Pages

Sunday, July 10, 2016

PMQ - Surga Create-Preneurs

Konon Surga adalah tempatnya orang-orang baik.

Maka PMQ adalah salah satu surga bagi creativepreneurs yang okeh sangat!

PMQ singkatan dari Police Married Quarters di Hong Kong.
Awalnya memang berfungsi sebagai asrama bagi polisi yang sudah menikah.
Didirikan sejak tahun 1889
Namun sejak tahun 2014, kompleks yang terdiri dari dua bangunan ini dijadikan studio desain, tempat kursus kuliner, toko barang unik, kantor arsitek, dll
Pemerintah Hong Kong bertekad menjadikan PMQ sebagai panggung bagi pelaku kreatif dan memberikan pengalaman kreatif bagi pengunjungnya.
Tag-line nya : Home to Local Young Create-Preneurs

Terletak di daerah Sheung Wan.
Stasiun MTR terdekat adalah Sheung Wan.
Ke PMQ bulan Januari 2016 kemarin. Sengaja turun di stasiun Central, karena pengen ke LKF (Lan Kwai Fong) dulu.
Dari stasiun Central, keluar dari pintu D1, ketemu Peddler Street, nongkrong heboh di Lan Kwai Fong sejenak, trus menyusuri Hollywood Road di daerah Soho.
Dari stasiun Central sekitar 900 meter-an sampai ke PMQ.

Waktu itu sekitar jam 1900. Di Hong Kong ini masih sore banget.
Meskipun semua masih buka; tapi suasana-nya rada sepi agaknya karena suhu udara yang rendah; sekitar 16 derajad C.

PMQ terdiri dari dua bangunan: blok Hollywood dan blok Stauton. Ditengahnya ada ruang terbuka yang biasanya di gunakan sebagai tempat pameran, live music, instalasi seni, bazar, dll.

Bentuk awalnya sebagai asrama masih dipertahankan: deretan hunian yang dihubungkan selasar.
Unit-unit hunian ini yang dijadikan toko, workhop, dll
Tidak ada zoning area berdasarkan fungsinya. Tapi di lantai atas, fungsi kantor lebih banyak.

Produk dan jasa yang ditawarkan keren. Tapi mahal sangat; bahkan untuk ukurang Hong Kong.
Sebuah totebag kecil dari kulit, harganya 3ribu HKD, approx IDR 5juta-an.

Blok Hollywood dari lantai 4 Blok Stauton - PMQ
Deretan hunian yang diubah menjadi toko-toko produk kreatif
Merchandise lucu, keren tapi mahal sangat
Ini toko roti untuk pengantin
Workshop kuliner - kayaknya bikin roti
Toko barang-barang dapur
Seacam kantor gitulah...

Di beberapa area, ada display piano-piano yang masih berfungsi dan di cat warna-warni.
Ini program #playmeimyours yang memberikan kesempatan pengunjung untuk "berkreatifitas" dengan memainkan piano.





Waktu itu iseng memainkan satu lagu favorit ketika dulu masih mengajar Sekolah Minggu :
kan ku-nyanyi Kemurahan Tuhan slamanya, akan ku nyanyikan
kan ku-nyanyi Kemurahan Tuhan slamanya, kan ku nyanyi Kemurahan Tuhan
mulutku, menyatakan kesetiaan Mu, kesetiaan Mu
mulutku, menyatakan kesetiaan Mu trus turun temurun
kan kunyanyi Kemurahan Tuhan slamanya, kan kunyanyi kemurahan Tuhan.

Sudah lama sekali gak main piano. Ternyata masih lancar mengetuk tuts piano.
Senang sangat! :)

Gak pengen buka outlet MicaWork di sini.
Tapi seandainya masih jadi arsitek; punya kantor di sini pasti rasanya kayak di surga beneran. Hahaha :D


catatan : dua foto pertama di atas diambil dari sini. 

Tuesday, May 10, 2016

Siapakah Saya ?

Bulan Februari yang lalu,  ikut pelatihan tata cara ekspor yang diadakan PPEI di Jakarta. 
Beberapa peserta di pelatihan itu kemudian menjadi teman. 
Salah satunya adalah Fina, seorang auditor yang sedang mengembangkan produk tas kanvas nya.

Dalam satu kesempatan, Fina bilang: 

Pau, dulu pas pertama di kelas; aku pikir kamu tuh orangnya serius dan galak lho. Sampai aku mau tanya sesuatu saja takut. Ternyata kamu bisa santai dan guyon juga ya. Hehe.

Kemarin pas pameran di Hong Kong, hampir semua teman peserta pameran juga mengatakan hal yang sama. Bahkan ada satu orang dari kemenkop bilang: 

Pas liat foto pak Paulus, aku langsung mikir: orang ini pasti galak banget.

Iya, jawab Nanda. 
Aku saja sampai takut pas ketemu pertama. Padahal ternyata orangnya lucu, dan bisa jadi teman jalan yang seru.

Hahaha...

Nggak ngerti kenapa orang lain selalu menilai aku serius dan galak. 
Sering mendapati teman yang baru kenal, bicaranya sangat dijaga. Mungkin dipikirnya kalau salah ngomong, kepalanya langsung aku caplok.

...mangkanya!...jangan judge a book by it’s cover,  kata satu teman peserta pameran lagi.

Weleh..ini kok malah jadi dipikir aku semacam buku ber-cover.

Trus kira-kira buku apa? Resep masakan, teenlit, atau stensilan.

Huhuhu.....

Aku yakin selain dinilai galak; pasti ada atribut lain yang ditempelkan ke citra seorang Paulus Phoek. Entah pelit, rajin, malas, membosankan, entah apa lagi.

Yang kemungkinan besar juga bukan yang sebenarnya.

Sebaliknya bisa jadi sebenarnya aku memang seseorang yang galak. 
Kalaupun sekarang masih haha-hihi mungkin karena belum nyalain sumbu nya saja. Hehe.

Jika teman-teman baru ini saat ini bilang: 'senang bisa kenal Paulus';  apakah mereka benar-benar sudah mengenal Paulus yang sebenarnya.

Sebaliknya juga: apakah aku benar sudah mengenal citra sejati teman-teman ini ?

Do we ever really likes a person or just with our idea of who (s)he is?




Salah satu peserta pameran di Hongkong  kemarin: mb. Ayu, pengusaha handicraft dari Bali.
Pengetahuan dan pengalaman ekspornya sudah tingkat raja-nya dewa.  

Bayangkan saja: dia pernah ikut pendidikan khusus tentang ekspor-impor dan buyer management  1 tahun di Singapur, dan 2 tahun di US.
Selain sebagai pebisnis, mb. Ayu juga sering jadi narasumber di pelatihan-pelatihan bisnis dan ekspor-impor.

Waktu aku minta diajarin soal ekspor, dia jawab:

 Ekspor itu gampang!

Mas Paulus punya kendala ekspor; saya akan bantu. Tapi sebelumnya penting untuk kita tahu : “Siapa Saya”.

Siapa mas Paulus, hanya mas Paulus yg bisa jawab. Kemampuan, semangat, cita-cita, idealisme...
Dari sana baru kita akan berbicara pengembangan bisnis MicaWork; ekspor nya, dll.

Kalau kita sudah tahu “siapa saya”, nanti semua masalah dan kendala bisnis akan terpecahkan sendiri kok.


Aku disuruh bikin analisa SWOT pribadi dan usaha.

Kita bahas bersama. Katanya lagi

Selama pameran kemarin; kalau ada waktu senggang mb. Ayu banyak bercerita tentang kasus-kasus yang pernah dia hadapi; pengalaman kerja dan bisnisnya; jatuh bangun bisnisnya; pengalaman rugi ratusan juta dan bangkrut karena ekspor; dll

Mb. Ayu juga mereview harga produk MicaWork yang aku pamerkan.

Rasanya beruntung banget ikut pameran di Hong Kong ini: bisa test pasar, dapat buyer, dapat duit penjualan retail, branding MicaWork di Hongkong; juga mendapatkan mentor yang sangat okeh.



Mangkanya seneng banget pas 5 hari yang lalu mb. Ayu telpon  mau nginap dua malam di Solo. Dia mau ke Blora kulakan kayu jati

Selama di Solo,aku menemaninya sambil terus dapat kuliah tentang bisnis dan menggali  “siapa saya” melalui cerita-cerita pengalaman hidupnya.


Tercerahkan banget!

Caranya bercerita bagus, nggak menggurui. 
Tapi bisa bikin aku berefleksi : bagaimana aku harus mengembangkan bisnis MicaWork; membangun platform usaha yang sebenarnya sudah aku gagas 5 tahun yang lalu.

Satu hal prinsip yang aku tangkap adalah aspek sipritualitas dalam kehidupan kita.

Mb. Ayu, yang penganut Hindu ini banyak bercerita tentang peranan ketaatan religius dalam kehidupan bisnisnya.

Jadi menarik sekali, karena penerapan agama Hindu bagi orang Bali sangat kaya dengan budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Hari itu sebelum mengantarnya ke bandara; aku ajak mb. Ayu menemui seorang kenalan: sebut saja Pak Budi, seorang kontraktor,  pengusaha mebel, dll yang lumayan terkenal bahkan di skala internasional.

Salah satu karyanya adalah kompleks bangunan kantornya yang dibangun dari material sisa-sisa limbah proyek: potongan besi dan kayu yang oleh orang lain sudah dijadikan sampah.
Orang-orang di dunia desain Indonesia pasti pernah mendengar/baca/ atau bahkan melihat langsung bangunan ini.

Terakhir kali bertemu Pak Budi dan mengunjungi kantornya mungkin 2 tahun yang lalu. Rasanya kagum dengan bangunan yang diciptakannya. Suasananya megah dan teduh.

Tapi ketika kemarin sampai disana, rasanya kaget; ada rasa yang beda. 
Suasana di dalam dan diluar bangunan terasa suram dan kumuh. Gak terawat baik. Padahal nampak pembangunan-pembangunan baru di sayap kanan-kiri bangunan.

Kami sempat ngobrol lama dengan pak Budi yang kembali bercerita dengan sangat bangga tentang bangunan kantornya yang dibangun dengan “sampah”.

Aku simpan dalam hati saja : kesan bangunan dan lingkungan yang meredup tadi.

Ketika akhirnya kami pulang; dipintu pagar; mb. Ayu menunjuk sebatang pohon banyan, dan berkata, 

mas Paulus; coba lihat ya, dalam waktu tidak lama usaha pak Budi ini akan menghadapi masalah. Pohon banyan ini menyerap energi bangunan dan aktifitas di sini.
Rasakan saja aura bangunan yang sangat redup.


Mb. Ayu kemudian menjelaskan bagaimana budaya Bali; aturan membangun rumah : Hasta Kosala Kosali yang misalnya mengatur jenis bahan bangunan yang dipakai membangun rumah.

Nampaknya kombinasi pohon banyan dan bangunan berbahan “sampah” tadi sangat buruk dan bahkan mengundang mahluk “gak jelas”. Bikin bangunan dihuni mahluk gaib.

Sopir mobil taksi yang mendengar pembicaraan kami; membenarkan.

Iya mas. Yang dikatakan mbak-nya benar.  Tadi saya di depan ngobrol dengan satpam, katanya sisi belakang yang difungsikan sebagai kantor sangat angker. Gak ada yang berani masuk sana kalau sudah malam. Padahal dulu gak seperti itu.

Wew!

Dengan nada guyon; aku tanyakan, mb. Ayu, 

Terus apa yang harus dilakukan pak Budi agar terhindar dari masalah ini?

Ya, bangunan itu harus diobohkan diganti dengan bangunan yang baik.
Masalahnya, bangunan itulah yang menjadi kebanggaan terbesarnya saat ini. Jawab mb. Ayu.

Setelah menurunkan mb. Ayu di bandara; dengan ditambah situasi pak Budi aku jadi mikir panjaaannnnng...

tentang “siapa saya”

tentang kebanggan-kebanggan yang aku miliki dan perjuangkan.

tentang nilai-nilai kehidupan yang saya terapkan

Benarkah ini saya yang sebenarnya?

Seperti pak Budi tadi; bangunan kebanggaanya justru adalah sumber bencana yang sedang mengintainya.

Jadi,

Siapakah Saya ?



Thursday, December 24, 2015

Meraih Impian

Tanggal 25 November kemarin, ke Singapur untuk menemui 2 orang calon buyer.
Berangkat dari Jakarta, sekalian menemani mama ke Jakarta.

Naik Lion Air jam 06.15 sampai di Changi jam 09.00 naik taksi ke daerah Marine Parade.
Beres ngobrol dari sana trus ke Orchard menemui buyer satunya lagi.

Jam 3 sore sudah beres, aku  muter2 di Orchard Road dan Rafless City.

Ke Singapur udah kayak dari Solo ke Jakarta urusan gawean. Blas gak ada rasa “piknik” nya.
Tapi rasanya menyenangkan bisa keluar negeri bukan untuk plesir tapi urusan MicaWork.
Jadi seperti seekor ikan yang nyemplung ke laut dan menemukan habitatnya. 
Seneng banget. 
Aku banget!
Ini duniaku yang sebenarnya! Hehe.
Ga pernah terbayangkan urusan MicaWork bisa bikin aku ke Singapur menemui calon buyer.


Hari itu juga pulang ke Jakarta dengan penerbangan terakhir AirAsia jam 20.55

Rasanya okeh hidup kayak gitu: bolak-balik  Singapore atau negara lain untuk urusan MicaWork. Haha...

Januari besok sudah punya tiket JOG-KUL-HKG untuk nonton pameran Toys dan Stationery.
Pameran toys terbesar di kawasan Asia, nomer dua di dunia.
Tujuannya bukan nyari ide desain, tapi lebih ngisi batere semangat berkreasi; karena kesibukan akhir-akhir ini rasanya lebih banyak urusan rutin: produksi, marketing, motret, semacam itulah.

Kali ini pergi sendiri lagi. Mama ga mau ikut.

Hongkong, Januari dingin banget.
Gak ada yang diliat. Males” katanya.

Berangkat dari Yogya tgl 11 sore, tanggal 14 siang sudah sampai Yogya lagi.
Di Hongkong hanya semalam. 
Rencana hanya liat pameran saja dan kalau sempat ke Sam Shui Po : pusat tekstil, kulit dan perlengkapan industri lainnya.

Malamnya pengen ke ke daerah Soho atau Lan Kwai Fong. Area hype untuk nongkrong dengan teman.

Sebenarnya (setidaknya sampai saat ini) ga terlalu suka Hongkong. Karena terlalu “kota” banget.

Tapi semoga suatu saat bisa pameran di Hongkong dan membangun bisnis disana. Huhu!

MicaWork adalah cerita tentang sebuah perjalanan panjang.
Kalau diwadahi pakai ember; keringat dan airmata yang terkumpul bisa untuk usaha laundry. Haha.

Apapun pencapaian MicaWork saat ini, masih lebih panjang jalan yang harus di tempuh.


Seminggu yang lalu, gak sengaja klik lagu mandarin di youtube. 
Sebenarnya ga suka lagu mandarin, tapi waktu itu dengerin sampai selesai. Iringan piano nya bagus.

Trus 2 hari yang lalu, lagu itu muncul lagi di beranda youtube.
Aku klik lagi.

Re-play 2 kali.
Lagunya nyantol banget.
Ternyata itu sound track sebuah web-seri di youtube. Ada 6 episode.

Kisah nyata tentang seseorang bernama  Zheng Xi, yang punya impian menjadi pembuat film, dan ingin meraih impian itu bersama seseorang bernama Tao Ye.
Awalnya memang Tao Ye memberi harapan dan membalas rasa Zheng Xi.

Namun kemudian Tao Ye justru memilih orang lain dan terus  mengecewakan Sheng Xi.

Hingga suatu malam Tao Ye menyelinap ke kamar Shen Xi dan bersebadan dengan orang lain.
Tao Ye mengira Shen Xi sudah tidur, padahal Shen Xi menggigit bibir hingga berdarah agar suara tangisnya tidak pecah.

Akhirnya Sheng Xi memilih untuk melupakan Tao Ye; tapi tidak impiannya.
Justru makin terpacu untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi pembuat film yang hebat.

Ketika habis liat web-series itu, rasanya biasa saja.
Tapi dua hari ini tiba-tiba merasakan racunnya.


Jadi ingat cerita lalu.


MicaWork juga berawal dari sebuah impian yang ingin aku raih bersama seseorang.
Berbagi impian ini dengannya.


Tapi mirip dengan kisah Shen Xi, akhirnya aku harus melakukan pilihan,
Aku memutuskan pergi.

Malam itu di depan rumah tempat dia tinggal; aku berkata : meski aku hanya punya satu sayap pun, aku akan tetap berusaha meraih impian itu.
Sedih? Kecewa?

BANGET!!

Tapi hidup terus berjalan maju, dan aku masih bertahan meraih impian itu.
Menerima peristiwa lalu sebagai cerita dan pelajaran hidup.
Justru aku bersyukur bisa mengenalnya dan pernah dekat selama beberapa saat.

Seperti kata Shen Xi di akhir film, dunia ini luas sekali; di tengah riuhnya ramai kehidupan, betapa beruntungnya aku bisa bisa bertemu dan mengenalmu.

Lirik lagunya, kira2 demikian:

Dia, yang dulu meraih erat tanganku tapi akhirnya melepaskannya

Dia, yang pernah mengucap janji, namun hanya berakhir sebagai kebohongan.

Meski akhirnya dia tidak menjadi milikku; tapi aku tidak menyesalinya.

Hari-hari kemarin indah karena bisa bersamanya.

Mungkin itu hanya illusi, namun aku tidak menyesalinya.

Karena mengenalmu adalah satu hal terindah di hidupku.

Terima kasih sudah pernah ada di hidupku.

Terima kasih sudah menjadi bagian ceritaku.





Tuesday, October 27, 2015

MicaWork Go BIG+BIH Thailand

Sudah lama pengen ke Bangkok International Gift Fair &Bangkok International Housewares Fair (BIG+BIH); pameran produk kreatif ternama di Bangkok.
Konon pameran ini yang menjadi inspirasi dan acuan pameran Inacraft di Indonesia.

Jadi pas kemarin MicaWork lolos kurasi Kementerian Koperasi trus diajak kesana rasanya surpraizzz banget. 
Tapi grogi juga, lha wong menurutku Bangkok itu khan Bandung-nya dunia; Kiblatnya kreatifitas.  Tiap kali ke Bangkok selalu dibuat nganga dengan craft dan  desain produk unik dan kreatif disana. 
Aku mikir: apa ya produk MicaWork sudah pantas mewakili Indonesia.
Apalagi ini event International, bukan kelas bazar umum atau event KBRI.


Waktu persiapan mepet, karena habis pameran Crafina juga.
Aku tentukan thema pameran ini "travelling", jadi hanya bawa bantal leher, sampul paspor, sleepmask, topi, totebag, semacam itulah.

Berangkat tanggal 18 Oktober dari Jakarta naik flight pertama AirAsia jam 06.55.
Sendirian. 
Mama ga mau ikut, Wik dan Nyo juga sedang banyak gawean.

Sepanjang jalan aku terus berdoa semoga ga nemu masalah dengan bea cukai di Dong Muang.
Intinya begini : tiap kita membawa barang masuk ke negara lain (bukan utk dipakai pribadi), meskipun hanya satu buah barang, prinsipnya itu adalah ekspor. Jadi harus memenuhi prosedur ekspor umum. Apalagi jika ini berkaitan dengan pameran, dll.

Meskipun sudah dilengkapi dokumen2 : packing list, keterangan bea cukai Indonesia, pengantar dari kementerian koperasi, jaminan dari KBRI setempat, dll; konon kadang2 saja nemu masalah di bea cukai negara tujuan.
Masalahnya adalah: mustinya barang-barang tersebut  hanya untukk pameran, tidak boleh dijual. Harus dibawa balik ke negara asal.
Tapi prakteknya selalu dijual, sehingga seharusnya ada bea masuk, dll.
Apalagi jika ada barang-barang yg termasuk dalam daftar LarTas (larangan terbatas) ekspor-impor.

Terakhir MicaWork pameran di KL juga sempat ditahan oleh bea cukai. Saat itu yg ditahan rombongan dari Indonesia. Ada anggota rombongan kami yg bawa kain batik. Padahal itu dilarang masuk Malaysia.

Untung ada ibu Dewi dari asosiasi yg bisa "ngobrol" dengan org bea cukai, sehingga akhirnya kami dilepas. Fiuuhh! Bikin senewen banget. Rasanya udah kayak jadi penyelundup obat terlarang.


Karena kuatir masalah bea cukai itulah, kali ini hanya bawa 3 koper barang. Agar ga terlalu menyolok.
Sampai Dong Muang jam 10.10.
Pas ambil bagasi jantung dagdigdug ga karuan. 
Aku berharap bisa keluar bareng rombongan orang lain, agar petugas gak fokus liat oom-oom bawa 3 koper gendut, dan 2 ransel chubby.

Lha kok gak ada!!!

Kebanyakan perorangan atau pasangan dengan bawaan seuprit.

Mau gak mau kudu keluar khan; mosok mau balik Indonesia lagi.

Aku jalan keluar lewat green-lane. Trolley aku cengkeram kuat-kuat.
Dibalik dinding yang membatasi area pengambilan bagasi dan custom:

CILUK BA!

Ga ada petugas sama sekali! Mesin x-ray dimatikan dan suasana lengang.

Segera aku keluar.

Doooh lega PUOLLL!!
Haha...

Dari Dong Muang, naik taksi ke lokasi venue : BITEC didaerah Bangna, utk display booth. 
Naik taksi + toll habis THB 400.
Sampai di lokasi sdh ada beberapa org dari Indonesia peserta pameran.
Setelah kenalan, topik pembicaraan adalah : pengalaman menembus bea cukai. Haha.

Sekitar jam 3 sore, ada Prim: org Thailand yang jadi liaison dari KBRI, lari-lari nyariin mb. Yessi dari Kementerian sambil cerita : ada 4 peserta dari Indonesia yang sedang ditahan bea cukai bandara Suvarnabhumi. Dor!
Kami yg tadinya sibuk display stand masing2 langsung geger dan ikut senewen, kembali ngobrol masalah bea cukai.

Dengar-dengar, akhirnya ada staf KBRI yang ke bandara menyelesaikan masalah itu, dan peserta disuruh bayar (kalau ga salah dengar) masing2 THB 4ribu. Dueng!.

Sesuai dugaanku pameran BIG+BIH ini besar dan kuerennnn banget!!
Banyak sekali peserta pameran perorangan muda usia yang menampilkan produk-produk yg bikin nganga. 
Banyak sekali produk yg inovatif. Packing dan konsep brandingnya kelas dunia.
Dsiplaynya juga bikin minder.
Sementara Indonesian Pavillion biasa saja. 
Rasanya  bikin makin ga pede.




Pameran berlangsung 5 hari; dari tanggal 18-23 Oktober.
3 hari pertama khusus utk buyer. Jadi pengunjungnya adalah orang2 dari perusahaan yang akan memesan utk dijual lagi.
Buyer dari seluruh dunia.
Yang mampir ke booth MicaWork banyak juga. Ada yg dari Amerika, Mesir, Singapur, Jepang, Karibia, dll.
Mereka bilang produk MicaWork unik dan minta di berikan penawaran.
Senengnya: mereka bisa mengenali bahwa MicaWork adalah produk handmade.
Ada yg bolak-balik datang ke booth dan tanya-tanya, ada yg sekali datang trus langsung menugaskan agennnya untuk follow up, ada yg juga langsung email dari kantor pusat, menyatakan keseriusan mereka.
Bangga banget bisa bilang: "...this made in Indonesia"


Tinggal sekarang aku bisa atau tidak follow up.
Kirim barang alias ekspor itu khan ga se-sepele kirim  barang via JNE. 
Butuh kelengkapan legalitas, perhitungan harga, disiplin produksi, kreatifitas untuk pengembangan produk, dll.

Bp. Lutfi Rauf : Duta Besar RI untuk Thailand, mampir di booth MicaWork


Bp. Bebep Djundjunan Perutusan Tetap KBRI di Thailand. Promosi buku PLUSH. 
Jadi ingat hutang jalan-jalan ke Bangkok sama mas Fachmy :p


Menurut peserta lain yang sudah pengalaman pameran; respon buyer untuk booh MicaWork pertanda baik.
Karena biasanya buyer tidak akan menjalin kontak bisnis dengan peserta yg baru pameran pertama kali.
Mereka akan menilai keseriusan sebuah perusahaan setelah sebuah brand ikut pameran beberapa kali.


Selama trade show 3 hari ini, pameran hanya sampai jam 6 sore. Peserta juga dilarang jual produknya.
Jadi, suasana relatif sepi. Bagi peserta dan buyer akan lebih nyaman dengan situasi ini karena  gak terganggu keriuhan pengunjung.
Tapi bagi peserta pameran yg terbiasa pameran di Indonesia dan mengharapkan penjualan: bakal stress karena ga ada penjualan.

Ada peserta dari Korea yang kebingungan kenapa pengunjung sangat sedikit. Haha.

Kami hanya boleh menjual di public day, pameran utk umum: di 2 hari terakhir.
Dan memang  dua hari tersebut pengunjung sangat ramai. Bahkan sebelum event dibuka sudah antri di depan pintu masuk.
Pameran buka jam 1000 sampai jam 2100

Respon konsumen untuk produk MicaWork juga sangat baik.
Beda dengan buyer yg ngomong seperlunya, dan menunjukkan apresiasi/minat dengan permintaan follow up setelah pameran; konsumen umum lebih menunjukkan apresiasi melalui pujian, dan pembelian.
Mereka juga bisa mengenali MicaWork produk handmade.
Banyak yang bilang beda dengan produk yg ada di Thailand.

Aku menemukan ada satu booth yg menjual bantal leher, tapi model dan desainnya biasa saja. Ada lagi yg jual bantal leher yg isinya buckwheat, semacam kulit gandum gitu.

Hari kedua public day; sekitar jam 12 siang, bantal leher sudah terjual semua hanya sisa 1 buah.
Beberapa barang lain juga terjual habis.
Jam 4 sore, aku sudah beres-beres.  Dari 3 koper hanya sisa setengah koper


Selama pameran ini, ada beberapa tawaran ikut pameran skala lokal juga.

Rencana hari terakhir pameran ini pindah penginapan ke daerah Siam Square. Jadi paginya sudah check out dari hostel tempat menginap dan ransel aku bawa ke pameran.

Aku kuatir kalau terlalu malam, rebutan taksi dengan pengunjung dan peserta lain padahal kudu bawa 3 koper dan 2 ransel. Gak mungkin naik BTS atau MRT khan.
Jadi sekitar jam 5 sore aku cabut dari pameran dulu.

Rasanya masih percaya-gak percaya dengan kesempatan yang Tuhan berikan : bisa ikut pameran keren di Bangkok dan produk MicaWork diterima pasar. 
Memang kalau Tuhan sudah menyediakan rumahnya, Tuhan juga akan mnyediakan isinya.

Pas pamitan dengan mb. Yessy dan teman-teman kementerian; mereka tanya, “Pak, tahun depan ikut pameran Tokyo Gift, mau gak ?”
Duh! Aku khan jadi trus piyeeeeee.... gitu ! (*njaluk dikeplak)

Hahahahaha...




Monday, September 21, 2015

BaPer In Style

Hongkong Trade Development Council (HKTDC) adalah lembaga yang mempromosikan bisnis Hongkong melalui event-event yang mempertemukan produsen barang dan jasa, konsumen, serta elemen2 pendukung : desainer, ahli legal, akuntan, dll.

Tgl 17-19 September kemarin mereka mengadakan promosi dagang di Jakarta berupa pameran produk-produk unggulan UKM dari Hongkong dan produk-produk yang mendapakan penghargaan atas inovasi dan desainnya.
Jenis produknya cukup beragam: fashion, toys, elektronik, furnitur, mobile app, dll.
Khusus tanggal 17 ada beberapa sesi simposium.

Ketika registrasi secara online, aku tidak menduga event ini ternyata sangat keren. Selain barang yang dipamerkan sangat inspiratif, materi simposium juga mencerahkan.

Tema simposium pertama/pembuka: mempromosikan Hongkong sebagai pusat bisnis di Asia: modern, efisien, mudah diakses, dan aspek regulasi yang sangat mendukung; serta sebagai pintu masuk pasar China dan global.


Simposium kedua : “Latest Trend in Digital Marketing and E-Commerce”
Ada 3 pembicara. Pembicara pertama yang paling menarik : Jason Chiu yang menyampaikan transformasi perdagangan “tradisional” ke “E-Commerce”, dan saat ini sudah menjadi “Social-Commerce”
Adalagi fenomena showrooming dan webrooming, pentingnya aspek “experience” bagi konsumen.
Konsep 020 : online to offline; bagaimana online shop membutuhkan keberadaan industri offline.
Masih banyak lagi.


Simposium ketiga, “Creativity in Business: Dialog with Design Experts”
Ada 3 pembicara: brand consultant, perancang busana, dan arsitek.
Pembicara kedua: Elmer Ho yang paling menarik. Dia adalah kepala perancang busana beberapa merk utama. Salah satunya Ceruti.
Elmer Ho menjelaskan bagaimana seorang perancang harus melakukan riset, menentukan trend, dll dan yang terutama menjaga “brand DNA”

Nampak sekali event ini sangat matang dirancang; memiliki kesatuan utuh antara materi simposium dan produk yg dipamerkan.
Juga ada event-event pendukung lain : gala dinner, promo wisata di Grand Indonesia dll.

Bagi setiap peserta yang mendaftar online dan diketahui berasal dari luar kota; disediakan pengganti trasnport.
Aku cukup menunjukkan KTP, kartu nama, email konfirmasi, dan 3 kartu nama peserta pameran; memperoleh amplop berisi Rp 1.500.000.

Selain itu, dengan mengikuti  tiga simposium; mendapatkan souvenir USB dan kesempatan memenangkan tiket PP ke Hongkong.

Baru kali ini aku nonton pameran, ikut simposium, trus dapat duit.



------------------------------

Hari kedua di Jakarta, aku antar mama check kesehatan.
Pulangnya kluyuran sendiri  di Pasarbaru.
Nemu satu toko kain khusus katun dan linen dari Jepang;  persis yang pernah aku Adah, dan Icha beli di Singapur.
Pilihannya jauh lebih banyak: tokonya dua lantai memanjang.
Harganya juga lebih murah.

Aku jadi kayak kuda lumping baper. 


---------------------------------

Hari ketiga, janjian dengan mb. Septi; editor penerbit Puspa Swara.
Rencananya  kami ingin menyusun buku cara pembuatan perlengkapan travelling: bantal leher, tas, sampul paspor, dll.
Judulnya semacam : “handmade traveller”, atau  “crafter traveler” atau sejenisnya.

Kami membicarakan konsep isi, lay out, dll .

Jadi terbayang dengan editor pertama: mas Fachmy. Huhu...

Aku bercerita tentang teman-teman crafting di Solo. Pas nyebut “IloveCha”. Mb. Septi langsung ingat Icha.

Sebenarnya kami sudah lama ingin mb. Icha nulis buku; sejak produknya masih tas, boneka, dll. Sampai ketika produknya beralih ke sepatu. Tapi tidak ada kelanjutannya.

Aku jawab : Icha memang masih belum stabil dan fokus ngurusin aspek bisnis IloveCha.

Aslinya dia bukan orang yang kurang inisiatif, bahkan cenderung keras kepala, kataku lagi.

Iya, dari interaksi kami dulu, kayaknya mb. Icha orangnya cukup aktif kok.
Kalau sampai sekarang belum beres, semoga bukan karena mb. Icha tidak enak hati karena ada bagian  naskah yang waktu itu saya minta diperbaiki. Kata mb. Septi.

Kayaknya bukan. Tapi menurut saya karena Icha masih belum fokus saja. Jawab saya.

Titip salam saja utk Mb. Icha. Semoga dia masih berkenan meneruskan proyek buku yang dulu. Karena kami belum pernah menerbitkan buku tentang sepatu handmade. Kata mb. Septi lagi.

Trus aku menunjukkan foto kami berlima;

Kalau ini Adah, adik Icha yang suka masak.

Ini Mas Fahmi, editor buku PLUSH saya. Dia editor dan penulis keren juga; yang memprakarsai komunitas Tangan Grathil, , sekaligus tukang potret rombongan travelling kami.

 Aku cerita soal Tangan Grathil yang saat ini masih mati suri.


Trus ini mas B. Yang akan mendorong Icha serius menangani IloveCha.
Hahaha...

Mb. Septi pengen produk yang difoto dengan peraga.
Jadi misalnya, bantal leher difoto ketika  dipakai, dll.

Aku langsung membayangkan komunitas Solovely Traveller jalan ke Bangkok untuk foto-foto peragaan produk.


Sedetik kemudian aku langsung baper. hahaha...

.