Pages

Wednesday, December 31, 2008

Syafaat Syukur 2008


Bapa di Surga, Allah yang kami sembah dalam nama Yesus Kristus,

Terima kasih untuk tahun yang sebentar lagi akan berlalu.
Sungguh tahun yang berat; banyak kepahitan terjadi, banyak hal yang hilang dalam tahun ini.
Banyak peristiwa pahit yang juga terjadi di dunia. Namun pada akhirnya, aku tetap melihat bahwa sebenarnya Engkau tidak pernah meninggalkanku sepanjang tahun ini.

Syukur untuk semua permasalahan dan kepahitan yang pasti berguna untuk membentukku agar makin layak di hadapan-Mu.

Syukur untuk semua ujian kehidupan yang telah berlalu, dan biarlah itu me-Muliakan nama Mu

Saat ini, aku ingin mengucap puji dan syukur untuk kesehatan, usia panjang, damai sejahtera, kecukupan, kekuatan serta pemeliharan-Mu kepada :
Orang Tua yang masih menjagai : Mama dan Papa
Adik-adik yang setia : Ay, Wik, Nyo, Iwan, Irawan, Linda, Paolien
Keponakan2 yang pintar dan penuh kasih : Moses, Lia, Johan, Mika
Garwa (yang sedang jauh *sigh): Titi a.k.a KIP
Tante Ie-ie.
Biarlah segala hal indah hanya ditujukan untuk Kemuliaan Nama-Mu.

Aku juga sungguh bersyukur untuk Ridho, Didid, Rinda, Asih. Mereka tidak pantas disebut teman, karena mereka tidak hanya menjadi sahabat setia ketika hari hujan; namun sudah memberikan hati dan kasih mereka dalam setiap situasi, menjadi malaikat penjaga yang sudah Kau kirim ketika langit runtuh.

Terima kasih juga untuk sahabat-sahabat yang menghangatkan hati : Darma, Wawan, Youssi, Arief, Didit juga si “adik kecil” : Charles yang pinter banget itu.

Syukur juga untuk unit-unit usaha yang sudah Kau percayakan; kecukupan makanan dan pakaian, serta rekan-rekan kerja dan kolega bisnis yang selama ini bekerja sama. Syukur untuk bisnis yang dapat bertahan hingga saat ini.

Syukur untuk setiap segi kehidupanku, serta kesempatan melihat betapa sungguh besar kasih dan penyertaan yang selalu Kau berikan. Tanpa Engkau, niscaya aku tidak akan dapat bertahan sampai hari ini.

Tuhan yang pengasih,
Sungguh malu dan mengecutkan hati bila mengingat setiap dosa dan kesalahanku sepanjang tahun ini; yang pasti mendukakan-Mu. Namun aku percaya hanya Engkau yang maha pengasih yang dapat memberi ampunan dan menebus kesalahan yang sudah aku lakukan.

Ampun Tuhan.

Ampuni anak-Mu ini.

Ampuni juga setiap kesalahan yang sudah dibuat oleh mama, papa, adik2, keponakan, Ieie, garwa, dan teman2. Biarlah hari demi hari Engkau mengubah kami agar makin layak di hadapan-Mu.

Syukur ya Allah.

Terpujilah Engkau Allah yang Esa, Allah penolong yang hidup, kini dan selamanya.

AMIN.

Wednesday, December 24, 2008

Agama kita sudah KALAH!!!

Ridho, farmakolog-santri-calon pemilik apotik adalah seorang teman mikir yang pintar dan enak diajak diskusi. Sementara aku even belum kelakon baca bukunya Karen Armstrong “Sejarah Tuhan” yang segendut bantal itu, Ridho sudah khatam dan bisa ngasih preview buku itu.

Diantara sms2 ga penting kami, kadang terjadi diskusi yang bisa bikin Socrates menangis mengakui kejeniusan kami berdua. (*ish! lebay!)

So, pada suatu siang yang ngantuk-in banget, kami uncal-uncalan sms kira2 kayak gini:

Ridho, sedang apa? TTM dimana? Eh, suka nonton Mario Teguh ga?

Ga, kenapa?TTM ga tahu dimana. Biarin aja. Aku sih sekarang cuek.

Aku cuma mikir; kenapa banyak orang suka nonton acara ini, bahkan tukang jaga malam aja pada suka. Bukankah apa yang disampaikan oleh mario teguh tentang being a shoulder to cry on, membangun pribadi super, dll….sama persis dengan apa yang dikoar-koarkan di kotbah jumat mesjid kamu dan kotbah hari minggu gereja aku, juga di tempat ibadah lain?
Trus kenapa orang masih merasa butuh meresap gagasan yang sama dari pembicara motivator kayak mario teguh, wiliam wongso (*eh william wongso itu tukang masak ding!), dll?
Kenapa bisnis “ketik reg blablabla kirim ke 9090” sangat profitable?
Apakah itu berarti agama sudah kalah?


Bukan kalah, agama sudah mati sejak dulu. Karena dengan kondisi sekarang manusia lebih memerlukan sesuatu yang seketika, sesuatu dengan konsep kekinian, sesuatu untuk berhadapan dengan intrik pergulatan kehidupan ‘saat ini’. Konsep sorga sudah dikalahkan urusan perut hari ini.
Mangkanya tokoh kayak Aa Gym, pdt Gilbert Lumoindong laku keras, karena mereka menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar : jualan obat2 warungan berupa solusi2 cespleng + seketika bagi situasi yang dihadapi umat saat ini. Sementara pendeta atau ustad yang mengkotbahkan pentingnya perilaku dalam konteks kehidupan hari esok apalagi after life dirasa tidak memuaskan, tidak kontekstual dan sudah kehilangan momentumnya.


Gitu ya.
Satu lagi; mengamati fenomena ini aku melihat menjangkitnya gerakan jaman baru : new age movement (NAM), terlihat dari adanya konsep mikro-makro (kosmos), kekuatan diri manusia, inner beauty, so on… Coba perhatikan bagaimana seolah2 setiap permasalahan dapat disandarkan pada wisdom seseorang manusia.
Di acara kayak gini aku kok jarang mendengar “Tuhan” dan istilah “penyerahan diri” disebut. Kalaupun Tuhan disebut, lebih sebagai pembenaran bagi pandangan yang disampaikan oleh si pembicara: seolah2 dengan pribadi yang ideal dan sistematika yang benar, kita memiliki kekuatan serta wewenang untuk mengatasi semua masalah.


Menurut aku bukan new age, khan disetiap agama ada saja aliran seperti itu. Di dalam Islam dikenal tasawuf, trus aku pernah baca ada ordo di dalam katholik yang juga seperti itu: karmel atau apa ya?; yang mengangkat kekuatan aspek spiritual sedemikian rupa sehingga peranan Tuhan diminimalisir dan bahkan ditiadakan. Tapi ga tahu ding.
Kok mas bisa bilang gitu?

Heh! Yo Bedalah! Kalau tasawuf (sama gak sih dengan sufi-isme?) dan ordo katholik yang kamu baca itu menurut aku lebih merupakan apresiasi agama pada tingkat filosofis, sementara dalam fenomena yang aku sebut tadi terasa banget new age nya: dilihat dari konsep adanya kekuatan yang ada didalam kita untuk mengatasi permasalahan kehidupan, tanpa perlu menggali dari mana asalnya. Menurut aku seharusnya ini yang jadi “musuh” bersama agama2 samawi: yahudi, kristen, islam. Dari pada saling memusuhi, harusnya sadar ada “musuh” bersama yang lebih mematikan.

Maksudnya ? Elaborate plis!

Agama2 samawi meski mempunyai dogma yang berbeda, setidaknya masih berorientasi pada Tuhan. Sementara Gerakan Jaman Baru alias NAM justru anti-tuhan. Ini lebih bahaya dari pornografi dan pornoaksi. Hehe..

Aku lupa waktu itu Ridho jawab apa. Atau malah ga jawab lagi ya? ikut anak2 dikampungnya main “sangkutan” layangan…

Kalau Islam memiliki konsep ekonomi Syariah, tentunya gerakan jaman baru juga ga mau kalah memiliki konsep dan model tersendiri.
Gerakan jaman baru sudah bertiwikrama kedalam banyak pola kehidupan praktis. Tidak saja dalam format ideologi politik dan ekonomi tapi juga dalam model praktis lainnya: etika bisnis, profesi, produk niaga, dll

Dalam sebuah pertemuan MLM atau pemasar produk2 tertentu, paling gampang diliat tingkat kepedean para marketer-nya yang luar biasa: sistematika, tekad dan kepercayaan diri adalah tuhan yang dapat membuat mereka mampu melibas semua tantangan dan menggenggam dunia.

Buku Seven Habits For Highly Effective People karya Stephen Covey, The Secrets, dll adalah kitab sucinya. Memang sih ayat2 Alkitab disebut-sebut, tapi kedudukannya sama dengan motto yang diucapkan oleh the founder institusi bisnis mereka.

Dalam iman kelompok ini, bisnis dan produk mereka adalah the one and only, kalau menolak kami: YOU’RE DEAD!!!
Modus dan “DNA mapping” yang amat mirip dengan eksklusifitas sebuah agama? I’d say so.

Trus apakah New age movement adalah “agama” yang mengalahkan agama ? ehm…nanti kapan2 aku ajak Ridho ngobrol lagi. Atau silahkan undang kami sebagai narasumber. Cukup tiket pesawat. Kelas bisnis is a must, hotel dengan bintang > 4, dan deklarasi (duit) rada banyak. Hihihi…..

Pendapat lain akan sangat dihargai…silahkan komentar, sanggah….
Keren khan kalau bisa sama-sama tambah pinter!


Beberapa hari kemudian aku sms Ridho:

Ridho, ada mario teguh di metro. Nonton ga?

Gak ah! Aku ga mau dituduh jadi agen runtuhnya agama.

Tapi aku suka kok, anggap saja nge-liat si Tio kalau besok sudah tua. Hehe…

Halah!!! Tetep baliknya kesitu-situ juga!

Catatan: bukan berarti saya anti Mario Teguh loh ya! Justru saya mengagumi intelektualitas dan keluwesan narasi beliau, melihatnya sebagai sebuah model penyampai gagasan yang baik.

Salam Super!!

........
Manusia separuh nyawa berhati mati.

Saturday, December 20, 2008

let there be peace on earth

14 hari ini jadi pengidap sado-masochist.
Ridho anak santri tapi males ngaji-setia kawan tapi males bikin minum-suka baca tapi bau matahari itu bilang, ‘bagus!!! enak ya menyiksa diri sendiri!’

Gak! Gak enak banget!
Rasanya benci banget pada diri sendiri. Dan yang paling parah ga bisa melepas emosi: menumpuk di dada. Jadi malah ga karuan kompensasinya.

Ada 1 lagu yang aku suka sejak dulu dan kemarin nemu di youtube.
Lagu ini menjadi salah satu 'theme song' pergerakan humanis internasional. Klik saja disini

Hehe… iya, aku kudu bisa berusaha berdamai mulai dengan diri sendiri. Aku kudu menyiapkan hati. Sebentar lagi Natal



Let there be peace on earth
And let it begin with me
Let there be peace on earth
The peace that was meant to be

With God as our Father
Brothers all are we
Let me walk with my brother
In perfect harmony.

Let peace begin with me
Let this be the moment now
With everystep I take
Let this be my solemn vow

To take each moment
And live each moment in peace
Eternally
Let there be peace on earth
And let it begin with me.


Iya!!!
....to take each moment,
and live each moment in peace, eternally........

tapi tetep saja cuma separuh nyawa dan berhati mati

Tuesday, December 02, 2008

..ketika langit dan bumi bersatu...

Akhir-akhir ini banyak peristiwa yang membuat aku marah.
Marah melihat beberapa harapan aku hanya menjadi mimpi masa lalu, marah dengan situasi ekonomi dunia, marah melihat aksi teror di Mumbai, marah dengan beberapa pekerjaan yang tidak tergarap dengan baik, marah dengan sikap beberapa orang; berpikir bahwa ketulusan dan kata ikhlas hanya kata2 kuno di kamus lapuk.

....

Tadi pagi sendirian di studio menyelesaikan packing bantal pesanan Mr Henry yang kudu dimuat kontainer besok pagi. Sambil kerja aku merutuk di dalam hati. Geram!
Ditengah-tengah lagu2 yang diputar diradio, ada sebuah sajak yang baru pertama kali aku dengar. Sajak Rendra.

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah.........keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika,
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku ,dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas perlakuan baikku, menolak keputusanNya sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah......

Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.

......

Aku menangis di dalam hati. Aku percaya Tuhan bekerja melalui banyak hal dan cara. Tuhan masih sayang aku.
Terima kasih Tuhan.