya salah jadwal, kehabisan duit, kelamaan jalan di mall,….name it !

Biasanya mimpi-mimpi itu sangat detail dan bisa diingat selama beberapa hari.

Mungkin aku sudah mulai gila ya ?

Sejauh ini aku cuma cerita sama Titi yang selalu jadi paranoid tiap kali aku mimpi kayak gini. Dia kuatir aku “pulang” beneran alias dead. Hehe.

Aku sendiri masih menikmati hidup kok, meski kalau kudu mati juga ga takut.
Toh semua manusia akhirnya juga akan “pulang” alias dead. Yang penting kewajibannya terlaksana, kewajiban kepada sesama manusia, terutama kewajiban pada Tuhan.

Karena bukankah “pulang” itu ke rumah Tuhan, gimana coba kalau sampai Tuhan ngomel kita ga tanggung jawab; belum menyelesaikan tugas kemanusiaan kita, trus disuruh balik ke bumi.
Kalau bisa hidup lagi sih ga masalah, tapi kalau balik sebagai hantu trus ditangkep Tim Pemburu Hantu di TPI khan repot!
image peranakan shop-house diambil dari sini

Sunday, September 17, 2006

r o k o k

Kata orang sih : faktor utama seseorang menjadi perokok adalah pengaruh lingkungan.

Hampir semua orang di lingkungan kerja aku adalah perokok. Bahkan bapak dan 2 adik cowok adalah perokok.
Di kantor apalagi! Kalau sedang kerja lembur, kantor jadi penuh asap rokok. Sampai2 aku cemas ikut didakwa sebagai penyebab Malaysia butek karena asap.
Beberapa teman yang tadinya bukan perokok pun akhirnya ketularan. Alasannya macem2; ada yg bilang, ‘dari pada hanya jadi perokok pasif, sekalian jadi perokok aktif’. Ada lagi yang bilang, ‘sebagai pelengkap minum kopi’ (apa hubungannya coba!)

Tapi sampai sekarang aku tidak pernah jadi perokok. Pengen saja gak.
Itu pasti karena aku cowok yang tahan godaan. Huahaha…

Tapi soal tergoda sama Titi itu bukan karena lingkungan. Tapi karena "aku tahu yang aku mau" Kalau banyak yang bilang dia oke, mungkin itu kebetulan saja kok. Hehe…

Anak satu itu kadang bikin anyel karena beda frekwensi. Tapi biar sajalah; secara merokok juga pasti punya akibat sampingan. Hehe…

Thursday, September 14, 2006

catatan hari ini

Tadi pagi waktu bangun tidur langsung terpikir, “wah laper…makan apa ya?!” tapi langsung ingat hari ini jadwalnya puasa. Itu artinya cuma boleh nenggak 1 cangkir kopi trus stop makan + minum sampai jam 5 sore. Juga butuh waktu khusus berdoa utk segala urusan keluarga.
Padahal hari ini banyak banget kerjaan fisik dan urusan luar : ke bank; cari : fitting lampu, alumunium siku, ambil pesanan kaca; dan yang paling susah beberapa hari ini punya rencana ngamuk sama Pak Benny tentang suatu hal. Dan mbak Anna bilang Pak Benny hari ini mau menghadap. (eitzzz! menghadap! hehehe…..)

Sebenarnya ngamuknya gak bener2 karena marah, tapi karena berharap Pak Benny bisa “insaf” kalau diamuk pake gaya walang kekek. (hehe.he.. aku jadi geli sendiri)
Sudah disiapkan “pidato” formal yang dijamin bikin Pak Benny manggut2.

Ternyata hari ini lebih sibuk dibanding perkiraan, banyak tamu yang musti ditemui: dari urusan order sampai soal kontrak iklan radio, trus ada kiriman barang masuk. Puasa jadi ga kerasa, lapar sih gak, tapi hausnya terasa banget.

Tahu-2 sudah jam 5.20 pm.
Kebetulan Sugeng bilang mau beli es teh, aku bisa nitip teh manis panas. Sempat juga nyari tempat sepi di gudang dan ngomong sama Tuhan: ‘Terima kasih Tuhan sudah menyertai kehidupan keluarga kami (mama, papa. ay, wik, an, iwan, irawan, linda, paolin, moses, lia, johan, ie2, titi, dan the incoming nephew) sampai sejauh ini'

Akhirnya baru sempat makan waktu sampai di rumah jam 9 malam. Mama juga baru balik dari Semarang bawa ayam goreng. Enak banget..hehe iyalah! Secara belum makan seharian.
Kenyang makan, langsung ke warnet, chatting pake nick “laris jaya” mirip nama toko di depan warnet. Tapi ternyata malah ga laku dan jadi ngantuk.

Cuma sejam di warnet pulang dan bikin indomi; masih kenyang tapi mulutnya yg masih laper.
Selesai makan, coba telp Titi di hp frenz nya tapi gak aktif.

For the time being, teh panas yg aku bikin sebelum nulis sudah habis dan udah ngantuk lagi. Baru saja ada alert sms masuk. Mungkin dari Titi.

Ohya, sampai sekarang pak Benny gak muncul. Batal sudah rencana ngamuknya.
Moga2 besok dia muncul, secara besok aku gak puasa, ngamuknya bisa lebih semangat dan ekspresif.
Hehe…

emang puasa gak boleh ngamuk ? boleh kok! kalau sudah direncanakan jauh2 hari (kata satpam toko sebelah )

Monday, September 04, 2006

se uprit

Kalau memberi sesuatu kepada orang di Glodok, Jakarta; pasti penerimanya bilang, “kamsia”

Orang Jawa bilang, “matur nuwun
Orang Jerman bilang, “danke
Orang Jepang bilang, “arigato
Orang Inggris bilang, “thank you
Orang Taipei bilang, “xie xie

Tapi aku paling suka dengan bahasa Indonesia : “terima kasih

Karena pengucapnya menyatakan sudah menerima “kasih”. Bukankah suatu pemberian pasti disertai dengan “kasih” biar cuma se-uprit.

Ada lagi,
Kalau di bandara, pengumuman dengan bahasa inggris diawali dengan “attention please

Aku lebih suka bahasa indonesia: “perhatian
Ada kata “hati” di sana; orang yang memberikan “perhatian” memberikan hatinya
Meski juga cuma se-uprit.

Gitu gak sih ?