Pages

Sunday, December 19, 2010

Monday, November 29, 2010

Cakra Manggilingan

Dalam dunia wayang, ada satu senjata pusaka bernama Cakra Manggilingan. Senjata ini berwujud roda yang bila dilemparkan pasti mengenai sasarannya.
Cakra = lingkaran, roda. Manggilingan = berputar.
Seingat aku, pemilik senjata pusaka ini Batara Kresna.


Bagi beberapa orang, pusaka ini menggambarkan fase kehidupan yang konon seperti roda yang berputar, titiknya akan selalu berubah kadang di bawah, kadang di atas.
Aku gak tahu persis apakah semua kehidupan layaknya putaran roda. Mungkin ada orang yang kehidupannya sedatar papan seluncuran ski. Tapi yang jelas setiap kehidupan manusia mengikuti fase dan siklus tertentu. Dari kelahiran hingga kematian.

Seandainya kehidupan digambarkan seperti roda, aku jadi membayangkan ada yang diameternya kecil kayak roda motor Vespa tapi juga ada yang sebesar roda dokar.
Roda Vespa ibarat kehidupan yang dinamis; hari ini susah tapi besok sukses. Rotasinya pendek.
Sedangkan roda dokar memiliki rotasi yang lebih panjang. Kalau masa suksesnya yang lama sih okay, tapi kalau trus masuk fase susah yang juga panjang: wew amit-amit!!

Aku akan kesulitan seandainya disuruh memilih: roda Vespa atau roda dokar. Kalau bisa opsi lainnya saja: roda mobil Bentley: kalau pas fase susah, rodanya bisa digadaikan; jelas harganya sangat mahal. Haha..

Masa paling bahagia dalam hidup aku adalah masa-masa setelah lulus SMA di Yogya. Waktu itu Yogya masih kota pelajar buanget: tenang, murah, humanis. Gak bluwek kayak sekarang.

Kegiatan utama setiap sore ikut kursus persiapan Toefle di IKIP Yogya (sekarang UNY) dari jam 4 sore sampai jam 7malam. Teman2 kursus sudah mahasiswa, dosen, bahkan pejabat. Meski aku yang paling muda, tiap ada test selalu mendapat nilai tertinggi. (doooh! dulu aku kok pinter banget, gak kayak sekarang……)
Selain kursus, kegiatan waktu itu hanya nongkrong di Gramedia, di Lembaga Indonesia Perancis yang di Sagan, naik sepeda balap muter malioboro 7 kali, nonton bioskop di Mataram theater… what a life!
Ketika SMA, 80% teman sekolah berasal dari luar Yogya dan saat itu semuanya sudah balik kota masing2, jadi hampir gak ada teman di Yogya.
Tapi rasanya saat itu adalah masa-masa paling tanpa beban. Sebahagia dan sebebas emprit.
Hari-hari ini, memang bukan masa-masa ‘terbaik’, karena beban tanggung jawab makin besar sehingga sudah gak bisa menjalani hidup ‘semau gue’. Serasa artis laris yang sudah dipatok jadwal ketat: hari ini kudu show disini, besok disana, besoknya di mana lagi…..

Kadang kangen dengan masa setelah lulus SMA, meski bukan berarti pengen balik ke masa itu, karena aku yakin saat ini aku sedang berjalan di jalur yang benar. Ibarat roda, meski tidak di posisi atas, tapi aku mengarah pada tujuan yang seharusnya.

Dalam kehidupan yang telah lalu tentu saja aku pernah mengalami masa yang lebih berat, tapi karena aku selalu menyaksikan penyertaan Tuhan pada saat surut dimasa lalu, maka aku yakin saat ini pun Tuhan masih akan selalu setia menyertai dan siap menopang kapanpun aku merasa lelah.

Seperti lagu de’Masiv: hidup itu sendiri sudah suatu anugerah, jadi apapun situasinya jangan sampai pernah menyerah menghadapinya.


Enihau,
Beberapa hari lalu rasanya stress banget.
Tapi Jumat, 5 November malam ketemu dan ngobrol dengan seorang teman yang suka tersenyum.
It’s a magic! Rasanya stress aku hilang.
Ternyata senyum bisa seampuh senjata pusaka. Membuat aku bisa melihat masalah dari perspektif yang berbeda.
Malamnya aku tidur berbekal senyum.
I’m quite happy. Thank’s

Monday, November 15, 2010

Kemurahan Tuhan

Kemurahan Tuhan lebih dari hidup.
Kemurahan Tuhan lebih dari hidup.
Maka jiwaku memuji Engkau,
Kemurahan Tuhan lebih dari hidup.

Saturday, October 30, 2010

Hadeeeeeee...!!!

Berikut ini kumpulan scene yang benar-benar (dan sering) terjadi :

PD = pembeli dudul
Me = aku

PD : Jual bohlam lampu?
Me : Gak pak. Yang jual lampu toko depan tuh pak…disana komplit.
PD : Kalau lampu neon ada?
Me : gak jual lampu dan konconya pak. Saya jualnya kulkas, tv, mesin cuci… silahkan ke toko depan saja pak…
PD : Kalau saklar lampu sini jual ?
Me : *nyari batu bata untuk nyambit pembeli pantang nyerah itu!

PD : Vacuum cleaner yang kapasitas besar ini, wattnya berapa?
Me : 800 watt bu. Dirumah listriknya berapa watt?
PD : oh di rumah saya listriknya cuma 450 watt tuh. Cukup gak mas?
Me : *jambak konde ibu-ibu gak lulus matematika.

PD : ada kipas angin dinding?
Me : Ada pak, saya punya 3 merk : GMC, Miyako dan Panasonic.
PD : Merk Maspion ada?
Me : Disini hanya ada 3 merk pak… GMC, Miyako dan Panasonic
PD : Kalau Cosmos ada? Atau merk Sekai ?
Me : Paaaaaakkkk!!! Saya hanya ada merk GMC, Miyako dan Panasonic... itu artinya merk Maspion, Cosmos, Kirrin, Sekai, Panalux, KDK, atau yang pake baling-baling bambu GAAAK ADAAAAAA! (*garuk-garuk tembok)

PD : Saya mau beli kulkas…
Me : Mau cari merk apa pak? Satu pintu atau dua pintu ?
PD : Tapi … kalau misalnya saya beli sekarang trus saya simpan, dan baru saya pakai 3 bulan lagi…kulkasnya rusak ga?
Me : sebenarnya bapak mau beli kulkas atau getuk?

PD : ada antene TV yang pakai remote?
Me : ada pak, ini contohnya
PD : oh… (*diem sejenak sambil lihat-lihat contoh antene tsb)…ini apa sih?
Me : lhah!…. Lha tadi bapak nanyain apa?
PD : oh iya…hehee…

PD : Ya sudah mas, saya ambil kipas angin Miyako ini saja, tapi saya minta yg dalam dos, nanti biar dirakit anak saya di rumah.
Me : saya cobain motornya saja ya.
PD : loh…kok gak ada anginnya?...
Me : piye tho bu… khan ini cuma nyobain motornya, baling-baling kipas gak saya pasang….mau keluar angin dari mana!....

PD : Saya mau beli DVD (player), tapi nyobainnya pake ‘kaset’ yang langgam jawa ya mas
Me : Wah adanya pop indonesia dan barat semua tuh mas… lha kenapa kok kudu langgam jawa?
PD : …anu mas… saya cuma mau ngetest DVD (player) yang saya beli bisa dipake utk lagu bahasa jawa apa gak…..
Me : *ngelus-elus cakar Miley

PD : (*marah-marah)…gimana sih kompor baru beli kok gak bisa nyala…kenopnya gak bisa di ceklek-in
Me : *check kenop kompor dan bisa ceklekin kenop kompor…lho ini bisa bu!
PD : OH!!! Jadi kalau mau di ceklek-in kenopnya kudu ditekan dulu ya?...…wahh saya baru tahu, belum pernah punya kompor seh!
Me : *pantesan kompor gas meledak dimana-mana…

PD : Saya mau beli blender. Dokter menyuruh saya rajin bikin juice buah agar tekanan darah saya turun. Blender mana ya mas yang bisa mengurangi tekanan darah ?
Me : *diam saja, menahan diri tertular darah tinggi akibat blender.

PD : ini lektop mas? (nunjuk tv LCD32 inch), saya mau beli untuk kuliah anak saya..
Me : maksudnya laptop? bukan bu, itu tv LCD, bukan komputer laptop...Gak jual komputer bu…
PD : ooo… tapi ini bisa jadi lektop ya?
Me : *nyari dukun, siap-siap ruwatan……

PD : mau cari roda kulkas….
Me : stok habis mbak
PD : ada roda kulkas ?
Me : gak punya mbak…. Massss..
PD : mau cari ini loh…apa tu namanya… oh iya: roda kulkas…
Me : *injak-injak bumi 3 kali, tangan dikepal didada siap2 soja sama siluman babi.

Wednesday, October 20, 2010

Personality Plus

Menurut buku ini, konon terdapat 4 dasar personality dasar manusia: Sanguinis, Phlegmatis, Koleris, serta Melankolis.
Biasanya seseorang akan memiliki karakter utama, serta satu atau dua karakter sekunder. Dari bagaimana dia merespon suatu situasi, personality seseorang bisa terdeteksi

Misalnya saja:

Beberapa hari yang lalu Darma nge-tuit : udah jatuh ketimpa tangga pula.
Kameranya hilang pas ikut acara bak-sos di Batam, trus sampai di Jakarta leptopnya rusak; kemungkinan motherboard-nya rusak.

Seorang Sanguinis sambil tertawa ngakak akan merespon dengan cara ‘fun way’ demikian:
"Jatuh ketimpa tangga? Benjol gak hehe… Kalau motherboardnya rusak, ganti fatherboard ajah…"
Sanguinis tuh orangnya talkative, lively, irregular, random, jadi pusat perhatian…..
Beberapa orang/teman yang menurutku Sanguinis: Indy Barends, Gus Dur, Pak Petrus, Arbani, Christin, Wiji..

Seorang Phlegmatis akan menepuk-nepuk punggung dan merespon dengan cara ‘easy way’ demikian :
"Apapun yang terjadi, ya sudahlah….. yang sabar ya… coz everything is gonna be okay…
Biarin aja leptop rusak, khan sudah pake blekberi. Sekarang tidur dulu ajah…."
Phlegmatis itu seperti air: tenang, jalan tengah, kompromi, peace,
Beberapa orang yang menurutku Phlegmatis : presiden SBY, Darma, Mas Suyar, Moses, Anasurbaningrum…

Seorang Melankolis akan mengambil kertas dan bolpoin untuk mencatat, merespon dengan cara ‘right way’ demikian :
"Kamera ilang dimana? jam berapa? Ada saksinya?
Komputer merk-nya apa? Beli dimana? Kapan mulai rusak?"
Melankolis tuh metodis, komplikatif, kontekstual, logis, by process, dikendalikan perasaan,…
Beberapa teman yang menurut aku Melankolis: Yuda Apis, Sri Mulyani, Megawati…
Kebanyakan blogger adalah melankolis

Seorang Koleris tanpa 'ba-bi-bu' akan merespon dengan cara ‘MY way’ demikian:
"Besok pagi cuti kantor saja, bawa leptop ke Ratu Plaza ya, cari service station resminya, bilang saja ganti motherboard dua hari kudu jadi, trus minta diskon khusus karena belinya belum setahun!!!
Ke Ratu Plaza naik busway, daripada naik taksi nanti kena macet. Ati-ati dompet taruh di saku depan, siapkan uang pas untuk busway!!!!"
Koleris : leading, bossy, to the point, by product, revolusioner, kaku,,,
Beberapa orang/teman yg koleris : Bunda Theresa, Fidel Castro, Ciputra, Ichal Bakrie....

Aku nyadar kalau aku orang yang koleris banget.
Tiap menghadapi situasi seperti ini, aku punya insting ‘kudu menyelesaikan masalah ini’ trus langsung bikin perintah-perintah kerja ‘do this! do that!’ and ‘hurry!!’
Yang kadang bikin orang lain gak nyaman. Bisa saja seseorang curhat hanya butuh didengar; bukan minta ‘strategi perang’ menyelesaikan masalahnya.

Sadar akan hal itu, aku menahan diri menjawab segera sms Darma; mencari kalimat yang tepat.
Akhinya aku sms; “Trus piye?”

Kesannya netral, tapi penuh jebakan. Seandainya sms balik Darma menurutku gak oke; pasti aku gak akan bisa menahan diri jadi ‘tukang (sok) ngatur’ lagi…

Haduuuuuuuuuuuuuh!!............

Saturday, October 16, 2010

Dr. Tan Shot Yen

Entry ini sudah ditulis lama, tapi terlupakan. Kasus Indomie bikin aku ingat tulisan ini.

Ibu aku menjalani operasi bypass jantung di Kuala Lumpur akhir tahun 2006. Sebenarnya hasilnya baik. Tapi ibu gak bisa mengontrol dietnya.
Juli 2009, Dr Soo: dokter jantung ibu di KL, menyarankan ibu pasang ring tambahan lagi di pembuluh jantungnya.
Saat itu memang ibu mudah sekali merasa lelah, gak fit dan tekanan darahnya tidak stabil.
Ibu bilang gak mau.

Awal Oktober ibu menjalani terapi EECP di klinik Dr Raymond Suwita, seorang kardiolog di Jakarta. Hasil treatment ini secara ‘fisik’ berhasil memperbaiki kualitas pembuluh darah, terbukti dari hasil foto terlihat banyak pembuluh darah disekitar jantung yang berfungsi kembali.
Tapi tetap saja ibu mudah merasa lelah dan tekanan darahnya tidak stabil.
Hasil test darah juga buruk : kolestrol tinggi, indikator-indikator untuk fungsi hati juga buruk.

Awal Januari 2010 kemarin, aku ajak ibu menemui Dr. Tan Shot Yen di Jakarta. Ini adalah titik balik bagi ibu dan keluarga kami memahami kesehatan dan pola hidup yang benar.

Saat ini, setelah ditangani Dr. Tan; ibu sangat sehat, fit, trengginas, dan indikator-indikator test laboratoriumnya sangat baik.

Tulisan tentang dr Tan Shot Yen pertama aku baca di kompas Oktober 2009. klik disini . Beliau menulis beberapa buku. Salah satunya : “Saya Pilih Sehat dan Sembuh” Transformasi Paradigma Mengobati Menjadi Menyembuhkan. Terbitan Dian rakyat.

Dr Tan meraih S1nya di Kedokteran Umum, kemudian melanjutkan S2 dan S3 di fakultas filsafat Driyakarya. Kepada pasien, dalam prakteknya Dr Tan lebih banyak memberikan pengetahuan tentang pola hidup yang sehat, pengetahuan tentang makanan, serta pengungkapan kembali hal-hal prinsip dalam menjaga keutuhan hidup. Mengajar kita berpikir kritis: tidak hanya sekedar "membereskan" gejala penyakit, tapi yang penting adalah mengetahui asal muasal penyakit dan mencegahnya.

Salah satu artikel tentang Dr. Tan klik disini.

Beberapa catatan yang aku dapat dari konsultasi dengan beliau : (setiap ketemu beliau aku selalu bawa catetan kayak kuliah, karena banyak sekali informasi yang didapat dan sumbernya: website, buku, dll)

Manusia bukan mobil.
Dr Tan mengkritik paradigma pengobatan medis modern yang tidak melihat manusia secara holistik, serta terlalu bersandar pada obat-obatan sebagai senjata utama meredakan gejala penyakit (belum tentu penyakitnya sembuh).
Ilmu kesehatan saat ini tidak luput dari cara pandang ilmu pasti. Segala sesuatu dipilah menjadi detail sekecil-kecilnya. Tubuh manusia pun dipandang sebagai pretelan suku cadang kendaraan yang terpisah dari alam pikir dan realita spiritualnya.
Pelayanan kesehatan (klinik, rumah sakit) saat ini lebih sebatas pada penanganan masalah gawat darurat.
Tubuh manusia memiliki kemampuan memperbaiki/menyembukan dirinya. Berbeda dengan mobil yang kudu didempul dan dicat ulang akibat dibaret, kulit manusia yang tergores bisa sembuh sendiri, tentunya dengan kondisi badan yang sehat.
Treating illness: First, by diet regimen. Second, by medicine. Lastly : with surgery
Modern physician had reversed the order of treatment.
(Hippocrates)
Anatomi Manusia vs Modernitas.
DNA manusia modern dengan manusia purba 99,99 adalah sama. Namun oleh perjalanan hidup dengan perubahan kebudayaan, terjadilah penyimpangan yang terutama mengenai makanan manusia dengan segala akibat yang ditimbulkannya.
Makanan natural dan utama manusia seharusnya seperti manusia-manusia primitif; yakni sayur, buah (sebaiknya mentah), kacang-kacangan serta daging hewan yang tumbuh alami.
Setelah manusia mengenal api, manusia mulai terbiasa memasak makanan yang berakibat hancurnya enzim2 dalam makanan.

Sebaiknya hindari daging sapi, karena sapi yang seharusnya makan rumput, saat ini makan pelet yang berasal dari hancuran tulang2 sapi, dll. Tidak heran muncul penyakit sapi gila, dll.

Juga hindari kedelai dalam bentuk tahu, susu kedelai, dll. Kecuali dalam bentuk tempe (aku lupa detailnya, tapi kira2 demikian: kedelai saat ini sudah mengalami rekayasa sedemikian rupa yang mengandung unsur yang memicu peningkatan hormon estrogen yang mengakibatkan kanker payudara. Namun ketika kedelai sudah mengalami fermentasi: dijadikan tempe, kandungan zat ini ternetralisir)

Makanan vs Dagangan
Bedakan ‘makanan’ dengan ‘dagangan’.
Sayur, buah, daging, kacang-kacangan dan telur dalam kondisi segar dan diolah dengan benar; adalah makanan. Tidak ada batas dalam mengkonsumsinya.
Mi instant, kripik kentang, roti, biskuit, sirop, dll adalah dagangan yang sebenarnya tidak diperlukan tubuh manusia. Meskipun dinyatakan ‘aman’ karena bahan pengawetnya dibawah ambang batas, bukan berarti bisa direkomendasikan sebagai makanan yang baik.
Aman bukan berarti boleh
.
Alasan kepraktisan dan ekonomis adalah slogan yang dikumandangkan para pedagang.

No Rice and Sugar. And Milk too!
Tolak nasi, gandum, serta bahan makanan berpati yang ber indek glecemic tinggi. Karbohidrat semacam ini akan memancing lonjakan insulin yang akan menekan kadar gula darah yang berujung mengubahnya menjadi lemak.
Kebutuhan karbohidrat bisa dipenuhi dari sayuran tertentu yang sebenarnya memiliki kandungan karbohidrat yang lebih baik.

Berbuka (puasa) dengan yang manis ? (*slogan iklan)....salah banget!!!
klik disini untuk penjelasannya.

Susu bukan konsumsi yang sehat untuk manusia paska usia balita. Hanya manusia lah satu-satunya mamalia yang masih minum susu setelah dewasa.
(Aku menemukan banyak website yang mengkonfirmasi bahwa susu memang bukan konsumsi untuk manusia. Setidaknya dapat dibuktikan bahwa tidak ada enzim di sistem pencernaan manusia dewasa yang berfungsi mencerna susu)

Secara umum, pengganti sepiring nasi (sumber karbohidrat) adalah :
1 ikat selada
1 buah timun

1 buahtomat

1 buah apel/pear

½ buah alpukat
2 butir putih telur rebus.

Sedangkan untuk lauknya (sumber protein dan lemak) bisa dengan ikan, ayam, jamur, dll yang dimasak dengan rebus, atau kukus.
Gorengan dan panggang sangat dilarang.

Selain perubahan paradigma ‘makanan’; untuk konsumsi ibu aku ditambah dengan tablet Salmon Omega 3, Q-10, vitamin E serta Vitamin C dosis tinggi.

Ditempat ruang tunggu dr Tan, kebanyakan pasien adalah penderita penyakit jantung (stroke, kolestrol,dll), diabetes, disfungsi hormon, autism,dll

Awalnya susah sekali bagi ibu untuk merubah pola makannya: tidak makan nasi, kecap, dll. Tapi setelah 3 bulan lebih, ibu bisa terbiasa.
Memang berat badannya turun drastis, tapi kondisi kesehatannya sangat baik.

Seorang kenalan, penderita diabetes dan obesitas parah. Beratnya 120 kg. kemana-mana kudu membawa alat injektor insulin yang secara otomatis menyuntikan insulin ke tubuhnya.
Ketika bertemu, Dr Tan meminta saat itu juga alat dilepas dan langsung menjalankan pola makan diatas.
2 bulan kemudian, beratnya bisa turun 20 kg dan sudah tidak memerlukan insulin lagi. Tubuhnya juga jauh lebih bugar.

Dr Tan Shot Yen berpraktek di kliniknya di sebelah Teraskota BSD City. Parktek dari jam 9 pagi sampai selesai. Penulis aktif di tabliod Nyata.

Aku juga menemukan beberapa buku dan artikel yang memiliki paradigma yang sama dengan Dr Tan. Antara lain Dr. Hiromi Shinya yang berasal dari Jepang. Sempat bikin draft reviewnya. Kalau sempat kapan2 di upload.

Dr. Tan ini sekilas galak banget. Tapi sebenarnya dia bermaksud agar pasiennyaserius dan gak 'slengek-an' (istilah beliau) hehe....

Friday, October 15, 2010

Miley

Sudah 43 hari Miley di Solo.
Tambah cantik, anggun dan gendut.
Pertama datang bobotnya 1,1 kg. Sekarang sudah 2,1 kg. Hampir dua kalinya.
Seminggu yang lalu aku bawa ke dokter untuk check rutin. Dokternya bilang Miley sehat.

Miley suka banget digendong. Betah banget dipangku.
Tiap malem duduk disebelah ibu nemenin nonton teve :D
Tapi jahilnya bukan main, suka toel-toel trus lari. Maksudnya ngajak main kejar-kejaran.

Gak tahu kenapa, aku perhatikan kalau habis pup atau pipis, selalu lari-lari dan jejingkrakan kayak reog. Mungkin karena merasa lega. Aku baca somewhere, konon kucing betina suka menahan pipis. Could be!

Kecuali nanti ada kitten yang bagus banget (warna + peaknose), rasanya gak pengen adopt another feline. Tapi aku serius banget dengan urusan Miley ini. Sampe ikut kelompok cat lover Kaskus di Yogya.

Menjawab Christin yang obrolan kami kemarin terputus:

Kucing itu bersih. 3 minggu gak dimandiin aja gak bau, paling bulunya keliatan agak lepek.
Miley di mandiin (grooming) seminggu yang lalu, sekarang masih bersih banget dan wangi.

Tapi kalau doggy; sebersih-bersihnya doggy pasti bau.
Coba saja datang ke rumah yg ada anjingnya; pasti ada bau anjing, ditambah bau pesing urin anjing yang biasanya suka pipis sembarangan.
Kalau kucing gak usah diajarin, secara naluri pasti pipis dan pup di bak pasir yang sudah disediakan.

Wednesday, October 06, 2010

pertanyaan


....kadang-kadang ketika pertanyaan itu benar-benar sulit,
yang penting bukanlah mencari jawaban;
melainkan mencari pertanyaan baru , yang lebih bisa diterima akal.

Monday, September 27, 2010

Baca Dulu!!!

Posting kali ini didedikasikan untuk Theo B Ananto, kenalan baru di fb.
Brondong yang baru lulus SMA ini ngakunya nemu fb aku setelah baca-baca blog ini. Dia bilang pengen jalan-jalan keliling dunia.
Masalahnya, dia belum pernah sekalipun naik pesawat. Jadi pernah semalaman kami chatting ngajarin dia caranya naik pesawat. Hehehe…

Okay, here we are….

Beberapa hari yang lalu, setelah nulis di wall pesbuk Pororowannabe, aku jadi bahan cercaan 3.000.000 mahluk hidup di fb! #alittlelebay

Christin bilang, ternyata Paulus itu jahat ya….

Hahaha…

Pasti dia gak tahu itu karena si Pororowannabe nama tengahnya ‘sok tahu’ trus insting utamanya ‘ngeyel bin waton’.
Di blognya, dia mendeskripsikan dirinya suka sama orang yang manut dan gak suka ngeyel.
Itu justru menunjukkan banget jati diri Pororowannabe ‘master of ngeyel’.
Orang yang suka debat, akan senang ketemu orang yang juga suka debat.
Tapi orang yang suka ngeyel pasti males ketemu mahluk sejenisnya. Huhuhu…

Sudah beberapa kali dia nanya sesuatu dan ketika aku jawab, alih-alih malah ngeyel + mbantah + maido. (*apa ya ‘maido’ dalam bahasa indonesia?)
Bahkan pernah ngatain aku ‘bodoh’.
Meski akhirnya dia bilang, “oh gitu ya…soalnya aku baru tahu sih…”

Dari jutaan peristiwa itu aku belajar; kalau Pororowannabe tanya sesuatu, kudu disiapkan jawaban telak yang langsung menohok tanpa memberi kesempatan ngeyel.
Kalau gak bisa; mending gak usah dijawab sekalian. Dari pada pengsannnn makan ati + buang waktu. Hehehe….

Hahaha…

Lagipula salah sendiri si Pororowannabe tanya sesuatu yang….. hadeeeeeee!... memalukan!

Ibarat tanya : analgesik or parasetamol. Huhuhu…

Padahal setahu aku, Pororowannabe ini juga suka baca. Tapi kayaknya lebih banyak baca sejenis ‘seorang nenek ditemukan terapung pake jeriken’ dibanding informasi pengetahuan umum misalnya ‘menurut Stephen Hawking, planet apa yang bisa dijadikan pengganti bumi’…1)

Ehmmm…

Ohya, jadi ingat….
Terakhir janjian ketemu Darma di Mall Taman Anggrek, aku nunggu di Gramedia.
Browsing buku-buku traveling, nemu Rough Guide edisi Asia. Pengen buuuangetttt beli tapi kok harganya 350 rebu. Mending dibeliin tiket!
Waktu aku cerita sama Darma, dia bilang: 'Halah Pak! Gak usah beli… baca saja di internet. Dulu ga pake buku bisa sampe juga ke bangkok….'

Rough Guide itu buku kayak Lonely Planet, Tapi Rough Guide lebih kaya ulasan + artikulasinya lebih gaul.
Jangan tanya Lonely Planet itu apa ya! Memalukan!!!

Beberapa hari yang lalu meliburkan diri: nongkrong di Gramedia Solo. Dapet buku-buku ini.
(*yang bikin aku gak akan tanya: ‘analgesik atau parasetamol untuk obat sakit kepala’)
Huhuhu…
  1. Boneka Peluk. Referensi tambahan untuk micawork
  2. Firebelly: Fiksi. Belum sempat baca
  3. Pelangi di Cakrawala Profesi Akuntan. Biografi. Sudah baca sedikit. Bisa untuk referensi pengembangan biisnis bidan jasa profesional.
  4. Jejak langkah di Atas Salju. Biografi seorang biarawan Budha. Belum baca
  5. Yogyakarta. Fiksi. Sudah selesai baca. Karya Damien Dematra tokoh gerakan Pluralisme Indonesia.
  6. 13 Wasiat Terlarang. Pengembangan diri. Sudah baca hampir selesai. Gak terlalu bagus.

welllll....aku sebenarnya cuma mau ngomong :

membaca itu penting, but the point is: baca buku apa dulu…???!

Catatan:
1)
Menurut Stephen Hawking, sekitar 500 tahun lagi manusia sudah bisa menjadikan planet Mars sebagai pengganti Bumi sebagai koloni baru bagi manusia.
Tapi ada planet lain yang lebih ideal bernama Gliese 851d. Ukurannya 7 kali bumi dan batuan permukaanya lebih mirip bumi. Masalahnya: lokasinya alamak!! : jauuuuuuhhh banget! 20 tahun cahaya! Alias sekitar 197 trilyun km.
Saat ini benda paling cepat buatan manusia adalah Voyager I yang memiliki kecepatan 18 km/detik. Dengan kecepatan ini, untuk mencapai planet Gliese 851d dibutuhkan waktu 350,000 (tiga ratus lima puluh ribu) tahun!!!!!

Alamak!!!

#hasil semalam begadang nonton indovision.

@paulusphoek

....gak pengen ngoceh, hanya pengen punya akun saja. anyhow;

Tuesday, September 21, 2010

Adult Things

Aku sedang mengingat-ingat; kapan tepatnya aku menjadi dewasa...

apakah ketika jatuh cinta (*monyet) dengan Ira teman di SMP dulu?

apakah ketika tumbuh bulu di kaki?

ketika SMA dan kost di Yogya?

ketika bisa bekerja dan punya duit sendiri?

apa ketika menjadi kepala divisi di Jakarta?

atau ketika kembali ke Solo tahun 2000?

ketika kudu mikir kehidupan puluhan orang bekerja sama setiap hari?

kapan ya?....

sebenarnya, sudah belum sih?

Saturday, September 11, 2010

Take A Kucing Out

Berusaha melupakan kegagalan dan mencoba memulai dengan yang lain; hari kamis minggu yang lalu janjian ketemu kenalan baru di Yogya.

Gak pernah ketemu sebelumnya hanya kenal lewat internet, jadi aku bilang, ‘ketemu di stasiun Tugu, depan loket ya’

Sampai di sana, ternyata dia belum ada.
Ah, begitulah kalau urusan sama anak kuliah :D
So aku sms: ‘sudah sampai. Aku tunggu kalau kuliah belum selesai. Santai wae, aku gak diburu waktu kok’
Di jawab, ‘iya mas, di tunggu ya.’

Di stasiun Tugu terdapat dua loket tiket yang mengapit pintu masuk peron.
Loket yang sisi selatan sedang direnovasi, meski lampunya di nyalakan tapi ruangannya kosong; tidak ada komputer, lemari, atau perlengkapan lain. Hanya ada papan konter yang belum dipasang dan seorang bapak tua yang mondar-mandir keluar masuk bingung gak tahu nyari apa.

Aku menunggu didepan loket itu, berusaha nerusin baca ‘The White Tiger’ nya Aravin Adiga.

Tapi gak bisa konsen gelisah mikir :

weh… nanti kalau ketemu kayak apa ya…

mirip yang difoto gak ya….

Ntar kalau ada yang ‘aneh’ piye jal?….

Kira-kira nantinya bisa saling cocok gak ya….

Ntar kalau tiba-tiba dia berubah pikiran…gimana….


...............

Kira-kira 10 menit kemudian, ada sms masuk, ‘mas aku sudah diparkiran, masnya dimana’

Aku cepat-cepat telpon, ‘di depan loket, tapi aku keluar saja….’

Begitu keluar langsung liat seseorang cowok chubby tersenyum melambaikan tangannya. Aku samperin. Rasanya pengen lari dan berteriak : ‘Tugu, I’m in Love’ (*secara settingnya di Yogya bukan di Paris)
Begitu hadapan, aku langsung mengulurkan tangan, 'Paulus' kataku. Gak bisa nahan senyum lega bisa ketemu.

'Ricky' jawabnya. Senyum juga. Aku terpana (*lebay mode on)

'Ini pacar saya' lanjut Ricky sambil menunjuk seorang cewe yang nyengir dan mengulurkan Miley yang dipeluknya. 'hi mas…ini si Miley…' Sapanya.

Ahhhh akhirnya bisa menyentuh Miley : kitten persia betina berwarna gray-tipped. Bulunya halus banget. Usianya baru 2 bulan. Hahaha…

...........................

Desember 2008 aku adopsi Lulu, kitten persia berwarna Tortie.
8 bulan kemudian; Agustus 2009 Lulu meninggal karena virus. Sedih buuanget.
Cerita tentang Lulu klik di sini.

Trus akhir-akhir ini pengen punya kucing Persia lagi.

Tadinya sudah mau adopsi kitten Persia mbak Anik, tapi gak jadi karena trus ketahuan jenis kelaminnya jantan. Aku ogah! Males sama kebiasaan kucing jantan yang konon suka spraying dimana-mana.

Sampai akhirnya liat Miley di forum jual beli Kaskus. Langsung jatuh cinta. Hidungnya rada mancung. Tapi biarinlah, yang penting aku suka.

Butuh perjuangan bisa adopsi Miley ini. Ceritanya, si Ricky ini adopsi Miley untuk pacarnya tapi ternyata si pacarnya gak boleh pelihara kucing, sementara Ricky anak kost yang juga kerepotan ngurus kucing. So si Miley ditawarkan di Kaskus.

Aku kudu bersaing dengan beberapa orang lain yang juga berminat mengadopsi Miley, dan memberikan harga yang lebih tinggi.
Aku berusaha keras meyakinkan Ricky dan pacarnya bahwa aku mengadopsi Miley bukan untuk dijual lagi, bahwa Miley akan dipelihara dan di jaga baik-baik. Aku tunjukin cerita Lulu di blog ini, foto-foto belated Lulu, janji kalau Miley sakit segera ke dokter…

Sampai akhirnya Ricky sms kamis pagi, 'Ya sudah mas, Miley sama njenengan saja..'

Wah seneng banget! serasa ikut acara ‘Take a Kucing Out’

Dari Solo, aku sudah siapkan keranjang untuk bawa Miley ke Solo naik Prameks, handuk kecil untuk selimut, dan air minum untuk Miley.

Namanya gak usah diubah; Miley nama yang bagus. Paling ditambah nama belakang jadi : Miley Prasetyawati. Hahaha…

Pas nunggu kereta, banyak yang suka dan ngelus Miley. Bahkan sekuriti stasiun nggerombol pegang-pegang Miley. Huhuhu…serasa bawa selebritis.

Semoga saja Miley betah bersama aku dan ibu ya… (*kangen sama Lulu…..)




Sunday, September 05, 2010

Tangis?

..ehm, pengen tahu saja:

.....waktu itu apakah kau menangis ketika kita akhirnya berpisah?
....










*Barusan liat perpisahan penuh tangis di babak eliminasi Indonesia Mencari Bakat TransTV.

Tuesday, August 31, 2010

Lubang Hitam

Dulu di SMA diajarin bahwa lubang hitam adalah pengkerutan ekstrim massa berukuran besar di luar angkasa sana, menjadi sebuah massa yang sangat kecil.

Beda dengan pengkerutan jeruk yang cuma jadi kisut, pengkerutan ini menghasilkan gravitasi yang sangat besar, secara massa awalnya juga gede banget.
Akibatnya semua materi yang berada di dekatnya akan mengalami ‘sedotan maut’ lubang hitam, melewati worm hole untuk dimuntahkan di ujungnya (*namanya apa ya? Mosok lubang putih?)

Intinya, kalau sudah kesedot lubang hitam ini, semua materi –termasuk gelombang dan cahaya- akan ditekan, dimampatkan untuk melewati lubang hitam ini, trus dipancarkan kembali diujung satunya ke ruang baru.

Kira-kira gitulah! Sedang males nyari di internet. Hehe..

Barusan Agil sms, ‘sudah tidur mas?’

Hayah! Baru jam 10 malam gak mungkin aku sudah tidur tho.
Apalagi ini tanggal 30, artinya besok tanggal 31, artinya lagi: aku kudu menyiapkan gajian. Hebohnya lagi gajian bulan ini ditambah THR.

Rasanya kayak disedot masuk lubang hitam! Huhuhu….

Banyak orang berpikir jadi pengusaha itu enak.
Aku bilang: coba saja! Kalau sudah menjalani, aku mau bilang: RASAIN!!

Paling mumet kalau sudah menjelang gajian. Masalahnya mulai dari ketersediaan duit karena cash-flow meleset atau tagihan belum masuk, ketersediaan data (*pada males banget bikin laporan kerja!), ngitung gaji, ambil duit ke bank, ngitung duitnya……

Kalau hanya 3-4 orang sih bisa dikerjain sambil nonton ‘Penghuni Terakhir’.
Tapi kalau sudah puluhan, dengan unit usaha yang beda-beda, dengan koefisien yang kompleks: ngelu!

Salah satu kebahagian pengusaha adalah ketika bisa bayar gajian tiap bulan tepat waktu, bisa naikin gaji, bisa ngasih THR banyak….
Itu yang selalu jadi pokok doa aku tiap pagi sebelum gawe: warung-warung ini bisa menjadi saluran berkat bagi teman-teman kerja.
Aku selalu percaya Tuhan yang akan menyediakan duitnya. Entah dari mana.
Aku sengaja ngerjain urusan gaji sendiri, agar dapat “menyentuh’ teman2 kerja secara personal.

Syukur pada Tuhan, selama ini aku bisa bayar gaji tepat waktu. Termasuk untuk bulan Agustus ini. Ditambah total THRnya yang lebih besar dari total gajian.

-----

Seminggu ini “meriang” nyari kucing persia pengganti Lulu.
Sudah muterin petshop, browsing di kaskus, telpon2 cattery di Ygya dan Solo…belum ada yang suka. Aku maunya betina, medium, warna red tabby atau bicolor batman, usia 6-8 bulan.
Di yogya ada yg bagus. Tapi alamak mintanya 7 juta! Aku sudah tanya, katanya bayar pake duit semua, gak boleh pake daun. Haha…

Sempat tanya sama Yuda. Kucingnya pasti bagus-bagus (*di bandung tuh orang dan kucing kok bisa keren2) tapi rada males mikir delivery-nya. Lagian kucingnya pasti gak beda jauh dengan Yuda: selebritis, biayanya mahal! Huhuhuhu….

2 hari yang lalu, nemu yang rada lumayan di Solo: betina, grey tabby, usia 6 bulan tapi belum vaksin dan mata kiri luka habis berantem. Pemiliknya: mbak Anik (punya kucing banyak banget: ada 30an!) Janji mau nge-vaksin dulu itu kucing.

Dikasih nama apa ya? Partinah kayaknya bagus. hahaha

Beberapa hari ini juga terjebak kayak Christin yang ‘gali lobang tutup lubang’ waktu tidur. Sehari ini sudah minum 3 cangkir kopi, trus ini ditemani 1 teko teh panas. huuaaahemmm (*menguap tapi gak bisa tidur)

Friday, August 27, 2010

Kennedy Syndrome

Dulu ketika masih menjadi penatua, beberapa kali mendapat tugas mengunjungi anggota jemaat gereja kami yang gak bisa kemana-mana. Termasuk pergi ke gereja.
Ada yang karena terlalu renta, stroke, cacat tulang belakang, dll. Malah ada yang hanya bisa merem melek tanpa bisa berkomunikasi, nyaris vegetatif.

Rasanya depressing banget liat orang-orang yang gak bisa apa-apa seperti itu.
Aku pernah nulis pengalaman tersebut di sini.

Disatu sisi membuat aku mensyukuri ke-well being-an yang aku miliki. Tapi disisi lain menjadi mimpi buruk: piye jal kalau sampai kayak gitu…

Kekuatiran ini bukan karena mengkhayal, tapi juga karena latar belakang penyakit genetis di keluarga.
Tidak banyak orang, bahkan dokter syaraf yang mengenal istilah ‘Kennedy Syndrome’. Di internet pun informasinya sangat minim. Aku mengetahui nama kelainan syaraf langka ini dari sepupu yang didiagnose penyakit tersebut oleh seorang dokter di Australia.

Gak tahu kenapa dinamai ‘Kennedy Syndrome’. Yang jelas ini adalah penyakit syaraf yang diturunkan melalui garis ibu ke anak laki-laki. Penyakit ini menyerang syaraf kaki pada usia 30an. Semua paman dari pihak ibu serta sepupu cowok yang ibunya sekandung ibu terkena penyakit ini.
Menginjak usia 30-an kaki jadi lemah. Kehilangan tenaga. Semakin lama semakin parah; gak bisa naik tangga, gampang jatuh bahkan hanya karena menginjak kerikil kecil. Puncaknya adalah kelumpuhan kaki.

Syukur pada Tuhan, hingga saat ini aku tidak mengalami itu. Saat kelas 3 SMA, pernah mengalami gejala yang mirip: kaki mudah sekali lelah, bahkan berdiri mandi saja rasanya cuapeee luar biasa. Juga gak bisa lari. Untungnya gejala itu hanya berlangsung sebulanan. Setelah itu pulih kembali.

Kondisi-kondisi diatas menjadi semacam ‘trauma’ yang kemudian membuat aku mengeksploitasi diri: mumpung masih bisa jalan, berlari, angkat-angkat barang, mumpung masih bisa mikir macem-macem, masih bisa ngomong, masih bisa apa saja, mumpung masih ini, mumpung masih itu……

Gawean utama aku adalah ngurus warung-warung keluarga.
Jaga warung 12 jam sehari, 7 hari seminggu. 365 hari setahun. Dari Senin sampai Senin.

Tapi begitu saja masih bisa baca buku (sebelum tidur or pas warung sepi), nonton indovision (malam minggu only atau kalau gak bisa tidur), nulis di blog (kapanpun pengen), belajar bikin laman (sambil jaga warung) Rasanya masih punya semangat dan tenaga untuk bikin ‘mainan’ lain.

So, aku rintis beberapa warung lagi: Servis24 (reparasi elektronik), MicaWork (handicraft), Tukangku (jasa instalasi&perawatan), dan yang paling baru : BantaLia (soft furniture).

Syukur pada Tuhan, usaha-usaha itu berjalan baik dan sehat. Konsekuensinya nambahin kegiatan dan tentu saja pikiran. Karena pasti saja ada masalah yang muncul dan kudu diselesaikan. Setidaknya mikir langkah warung-warung ini kedepannya.

Hari ini badan pegel buuuwaanget. Semalam habis nutup warung, makan sebentar, trus langsung motongin 2 gulung kain untuk bikin bantal sampai jam 1 pagi.

2 gulung = 100 yard = 90 meter lebih. Haha…mabok tenan!

Tapi gawean-gawean ini memberi kenikmatan ego dan kepuasan psikologis yang bikin ketagihan. ibarat heroin.

Rasanya masih belum puas, sekarang sedang ngisik-isik bantalCinta.com (soft furniture ukuran jumbo yang rencananya dijual online) dan be One (personalized plush : dapat ide pas jalan ke bangkok kemarin)

T-One(somewhere, someday, somehow kudu bisa buka lagi)

Kalau suatu saat ternyata aku gak bisa menghindari ‘Kennedy Syndrome’; trus di usia tertentu akhirnya lumpuh, setidaknya aku sudah puas bisa ‘berlari’ selama ini.


so, please jangan pernah bilang : istirahat dulu.
Mungkin saja tidak banyak waktu tersisa. tho?

Thursday, August 26, 2010

Laman Servis24

Diantara gawean yang akhir-akhir ini bikin cape luar biasa serta dis-sosial super parah, ada saja hal-hal yang bikin semangat hidup tetap maksimal.
Salah satunya adalah selesainya ngerjain sendiri laman Servis24: mulai dari nyari hosting, beli domain, belajar ngoprek theme wordpress, input data, index google, google webmaster, dstnya…

Hasilnya belum secanggih laman AirAsia, tapi lumayanlah (*menurut aku)! Hehehe…

Sebelumnya aku sempat tanya bebeberapa web-designer biaya bikin laman kayak gini.
Ternyata mahal bukan main! Paling murah 5 juta! Ada sih yang 2 jutaan tapi liat portofolio-nya gak menarik.
So nekad belajar sendiri bikin laman. Mengorbankan waktu tidur yang makin sedikit. Dan seneng banget bisa selesai. Hore!!



Ternyata bikin laman itu sangat menantang otak dan bikin ketagihan. Kayak ngerjain teka-teki. Hasilnya: aku sudah beli 2 domain lagi. Kali ini tantangannya lebih berat: bikin laman penjualan online. waw!!

Alamat gak tidur 2 minggu!

Tuesday, August 17, 2010

Jiwaku pun tenang.

Aku terbangun.
Pagi masih gelap. Hening terdengar.

Mendengar suara adzan subuh dari Mesjid Agung dekat rumah,
Jiwaku pun tenang.

Beberapa jam kemudian, lagi aku terbangun.
Langit sudah terang. Suara kendaraan mulai terdengar.

Mendengar dentang lonceng Gereja dekat rumah,
Jiwaku pun tenang.

Sehari sudah bekerja, sudah saatnya tidur.
Malam mulai diam. Sesekali kayuh sepeda terdengar.

Mendengar ketuk berirama penderas doa di Klenteng dekat rumah,
Jiwaku pun tenang.

*Minggu, 15 Agustus 2010

Tuesday, July 27, 2010

Jack

Posting kali ini didedikasikan untuk Nisa Harahap yang tinggal di Rantauprapat, Sumatera Utara.
Kenal di facebook setelah dia baca blog ini. Dari status-statusnya di fb keliatan anak pintar, masih SMU, bercita-cita melanjutkan ke fakultas psikologi setelah lulus nanti. Amin deh!

---

Di beberapa negara asia timur: China, Taiwan, dan Jepang; saat ini sedang aktual dengan berita tentang seorang yang dijuluki ‘brother sharp’ : seorang gelandangan di China yang fotonya diunggah di internet.
Meskipun ‘brother sharp’ ini sinting, namun memiliki selera fashion yang luar biasa modis. Dia dengan sangat kreatif memadu padankan jaket, gaun, payung, sepatu, dll menjadi sophisticated attire hingga membuat orang-orang kagum dan menanti-nantikan penampilan modis berikutnya. Bahkan beberapa orang membandingkannya dengan peragawan yang menampilan pakaian designer ternama. Google saja ‘brother sharp’. Bahkan ada page facebook untuk gelandangan satu ini.




Aku jadi pengen nulis tentang seorang yang tiap petang nongol di depan warung.

Aku gak tahu nama, asalnya, usianya dll. Jadi sebut saja Jack.

Tingginya sekitar 165 cm, item, kurus, kumisan. Usianya sekitar akhir 30 atau awal 40. Pakainya selalu sama: kemeja hijau hansip lengan panjang, celana gelap, sepatu, rompi dan topi pet.
Dekil bukan main.

Yang jelas Jack ini gelandangan yang secara klinis mustinya masuk rumah sakit jiwa.

Seingat aku, Jack mulai terlihat setahun ini.
Suka nonton televisi di depan warung sambil ngomong sendiri, nyanyi, atau marah-marah entah kepada siapa.

Awalnya terus terang aku rada serem. Tapi siapa yang ga takut ketemu manusia kayak si Jack. Gimana coba kalau tiba-tiba dia ngamuk bawa batu bata atau pentungan…
Jadi kalau dia nongkrong di depan warung, aku berusaha menghindar. Setidaknya jangan sampai bertatapan.

Warung aku PancaMurah biasanya tutup jam 8 malam. Kadang molor karena nungguin mobil delivery balik, dll
Aku melihat bahwa ternyata setelah jam 8 malam biasanya malah banyak pembeli, jadi 3 bulan yang lalu aku memutuskan memperpanjang jam buka warung sampai jam 9 malam.
Karena OneOne; warung aku yang disebelah tetap tutup jam 8, semua staff Panca Murah aku suruh pulang jam 8 malam juga. Aku jaga warung Panca Murah sendiri. Kalau sampai kewalahan melayani konsumen, toh aku bisa minta mama bantu di kasir.

Mulailah si Jack ngajak ngobrol dan bertanya,

‘bos, hari ini laku berapa?’
‘bos, semua aman khan!’
‘bos kok sendirian…’
‘bos, temennya mana’

Awalnya aku cuekin…. Serem oy!

Tapi karena dia tanya baik-baik, aku jawab seperlunya

‘ya lumayanlah..’
‘mas suyar sudah pulang!’

Trus dia selalu nyambung,

‘kok belum tutup bos?... tapi gak apa-apa…saya temani sampai tutup nanti’
tenang bos! Gak usah takut! Saya akan bantu jaga…’

Kemudian dia jongkok nonton teve, atau berdiri menghadap jalan, ngakak sendiri, ngomong sendiri, misuh-i (*memaki) pengendara motor yang lewat…tergantung mood-nya hari itu.

Kalau aku sedang di dalam warung trus ada orang datang parkir sepeda motor, dia teriak,

‘bossss! Ada pembeli ini!...’
‘yak! Masuk saja…masuk saja!’ mempersilahkan orang masuk warung
(*padahal mungkin malah bikin calon pembeli ketakutan. Hehe)

Pernah sekali dia malu-malu minta duit, ‘bos ada seribu…..buat beli minum bos!’

Setelah itu, kadang saya memberinya makanan atau uang seribu-dua ribu. Gak tiap hari, paling 2-3 hari sekali.
Setiap diberi uang, dia langsung ke warung, balik dengan membawa sekantong es teh komplit sedotan, dia teriak,

‘bos, ini minumnya…bos mau gak?’

Bahkan kadang meski bukan uang pemberian aku, dan aku ada di dalam warung… di luar dia berteriak nawarin minumnya….

‘bos..ini es tehnya…mau minum gak?...kalau gak mau saya minum dulu ya…’

Kalau dia bosen nonton teve, dia pamit,

‘bos, saya mau kesana dulu…nanti saya kembali kesini…saya temani jaga bos!’

tumben tadi dia nongol agak sore, aku motret dari belakang diam-diam

----

Saat ini definisi ‘teman’, ‘sahabat’, etc menjadi sangat luas, majemuk dan semu.
Seseorang bisa punya ratusan or ribuan ‘teman’ di facebook tanpa pernah bertemu dan berinteraksi.
Sebaliknya gak aneh seseorang berkata, ‘aku khan temanmu’ hanya untuk justifikasi keberadaanya sebagai tukang porot.

Sulit mendefinisikan siapakah Jack: orang gila, gelandangan atau bahkan malaikat; tapi jelas kehadirannya menyentuh hangat hati. Ketika jaga warung sendirian malam-malam, aku merasa tidak sendiri. Aku punya teman.

Di tengah dunia yang batas kewarasan sudah hilang, keberadaanya membantu aku bertahan menjadi orang yang waras.

You see…betapa kayanya hidup aku ini!
(*mikir: apa yaaa... yang bisa dilakukan untuk Jack…)

Friday, July 23, 2010

Apoteker dan Chocolate Cookies

Kemarin sore, Ridho - si apoteker itu nulis di facebook tentang rumah sakit tempat gawe dia dengan 700 tempat tidur hanya dilayani oleh 22 staf kefarmasian, tanpa didukung sistem inventory yang baik.

Oh ya, kudu di catat: kalau aku sering menyebut nama Ridho, bukan berarti dia satu-satunya teman atau karena dia orang penting. Tapi ada alasan yang kapan-kapan saja aku tulis di sini. Hehe..

Balik ke status fb Ridho ..…

Tentu saja aku gak bisa menahan diri untuk komen ‘umuk’ tersebut.
Agar komen aku gak ‘waton sulaya’ sebelumnya aku riset ringan di internet, tentang rasio ideal tenaga kefarmasian dengan pasien yang dilayaninya; juga ngoprek-ngoprek konsep ‘man-hour’ umum.

Ada satu link yang kemudian menarik perhatian, yakni di page ISFI – Facebook, yang si Ridho juga anggotanya.

Di page itu ada seseorang (*sebut saja si Joko) yang mengeluhkan tentang penolakan ijin membuka apotik oleh IAI setempat. Pengurus IAI menolak dengan alasan rasio apotik/apoteker dengan jumlah penduduk di kota tersebut sudah mencukupi.

Diskusi di page ISFI tersebut berlanjut sangat akademis; hanya mbulet tentang rasio apoteker dan jumlah penduduk kota tersebut. Seolah-olah dunia apotik hanya soal ‘rasio apotik/apoteker dengan jumlah penduduk’
Sama sekali tidak disinggung dari kacamata ekonomi; satu aspek yang sangat penting dalam pendirian sebuah apotik (*atau usaha bisnis lainnya). Malah mungkin paling penting.

Kelaikan pendirian sebuah usaha (apapun) mustinya tergantung pada ‘demand’. Keputusan membuka apotik hanya karena dia seorang apoteker adalah sangat konyol.

Aku pernah ngobrol dengan beberapa pemilik apotik yang mengeluhkan tingkat persaingan yang makin tinggi; yang dari segi ilmu ekonomi, pasti dikarenakan makin banyaknya apotik yang ada di Solo, sehingga mau tidak mau apotik berlomba untuk memperebutkan konsumen.

Di sisi lain, ada satu aspek lagi yang kayaknya juga gak dipahami Joko dan kawan2nya itu.

Nature of busines sebuah apotik berbeda dengan warung gudeg ceker, karaoke NAV, toko handphone, atau panti pijat shiatzu.

Usaha-usaha yang disebut belakangan ini memiliki pasar yang “tidak terbatas”; kejenuhan pasar dapat diperbaki dengan peluasan demografi konsumen, peningkatan kebutuhan, dsbnya. Misalnya dengan penggalakan makan gudeg ceker, memasyarakatkan karaoke sebagai hiburan keluarga, financing pembelian handphone, dll

Tapi kalau apotik gak bisa seperti itu. Bagaimana coba caranya “meningkatkan kebutuhan” antibiotik, analgesik, dll penduduk sebuah kota?

Seseorang yang gak hobi nyanyi bisa saja dibujukin ke karaoke, tapi kalau orang sehat ngapain kudu beli obat daftar G? kalau hanya beli bodrex atau mylanta khan bisa di warung sebelah?

Sampai dititik ini aku jadi prihatin dengan etika profesional dan pemahaman profesi si Joko. Penguasaan ilmu dagang : kurang!
Pemahaman profesi : kurang juga!...

Kalau hanya sekedar ‘punya usaha’ kenapa gak buka toko roti saja?
(dooohhh…lagi pengen banget makan chocolate cookies!!)

Tujuan ilmu kedokteran adalah mencegah penyakit dan memperpanjang hidup. Cita-cita ilmu kedokteran adalah menghapus kebutuhan akan dokter.
(Willian J Mayo, pendiri Mayo Clinic)

(to Ridho : apoteker khan sekutunya dokter!) Hahaha….

--------

share another joke...

Satu pasangan muda sangat bersuka cita demi mengetahui sang isteri hamil muda.
Namun sebelum mendapat kepastian dari dokter, mereka sepakat untuk merahasiakan kehamilan tsb.

Isteri: "Pa, nggak usah diomongin dulu ya...takut gagal, 'kan nggak enak kalau sudah di-omong2in"

Suami: "Oke deh ma, janji nggak bakalan diomongin sebelum ada konfirmasi dokter"

Tiba2 datang karyawan PLN ke rumah mereka untuk menyerahkan tagihan dan denda atas tunggakan rekening listrik mereka bulan yang lalu.

Tukang Rekening PLN: "Nyonya terlambat 1 bulan."

Isteri: "Bapak tahu dari mana...? Papa... Tolong nih bicara sama orang PLN ini...!"

Suami: "Eh, sembarangan. .. bagaimana anda bisa tahu masalah ini?"

Tukang Rekening PLN: "Semua tercatat di kantor kami, Pak."

Suami (tambah sengit): "Oke, besok saja saya ke kantor Bapak untuk menyelesaikan masalah ini!"

Besoknya...

Suami: "Bagaimana PLN tahu rahasia keluarga saya?"

Karyawan PLN: "Ya tahu dong, lha wong ada catatannya pada kami!"

Suami: "Jadi saya mesti bagaimana agar berita ini dirahasiakan, Pak?"

Karyawan PLN: "Ya mesti bayar dong Pak!"

Suami (sialan gue diperes nih!) : "Kalau saya tidak mau bayar, bagaimana?"

Karyawan PLN: "Yaaa.. punya Bapak terpaksa kami putus..."

Suami: "slompret... ? Lha, kalo diputus... nanti isteri saya bagaimana... ?"

Karyawan PLN: "Kan masih bisa pakai lilin."

Wednesday, July 21, 2010

Stress Meter

Posting kali ini didedikasikan untuk Christin, seorang JS-er yang konon melahap habis blog ini dalam 3 hari.
Christin adalah cake-maker. Kualitasnya pasti terjamin, secara dia anggota milis Jalan Sutra. Silahkan yang mau pesen roti bisa klik di sini atau lewat saya dengan tambahan harga 15%. Hehe…

Kenal Christin akhir Juni kemarin, pas sedang stress mode-on.

Tumpukan pekerjaan, akumulasi permasalahan gawean, ulah teman kerja, kurang tidur, ditambah kejenuhan hasilnya adalah stresssssss luar biasa. Depresi lebih tepatnya.

Saat sedang stress parah biasanya aku jadi cranky atau berusaha ngobrolin masalah dengan seseorang. Biasanya itu bisa mengurangi level stress. Tapi mungkin karena ini sudah depresi, jadinya malah dipendam sendiri.
Padahal hampir setiap malam habis tutup warung, ada saja teman yang ngajak keluar. (*sampai merasa kayak digilir. Hahaha)

Hanya si Ridho dukun-bercelana-batik itu yang sms : mas, kamu kenapa?

Jadilah aku selama beberapa hari cuma diam menggarami hati.

Suatu malam pas saat teduh, aku bertanya sama Tuhan: aku musti bagaimana.

Aku buka Alkitab langsung nemu Mazmur 34 yang berhasil mendiskon stress separo harga: 50% stress bablas ilang.
Tapi karena tetap saja ada masalah yang kudu digarap dan diselesaikan, rasanya masih galau.

Esoknya, ditengah rasa galau dan pengapnya pikiran; tiba-tiba selayalnya dapat wangsit, aku ingat situasi semasa masih kuliah di FT Arsitektur dulu.

Selama beberapa semester, di setiap hari Jumat ada mata kuliah bernama Program Profesional.
Ini adalah program studio di kampus untuk bikin gambar, dll dari jam 13.30 sampai jam 17.30 (selama 4 jam)

Dan selalu saja situasi di bawah ini terjadi.

Dosen atau asistennya akan memberikan assignment, misal: bikin desain kantor kecamatan. Biasanya berlangsung sekitar 20 menit.

Namun alih-alih langsung ngerjain tugas, rata-rata kami malah melakukan hal-hal yang tidak penting: makan ke kantin, merokok dulu, ngobrol ke ruang KM, ngobrol, rapat panitia gak jelas, bahkan ada yang pulang ke kost di jalan parangtritis ambil kertas atau pensil warna yg ketinggalan…

Rata-rata 1 s/d 1,5 jam kemudian baru pada mulai bikin konsep, gambar, dll.
Setengah jam kemudian ruang akan sepi… karena semua stress kuatir tidak bisa menyelesaikan tugas; menyesal kenapa makan di kantinnya terlalu lama, kenapa tadi pulang ke kost malah nggosip sama ibu kost, kenapa tadi malah mainan sama kucing tetangga…

Kalau di jidat kami masing-masing dipasang stress-meter, pasti semua di titik maksimal, indikator lampu dan sirine akan meraung-raung kayak ambulan yang membawa ibu yang mau melahirkan.


Tingkat stress ini terus meningkat hingga jam 17.15 sore; 15 menit sebelum tugas kudu dikumpulan.

Tepat jam 17.20 sore (waktu tinggal 10 menit). Ruang studio akan kembali gaduh, semua tertawa-tawa, jalan2 liat hasil kerja orang lain…. Mulai berbenah….

Stress-meter nya NOL!
Semua merasa lega. Tanpa beban.

Apakah tugas sudah selesai sempurna?

Belum! Belum banget!

Tapi kenapa kok malah stressnya ilang?

Kami pernah membicarakan fenomena ini. Kenapa rasa stress ilang justru ketika waktu tinggal beberapa menit, padahal tugas belum selesai.

Semua sepakat, karena sudah gak ada harapan tugas akan selesai. Sudah tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan gambar denah, gambat tampak bangunan, apalagi bikin perspektif dan mewarnainya….

Artinya: kami stress justru karena sebenarnya sadar masih ada cukup waktu untuk menyelesaikan tugas. Tentunya dengan kondisi fokus mengerjakan tugas dan tidak membuang-buang waktu untuk urusan lain yang tidak penting.

Ingat hal itu, langsung stress meter aku turun sampai hanya 10%
Aku tahu masih kudu menyelesaikan masalah, tapi rasanya lega menyadari rasa stress beberapa hari ini menunjukkan bahwa sebenarnya masih cukup waktu dan cara untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah yang aku hadapi. ……asaaaaal gak terus bolak-balik "ke kantin" lagi.

HORE!!!! Lega banget!

ke kantin dulu ah!, kata Didot: tahu gorengnya baru mateng….. (*ga kapok mode on)

-----------


Share anekdot yang baru saja bikin aku ngakak gak berhenti.

3 pemuda : Aki, Oki dan Uki berhasil membebaskan jin yang terperangkap disebuah lampu ajaib.
Seperti biasa, si Jin mengabulkan permintaan masing-masing 3 orang tersebut.

Aki minta terkunci disebuah gua selama 10 tahun dengan ditemani 50 wanita cantik, seksi dan mencintai Aki. Jleb! Terkabul!

Oki minta terkunci disebuah gua selama 10 tahun dengan ribuan botol minuman beralkohol berkualitas tinggi. Jleb! Terkabul!

Uki minta terkunci disebuah gua selama 10 tahun dengan ribuan batang aneka rokok dan cerutu berkualitas terbaik. Jleb! Terkabul!

10 tahun kemudian…. Jin kembali untuk membuka masing-masing gua ketiga orang tersebut.

Aki merangkak keluar dengan badan kurus kering, lemas kehabisan tenaga melayani 50 wanita cantik yang mencintainya. Belum genap 2 meter, Aki rebah dan mati.

Oki keluar dengan perut yang membuncit, mabok berat dan sinting kebanyakan minuman keras. Sempoyongan 10 langkah ambruk dan mati.

Uki keluar gua segar bugar, mukanya merah emosional, tangan berkacak dipinggang, marah luar biasa dan langsung berteriak “JIN GUOBLOK!!! Koreknya mana????!!!!!!

Hahahahaha……..
HAHHAHAHAHA……………..

Wednesday, July 07, 2010

Agus, Cap Cay, dan Aku.

Dua fragmen pertama sudah ditulis beberapa minggu yang lalu namun gak sempat ter up-load. Tapi fragmen ketiga terjadi hari ini sebagai aplikasinya.

Seorang teman blogger: Agus, tertegun ketika naik taksi.
‘loh! Ini khan Mbelgombes : konco SD dulu’, batinnya.

Sebaliknya si supir taksi tidak mengenali penumpangnya yang ngganteng dan sukses itu adalah orang yang dulu sering diolok-oloknya.

Agus pun kikuk: haruskah memperkenalkan diri.
Namun akhirnya tidak dilakukannya.

Gak ngerti persis alasan dia, tapi menurut aku memang gak perlu. Gak ada manfaatnya.
Karena setelah pertemuan itu, toh Agus dan Mbelgombes akan sibuk dengan kehidupan masing-masing dan tidak akan ketemu-ketemu lagi.

Lagipula, emang kenapa kalau “hanya” jadi sopir taksi? Kebahagiaan dan humanisme seseorang tidak diukur dengan profesi, kekayaan, atau bentuk fisiknya.
Iya tho?! Iya tho ?!

Agus, tahu persis dia sudah bahagia, hebat dan ngguanteng tanpa kudu menginjak teman yang dulu sering mengoloknya.


------


Sebulan yang lalu ketemu Didid dan dikenalkan dengan 2 orang yang bersamanya : Cap Jay dan Buyung Hay

Malamnya aku baru tahu, Cap Jay adalah mantan pacar Didid, yang tinggal di Surabaya datang ke Solo untuk memperkenalkan Buyung Hay, pacar barunya ke Didid.

Aku ngakak tanya Didid : ‘ha???! Buat apa???”
Bukankah setelah Didid dan Cap Jay putus, hampir gak ada komunikasi.

Jawab Didid: “iya, sebenarnya di hati gak enak banget lihat Cap Jay sama orang lain”

Cap Jay jauh-jauh dari surabaya ke solo (*numpang nginep di rumah Didid pulak) untuk menunjukkan kepada Didid, ‘ini loh pacar gue yang baru....’


-----


Beberapa hari yang lalu mendapat friend invitation di FB. Sekilas aku baca namanya Risonto. Seperti biasa aku langsung confirm yes, trus aku tulis di wall: “thank’s sudah invite, tahu aku dari mana?”

Dia mengaku teman Titi, dan suka baca blog ini.

Barulah aku lihat di mutual friend, ternyata memang ada si Titi.
Intuisi aku: halah, Risonto ini pasti pacar terbaru Titi.

Saat ini bagi aku Titi adalah masa lalu. Aku juga menghargai Risonto yang mengapresiasi blog ini. Jadi aku merasa it’s okay okay saja dengan uluran pertemanan Risonto .

Tapi tadi siang, ketika aku mau mengelompokkan teman-teman baru di FB, aku lihat nama Risonto sdh hilang.

Aku kirim message ke Risonto tentang hal ini. Aku kuatir kalau namanya ter-remove tanpa sengaja atau karena sistem FB, trus dia mengira aku yang remove.

Sesuai dugaanku, si Risonto mengaku bahwa dia pacar Titi dan bilang Titi nggak nyaman kalau kami berteman, jadi langsung dia remove aku dari friendlist. (*geleng-geleng kepala)
Dia juga bilang sebenarnya gak ada masalah pribadi, dstnya.

Lah trus ngapain kemarin invite? Trus ngapain diem-diem remove. Hehe kasihan banget laki-laki gak punya prinsip.

Atau jangan-jangan dia kayak si Cap Cay yang pengen pamer, “look! Titi is mine”

So, aku bilang sama mereka berdua : STAY AWAY!! ……

Ditengah repotnya gawean hari ini, rasanya mangkel banget dengan gangguan sampah kayak gitu.

Tapi kemudian aku malah prihatin sama mereka berdua.

Ngapain coba Titi masih nyeret-nyeret aku di dalam hidupnya; cerita tentang masa lalu kami sama pacar terbarunya: Risonto.

Sebut saja aku over kepedean; tapi memang Titi TIDAK AKAN PERNAH nemu orang yang bisa menyerahkan hati seutuh yang pernah aku berikan.

Sudah saatnya Titi dan dunia tahu : ketika aku memilih bersama Titi dulu, bapak aku mencoret aku sebagai anaknya, dan berpesan agar tidak menulis nama aku di nisannya suatu saat beliau dipanggil Tuhan kelak.

Tidak ada orang lain yang akan bersedia menjalani pilihan itu dan diperlakukan sebagaimana Titi memperlakukan aku selama ini.

Setelah kebersamaan kami, Titi hanya akan menerima secuil - dua cuil hati no 2, 3 atau 17 dari orang-orang yang berteriak, “Titi I love you full”

Demikian juga utk Risonto, dan pacar-pacar Titi berikutnya.
Hehehe… Apapun yang akan mereka lakukan, tidak akan pernah cukup di mata dan hati Titi.
Dan kalau aku saja diperlakukan seperti itu; hehe…yaaahhh…semoga saja mereka masing-masing diberi kebesaran hati dan keikhlasan …ketika saatnya tiba nanti.

Kehidupan selalu punya cara untuk menagih ‘karma’

Just watch the payback time guys!

Tuesday, July 06, 2010

.....koma

Posting ini didedikasikan bagi sahabat saya, Penjelajah Langit: cewek tangguh yang suka travelling dan nonton world cup, yang sedang bingung karena kucingnya hilang, punya blog keren, tapi juga suka baca blog ini :)


Jam 10 pagi.
Aku di warung sedang menyiapkan faktur pengiriman barang. Tiba-tiba terdengar decit keras suara ban direm…. Chiiiiiiiiiit…*DUBRAAKKK!!

Perempatan jalan di depan warung memang selalu ramai lalu lintas. Gak ada lampu merahnya.
Mangkanya lumayan sering terjadi kecelakaan.
Mangkanya gak tertarik nonton. Sudah biasa!

Tapi 3 detik kemudian aku lari keluar karena suara orang banyak yang berteriak-teriak panik.

Aku lihat di luar penuh orang. Ada sebuah mobil L300 warna biru tua.
Ban depan dan belakang sebelah kanan nangkring naik ke pembatas jalan. Jalan aspal di belakang mobil terdapat bekas benda terseret sejauh 10 meter.

Mobil itu menabrak tiang tanda lalu lintas sampai bengkok.

Di bagian kiri depan ada sebuah sepeda yang separonya berada di bawah mobil.

Tapi yang paling horor: diantara dua ban belakang terlihat sesosok tubuh diam dalam posisi meringkuk.

Orang-orang segera berusaha mengeluarkan tubuh itu.
Aku membayangkan mungkin ada bagian tubuhnya yang terlindas, dan akan ada darah dimana-mana. Ya Tuhan….

lokasi tabrakan, tiang tanda lalu lintas yang masih bengkok

Meski kolong mobil sudah agak tinggi karena 2 ban mobil sebelah kanan naik ke pembatas jalan, namun tetap saja orang-orang kesulitan mengeluarkan korban.
Akhirnya beberapa orang bersama-sama mengangkat mobil agar korban bisa ditarik keluar.

Korban ternyata masih abege. Usia 18-an.

Pingsan. Tentu saja.

Tapi masih hidup. Syukurlah!!

Herannya: gak ada luka parah.
Hanya luka baret di kening kiri dan lengan kanan. Itupun gak sampai berdarah-darah.
Korban langsung dibawa ke rumah sakit.

Seharian itu aku sibuk, jadi gak sempat apdet situasi selanjutnya.

Sorenya mas Teguh, pengemudi beca depan warung bercerita: si korban di bawa ke rumah sakit, sebentar kemudian siuman, shock namun hanya pegal-pegal dibadan.
Dokter juga tidak menemukan simptom gegar otak.
Luka-luka baret hanya diberi betadine. Siang itu langsung pulang ke rumahnya.

Syukurlah! Banyak orang sudah menduga korban akan tewas.
Kata si mas Teguh lagi: ibu dan bapak anak itu seneng banget dan menganggap ini ‘nyawa balen’ (kematian yg secara ajaib bisa terhindarkan). Aku ikut lega dan bersyukur.

Petang hari itu trending topic di lingkungan kami adalah korban tabrakan yang bisa lolos dari maut. Dibahas mulai dari kronologi, hingga bagaimana beruntungnya si anak itu bisa selamat dengan hanya luka kecil.

Banyak yang menganggap ini mujizat. Termasuk aku.

...........

Esoknya, dengan muka datar mas Teguh cerita lagi: malam hari itu, si anak mengeluh ulu hatinya gak enak.

Oleh bapak ibunya segera dibawa ke rumah sakit.

Belum sampai rumah sakit, anak itu meninggal. …..


Semalam aku ngomel kejadian ini sama Agil.

Ini dagelan kehidupan yang sangat amat tidak lucu. sungutku

Semua orang sudah terlanjur happy dan bersyukur karena anak itu selamat.
Eh kok malamnya meninggal juga! Betapa mengecewakannya......

Bukan berarti aku lebih senang anak itu langsung tewas di tempat. Tapi kalau akhirnya tewas juga, apa bedanya ditunda beberapa jam. Bukankah itu membuat kecewa karena terlanjur senang melihat anak itu selamat.
Jangankan keluarganya. Aku saja kecewa.

Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life pasti berkata, “oh itu pasti karena Tuhan punya tujuan….”

Riza apoteker penganut predestinasi itu pasti sms, “wis nasib-e mas….wkwkwkwkw”

Huh….


Namun, akhirnya aku dan Agil sepakat :

Bagi anak itu, mungkin gak ada bedanya tewas langsung atau tertunda beberapa jam. Ga ada tujuan atau manfaat baginya secara pribadi.

Tapi bagi orang tua dan keluarganya; itu sangat berarti. Bahkan mereka pasti bersedia membayar apabila perpanjangan hidup itu dikenakan biaya. Karena anak itu pasti sangat berharga bagi mereka.

Layaknya pertandingan sepak bola ‘world cup’ sekarang ini, perpanjangan waktu main 10 menit pun pasti akan sangat berharga. Mungkin bisa tercipta satu gol tambahan lagi.

Lanjut lagi: kalau tambahan hidup yang hanya beberapa jam itu sangat berharga….apalagi kalau aku sampai diberi kesempatan hidup lebih panjang; entah itu 3 bulan, 5 tahun, 12 tahun, 30 tahun, 49 tahun, atau mungkin bahkan 93 tahun lagi….pasti luar biasa tak ternilai.

WaaaAhhhh…

(*ngaku tidak pintar memanfaatkan waktu dalam hidup)

Saturday, July 03, 2010

inggih Gusti....



..... inggih Gusti, paring dawuh...


(*...baiklah Tuhan, bersabdalah...)


Sunday, June 27, 2010

Dream On

Tetralogi Laskar Pelangi, Susan Boyle, serta semilyar slogan mengajarkan: tidak ada impian yang mustahil, dan jangan pernah berhenti menggapai mimpi yang seluas alam semesta.

Really?

Setelah nonton Glee di episode Dream On, aku jadi mikir……...

Dikisahkan di episode itu: Bryan Ryan pengawas sekolah yang baru, berencana membubarkan Glee karena menganggap klub ini hanya menebar mimpi yang tidak realistis. Kata Ryan di depan anggota Glee:

(elo jangan bermimpi..) 91 % dari kalian setelah lulus akan tetap tinggal di Ohio, bekerja sebagai middle market insurance marketer atau pegawai panti jompo.

Impian hanyalah pengisi kekosongan dalam hidup kalian…

a discouraging speech indeed.

Para anggota Glee tidak bisa menerima ini. Mereka justru terbakar mengejawantahkan impian mereka. Salah satunya Artie yang lumpuh makin bertekad bisa sembuh dan menari. Bahkan belum-belum sudah beli sepatu tap-dance.

Tetap akhirnya Artie harus menelan kepahitan bahwa cedera tulang belakangnya terlalu parah, sementara belum ada teknologi kedokteran yang bisa menyembuhkannya.

Kolom Samuel Mulia di Kompas Minggu 27 Juni 2010, berjudul ‘Menyerah’ yang mengutarakan adanya pilihan ‘menyerah’ pada suatu tahap dalam memperjuangkan sesuatu.


Aku jadi mikir……

Semakin muda usia seseorang, biasanya makin tinggi impiannya.

Hampir tiap anak kecil selalu berucap ingin jadi presiden atau cita-cita setinggi langit lainnya.

Kayaknya gak ada anak kecil, remaja, bahkan dewasa muda yang berkata ingin jadi orang biasa yang bekerja setiap hari hanya untuk bertahan hidup….

Padahal kenyataannya mungkin 91% manusia menjalani hidup demikian; bekerja keras hanya agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adalah kenyataan kehidupan yang sering membunuh impian seseorang, memadamkan kemampuannya untuk terbang ke langit ke tujuh.

I had a dream my life would be
So different from the hell I’m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed
(potongan lirik lagu 'Dream On')

Kadang hidup bermurah hati memberi pilihan, namun lebih sering dengan sadis memaksa seseorang ‘menerima nasib’.

Aku jadi mikir……

Trus kenapa seseorang kudu punya impian? Bukankah impian hanya menjadi beban yang berujung kekecewaan. Tidak bisakah seseorang hidup mengalir, nrimo ing pandum….

Sampai di batas mana kita boleh bermimpi…

Sampai sejauh mana kita harus berjuang menggapai mimpi itu…

Dimana peran Tuhan menentukan pencapaian mimpi kita? Bukankah Tuhan tahu yang terbaik? Bukankah impian tiap orang adalah kebaikan?

Apakah setelah kehilangan 2 impian besar dalam hidup, aku masih kudu tetap mempertahankan target tinggi impian lain yang mungkin tidak akan pernah tercapai? Mengapa tidak menyerah saja seperti tulisan Samuel Mulia?

Seperti seorang anak yang kemudian sadar bahwa sinterklas itu hanya halusinasi; sebaik apapun kelakuan aku, ortu aku tidak akan memberikan sepeda lewat cerobong asap….

Aaah…. Bikin gak bisa tidur......

Kayaknya gak akan nemu jawaban segera. Butuh perjalanan seumur hidup untuk bisa memahami ini.

Tapi toh sampai dititik ini aku mendapatkan pemikiran:

Kehidupan jelas membuat aku lebih realistis. Bisa membedakan ‘impian’ dan ‘visi’

Dan bagaimana mengubah impian jadi visi.

Impian adalah sesuat abstrak yang didasari ego, sementara visi lebih didasarkan pada situasi dan fakta yang ada di saat ini.

Bahwa untuk menggapai impian, ada pilihan-pilihan yang harus diambil serta pengorbanan yang kudu dilakukan.

Well… aku tidak percaya nasib tapi sebaliknya juga berpikir: berbeda dengan angkasa yang tidak terbatas, kehidupan sangat dibatasi waktu, serta dimensi lain.

Ada juga kekuatan dan peranan Tuhan pada situasi-situasi tertentu.

Lalu juga….

Apakah berarti kepahitan-kepahitan yang sudah terjadi membuat aku menyerah?

TIDAK!

Aku sadar tidak akan jadi arsitek profesional lagi. Beberapa hari yang lalu aku juga sudah menolak tawaran mantan boss untuk kembali bergabung di konsultan arsitektur tempat dulu aku pernah bekerja.

Aku sudah bisa mulai tersenyum kalau mengingat kenangan bersama Titi; berdamai dengan diri sendiri dan mulai melihat bahwa ini situasi terbaik yang Tuhan berikan.

Namun saat ini masih banyak visi-visi lain yang saat ini patut dan sedang diperjuangkan: keluarga, pekerjaan, apresiasi diri, hubungan dengan teman-teman….hubungan dengan Tuhan (*sok religius)….

Hal-hal sederhana dalam kehidupan.

Semoga Tuhan menolong kita semua.