Pages

Friday, January 25, 2008

Laskar Jelaga (entry 2)

previous entry :
klik sini : Laskar Jelaga (part 1)

Kekacauan masa sekolah di SMP sudah berakar sejak SD.

Sebelum SD, aku hanya 1 bulan duduk di taman kanak2. Karena pintar? bukan. Karena benci sekolah.
Aku ga ngerti kenapa setiap pagi kudu ke sekolah. Dan kenapa sekolah diadakan pagi hari.

Setelah 1 bulan, aku protes keras setiap kali diantar sekolah.
Waktu itu ortu mungkin berpikir, ‘Lah! langsug saja nanti masuk SD’

Ketika yayasan gereja kami mendirikan sekolah, aku didaftarkan masuk kelas 1 SD dan Ay – adik aku masuk TK.
SD Kalam Kudus yang baru didirikan hanya memiliki TK Kecil, TK Besar, kelas satu s/d kelas tiga. Masing2 satu kelas. Jumlah muridnya 20-an anak perkelas.

Waktu masih kelas satu, aku sering bangun tidur di atas beca dalam perjalanan ke sekolah. Itu artinya ritual cuci muka, memakai baju seragam, memakai sepatu, hingga naik ke beca dilakukan oleh pengasuh, sementara aku masih tidur. Pemalas banget !
Aku sering dimarahin sama mbak yang mengantar aku sekolah, karena tidak jarang ketika bangun di tengah jalan, sambil ngusek2 mata aku bilang, “mbak, aku baru ingat belum bikin pe-er, hari ini kudu bawa bahan prakarya ini, kudu bawa itu…” si mbak jadi kalang kabut.
Mungkin kalau itu terjadi kini, mungkin aku sudah dimutilasi. Hehe…

Sebenarnya mama sudah berusaha menyisihkan waktu untuk setiap malam supaya aku mengerjakan pe-er. Tapi sepanjang hari papa mama sudah dilelahkan dengan kesibukan mereka mengelola toko. Typikal keluarga china pedagang. Sehingga kadang urusan sekolah anak2 kurang menjadi prioritas. Bagi keluarga china menjadi pedagang tidak harus sekolah tinggi2, cukup mengenal angka dan bisa jaga toko.

Ada habit menjijikan sejak kecil. Aku suka menahan buang air besar sampai kadang jebol di celana. Ga tahu kenapa demikian, tapi sejak balita konon selalu menangis keras ketika buang air besar. Di SD beberapa kali guru harus mengantar aku ke toilet karena keburu jebol di celana dan tentu saja baunya kemana-mana…(*hoek..hoek!)
Ketika rada besar (kelas 3 ke atas) aku mulai menyadari kenapa demikian. Aku ga pernah bisa nyaman buang air di kloset selain yang di rumah. Jijik.
Di kelas 1 SMP aku pernah jebol di celana sekali. Dari pagi sebenarnya sudah pengen kebelakang tapi aku tahaaaaan terus. Ketika sudah ga tahan aku minta ijin guru untuk ke toilet. Terlambat!! Belum sampai di toilet sudah jebol di celana. Aku langsung lari pulang. Para guru yang duduk di depan kantor guru pasti heran melihat aku lari sipat kuping sambil memegangi celana bagian belakang.
Itu bukan yang terakhir. Di SMA pernah sekali juga. Waktu sedang praktikum kimia di SMA 3 Yogya. Langsung pulang. Sepeda aku tuntun.
Sekarang sudah ga. Setidaknya aku sadar…kalau nekad nahan karena jijik…lebih malu kalau jebol di celana.

Ketika pertengahan kelas 2 SD, papa mama bertengkar hebat dan papa pergi.
Tinggal mama sendiri dari pagi hingga malam mengurus toko dan kami 4 bersaudara. Yang bungsu belum genap 1 bulan usianya.
Aku bisa memahami kalau urusan sekolah aku dan Ay hanya menjadi urusan domestik para pengasuh.
Bisa dibayangkan kalau kegiatan sekolah kami berjalan amburadul. Kami selalu duduk di rangking2 terakhir. Bukan berarti mama sama sekali tidak memberi perhatian, kami berdua sudah dicariin guru les, dll. Tapi mama sudah terlalu lelah untuk memperhatikan sekolah aku dan Ay. Bagi mama dan papa yang penting kami naik kelas. Itu cukup.
Aku ingat sekali setiap senin, rabu dan jumat pukul 2 siang aku harus pergi les pelajaran sekolah. Berat sekali. Rasanya malaaaaas sekali.
Tapi aku juga ingat, aku lebih bersemangat pada hari selasa dan kamis. Aku les bahasa Inggris di Oxford English Course, disana teman2 kursus jauh lebih tua. Kebanyakan mahasiswa. Rasanya lebih exciting. Padahal aku kudu jalan kaki, naik angkot, jalan kaki lagi…..

Sejak kelas 1 SD, aku punya beberapa teman dekat : Sonny, Djie Hong, Agus, dan Kwan. Diantara mereka, Kwan yang paling dekat. Nama lengkapnya Tee Kwan Yung. Sama dogolnya: kalau dikelas kami berdua sering di lempar kapur karena ngobrol. Cuma Kwan yang tahu aku beberapa kali kirim surat cinta kepada Lili cewek yang bikin aku dewasa sebelum waktunya. Hehe… Lili ini putih, cantik (*jelas!) setiap pagi diantar pake mobil, rambut sepinggang pake bando warna pink….haaagh! kalo cuma Nia Ramadhani belum apa2nya.
Setelah beberapa kali mengirim surat, aku menulis, “Lily aku mengagumimu, maukah kau menjadi pacar ku?”
Kwan Yung ngakak dan berkata, “Pras surat kamu dibaca semua mbak2 dikantin…”
Waktu itu aku kelas 2 SD. Masih cukup kebal malu, tapi rasa cintaku lenyap: dasar cewek yang ga bisa dipercaya!!!
Sampai kelas 3 aku selalu duduk dengan Kwan yang sudah tidak punya ibu. Kwan hanya punya ayah dan 1 adik yang juga laki2.
Aku dan Kwan sering ngluyur sepulang sekolah. Dengan masih membawa tas dan botol minum, kami nyasar2 kemana-mana.
Suatu hari kami berdua tanpa sadar tersesat. Untung seorang tukang beca yang biasa mangkal di depan sekolah menemukan kami. Bapak ini heran melihat kami jam 3 sore masih mebawa perlengkapan sekolah berjalan2 di tempat yang jauh dari sekolah.
Aku masih ingat bau Kwan sampai sekarang. Seperti susu.

Pada suatu hari, Kwan tidak masuk.
Kira2 jam 10, ibu Merry masuk dan berdiri di depan kelas. Dengan mata merah dan terbata-bata, bu Merry berkata, ‘anak-anak, teman kalian Kwan Yung kemarin sore mengalami kecelakaan di Ungaran. Kwan Yung sudah tiada dan akan dimakamkan nanti jam 3 sore. Bagi yang mau ikut bisa berkumpul disekolah’
Tangisku sudah pecah bahkan sebelum bu Merry selesai berkata. Aku sudah tidak mendengar apa yang dikatakannya kemudian.

Rasanya sedih sekali.
Pahit sekali.

Kwan, ayah serta adiknya pergi ke Semarang. Demi menghindari truk di daerah Ungaran, mobilnya selip dan terguling. Pintu belakang terbuka, dan Kwan yang duduk dibelakang terlempar keluar dan terbanting di aspal.
Aku tentu saja ikut mengantarkan Kwan hingga ke pemakaman, melihat petinya diturunkan ke dalam tanah. Sepanjang siang itu aku tidak lelah menangis.
Sampai di rumah aku menangis di pangkuan mama hingga tertidur. Bahkan saat ini rasanya masih pengen nangis kalau ingat saat itu.
.......

Dulu kala ketika tahun 70-an, tahun ajaran sekolah dimulai sekitar awal Januari hingga akhir Desember. Jadi kenaikan kelas selalu terjadi akhir Desember. Padahal di luar negeri tahun ajaran selalu berawal dan berakhir di pertengahan tahun. So Indonesia menyesuaikan diri. Itu terjadi pas aku kelas 5 SD. Semua kelas ditambah ½ tahun. Waktu itu papa sudah balik ke Solo lagi.
Apa yang terjadi sejak kelas 1 menjadi bom waktu yang meledak di kelas 5. Ketika kenaikan kelas : aku dan Ay (*adik aku) TIDAK NAIK KELAS!

Mama dan Papa marah dan gusar sekali. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku dan Ay hanya menangis.
Mama berkata, ‘ya sudah, ini menjadi pelajaran bagi kita semua’. Tapi papa tidak bisa menerima, apalagi menurut papa bukankah kelas 5 sudah berjalan selama 1,5 tahun yang seharusnya membuat guru + murid patut naik kelas.
Maka papa pun memindahkan kami berdua ke sekolah kecil di kampung dekat rumah kami yang mau mengikuti keinginan papa : naik kelas! Aku kelas 6 dan Ay kelas 5.
Ga tahu sekolah kayak apa itu.

Sekolah itu SDN Kajen 138. berada di tengah sebuah kampung dekat pinggir sungai.
Pada hari pertama masuk, papa dan mama mengantar aku dan Ay ke sekolah. Kami berdua memakai seragam baru, sepatu baru, tas baru. Dan kami kaget bukan kepalang…. Selain aku dan Ay, hampir semua murid tidak mengenakan alas kaki. Ada beberapa yang pakai sendal, tapi ga ada pakai sepatu.
Kalau di sekolah yang lama 99% murid adalah china. Disini, hanya kami berdua yang china. Aku dan Ay ibarat 2 jerawat bengkak di jidat. Aneh, gagu, bikin bete. Mereka memandangi kami seperti mahluk asing dari luar angkasa.

Tapi hari pertama berjalan dengan baik, aku bisa langsung diterima menjadi bagian dari kelas 6 yang terdiri dari 28 murid. Bahkan aku langsung punya teman sebangku yang jadi sahabat kental : Suprapto. Aku juga punya ‘gang’ yang anggotanya : Giri, Harto, Iyus, Yono, Yayuk (the only girl) dan tentu saja si Prapto. Kami suka kluyuran sepulang sekolah. Main ke sungai, mencari ikan cetul di kali, main layangan, lari2 dikejar mandor tebu, menangkap capung, sahut + buka puasa, mancing di kolam sriwedari, nonton film, nyolong mangga….
Hal2 yang tidak dilakukan anak2 china kota.

Aku cuma setahun di SD ini. Sebuah SD negeri sederhana. Dindingnya anyaman bambu, atap genting tanpa langit2, lantai tanah, bocor ketika hujan, gelap ketika langit mendung….
Tapi ini adalah salah satu masa-masa bahagia dalam hidup. Meski prestasi sekolah masih biasa2 saja, tapi aku merasakan bersemangat setiap kali pergi ke sekolah. Aku seperti angsa yang menemukan kolam.

Kulit aku jadi kayak langes, kayak jelaga, terbakar matahari.
But I’m happy. Quite happy.

Suatu situasi yang tidak aku dapatkan ketika SMP…kembali ke titik nol….
to be continued.....

Tuesday, January 22, 2008

Laskar Jelaga (entry 1)

Kemarin malam sehabis tutup toko aku ke Gramedia. Berharap bisa mendapatkan buku Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Aku sempat nonton talkshownya di acara ‘Kick Andy’.
Sampai rumah langsung aku baca. Hingga tadi sore aku tidak bisa melepas buku ini. Aku ngakak dan nangis bombay membacanya.
Tidak banyak buku yang bisa mengaduk emosi aku. Buku ini bisa.
Bahkan sekaligus menantang aku mengingat dan menulis masa sekolah dulu untuk bertanya kepada diri sendiri : apakah aku sudah cukup mensyukuri kehidupan.

Waktu SMP aku bersekolah di Solo : SMP Widya Wacana II.
Menurut aku sekolah adalah kegiatan yang sangat ga penting. Berangkat ke sekolah hanya karena itu yang diwajibkan pemerintah dilakukan oleh anak seusia aku.

Setiap hari setelah berjuang bangun dari tidur (diteriakin mama : BANGUUUUN!!!!! Udah mau telaaaatttt!! Mama sudah ga mau bikin surat ijin lagiiii!! Malu!!), mandi+berpakaian, kelabakan menyiapkan buku dan tas (sadar belum mengerjakan pe-er) aku dan Ay adik aku bergegas naik beca ke sekolah, “pak cepet ya, wis meh telat!”

Berbeda dengan Lintang - anggota Laskar Pelangi yang kudu menghadapi buaya sebesar pohon kelapa demi bisa bersekolah, aku selalu berharap kucing tetangga beranak, Presiden Suharto meresmikan pabrik semen, ada ibu melahirkan kembar, atau kejadian ga penting lainnya hanya sebagai alasan untuk tidak masuk sekolah.
Dalam seminggu pasti ada saja 1 hingga 2 hari ga masuk. Sakit? Bukan! Ga bisa bangun. Hehe.
Sampai salah satu wali kelas aku bilang, “Bapak tidak bisa mengisi jumlah absen kamu di rapor. Bingung menghitungnya!” Aku pernah diajak menghitung jumlah hari bolos selama 1 tahun : 42 hari!

Kalau di suatu pagi aku berhasil menyeret diri ke sekolah, menurut aku itu sudah sangat cukup.
Sementara teman2 tekun mencatat pelajaran, aku lebih tertarik bikin surat cinta untuk Mike (cinta monyet, cewek paling ‘matang’ dikelas), memperindah meja dengan tip-ex, melipat-lipat buku, merajang karet penghapus dengan cutter, baca komik, ngobrol dengan siapapun yang sama geblegnya. Atau mengukir meja dengan pisau lipat sampai meja bocel2 ga karuan.


Karena tidak pernah mencatat, aku tidak punya bahan untuk menghadapi ulangan. Akibatnya semua ulangan dihadapi dengan metode sama : mengarang indah. Baik itu pelajaran bahasa Indonesia, IPS, IPA bahkan matematika. Jawabnya dengan mengarang. Hahaha.
Tentu pake logika. Aku tahulah bukan Mussolini yang memimpin partai Nazi di Jerman, jumlah sudut segitiga adalah 180 derajat, aku ga mungkin menjawab protozoa itu nama jendral yang memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Panarukan di Afrika Barat.

Ada satu hoby yang menyelamatkan aku dari azab kebodohan: membaca. Setiap hari aku menyimak koran langganan mama : Suara Merdeka. Aku juga berlangganan majalah Hai dan Intisari. Ada saja berita atau artikel pengetahuan umum yang menarik. Aku jadi tahu nama perdana menteri Inggris, letak pulau Binton penghasil aspal, lintang titik balik lintasan matahari……
Sayangnya tidak ada artikel yang bisa merangsang aku untuk menyukai pergi ke sekolah.

Kebalikan dengan Mahar - anggota Laskar Pelangi yang sangat estetik, prakarya adalah pelajaran yang paling aku benci. Bahkan sering gara2 mata pelajaran ini aku bolos sekolah. Aku ga pernah bisa mengerti mengapa teman2 mau saja disuruh menggergaji tripleks, memotong2 kertas, belepotan cat dll.
Guru biasanya tidak dikelas selama pelajaran prakarya. So instead of ngerjain tugas, aku lebih suka berkeliling2 kelas (merasa jadi pengawas) ngobrol2 ga jelas dan memberi komentar hasil karya teman2, ke toilet kencing, mengendap-endap ke kantin beli wafer coklat ‘superman’….
Selama 3 tahun di SMP, seingat aku tidak pernah sekalipun mengumpulkan tugas prakarya.

Aku hampir selalu mendapat rangking 1…dari belakang. Kebalikan dari Wulandari yang selalu mendapat rangking 1 dari depan. Anak ini kesayangan para guru : rajin, tulisannya bagus, ga bikin masalah, kelak melanjutkan di SMA dan Universitas ternama, mengharumkan nama sekolah dan guru2 SMPnya, bermasa depan cerah …

SMP Widya Wacana II bukan merupakan SMP favorit di Solo. Orang tua yang memiliki anak2 pintar dan rajin akan memilih SMP Negeri, SMP Pangudi Luhur atau setidaknya SMP Widya Wacana I.
Berdasarkan pengamatan aku, kebanyakan lulusan SMP WW II melanjutkan hidupnya dengan kawin muda, bantuin usaha ortu, cari kerja atau lainnya. Jarang aku mendengar guru kelas kami bercerita tentang alumni yang menjadi akademisi atau profesi2 keren : dokter, geologis, psikiater….

Di SMP WW II setiap tingkat terdiri dari 3 kelas; A, B, C . Konon kelas A untuk murid yang lebih pintar. Mungkin kelas C sudah terlalu penuh, aku dimasukkan kelas B. Hihihi….

Dikelas 1 aku sebangku dengan Bobby alias Robbert. Kami berteman karib meski kami seperti angka 10 : dia nduuuuut banget, aku kurus kayak ranting (tapi ganteng). Kami sering ngobrol, bobby banyak bercerita pengalaman liburan dia ke Jerman, lomba yudho dan anjing2 herdernya.
Bobby teman yang baik, kadang mau meminjamkan catatan, ngasih contekan pe-er dan pas ulangan. hehe

Dikelas 2 dan 3 aku pindah duduk sebangku dengan Kian Hien. Anak ini rajin dan pintar, selalu rangking 5 besar. Tapi Kian Hien pelit bukan main, ga pernah mau ngasih contekan. Ketika ulangan, dia selalu menutupi kertas ulangan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan menulis (aku duduk disebelah kanannya) sambil matanya selalu melirik melototin aku yang putus asa memandang bolak-balik : Kian Hien dan kertas ulangan aku yang masih kosong dengan pasrah.

Setiap kali kenaikan kelas pasti ada rapat untuk menentukan kenaikan kelas murid2 bernilai minim. Yakin banget aku adalah salah satu murid yang dibahas tiap tahun dan membuat para guru berdebat sengit.
Kalau buku Laskar Pelangi bercerita tentang 10 sahabat yang berjuang melawan kepahitan hidup namun tetap bersemangat sekolah, sebaliknya aku adalah anggota Laskar Jelaga, manusia dengan masa depan semuram jelaga.

Selama 3 tahun di SMP: 6 semester = 6 kali terima rapor di SMP, hanya ada satu nilai 7 : pelajaran agama waktu kelas 1, selain itu semua nilai terdiri dari 6 dan 5.

Sebelum ujian akhir dan kelulusan, beberapa teman dengan antusias membicarakan rencana mereka dan SMA pilihan : SMA Negeri 3, SMA St. Yoseph dan SMA top lain di Solo dan luar kota, sementara aku menanggapi itu seperti mendengar berita kepindahan Rieke Dyah Pietaloka a.k.a Oneng dari Partai PKB ke partai PDIP. So what! Ga penting kalee!

Dalam hati heran juga ketika aku juga dinyatakan lulus dalam ujian akhir SMP.
Sebenarnya ga niat banget bisa melanjutkan sekolah. Tapi mama memaksa. So aku ikut tes masuk SMAN 3, SMA Negeri paling favorit di Solo dan sekitarnya. Peminatnya bukan main. Untuk mendapatkan nomor tes saja, mama kudu membayar tukang beca langganan untuk antri sejak jam 3 pagi.
Dengan pede+nekad+ga sadar diri, aku ikut tes penerimaan murid baru. Sayangnya panitya penerimaan tidak menghargai jawaban ala ‘mengarang indah’ aku hehehe… aku ga diterima.
Selain SMA Negeri 3, aku hanya mendaftar di SMA St. Yosef: another SMA swasta yang sama favoritnya, sama terkenalnya, sama banyak peminatnya, dan aku sama ga diterimanya…..

Karena hanya daftar di 2 sekolah itu, tinggal satu kesempatan melanjutkan SMA: di SMA Widya Wacana. Dan aku emoh banget! Alasannya : disitu muridnya China semua. Ga asyik! Ga keren! Aku ga mau terjebak kehidupan typikal keluarga China (padahal belum tentu juga dengan rapor kayak gitu aku diterima)
Tapi demi menuruti keinginan ortu, aku tetep daftar untuk ikut tes masuk.

Ada satu lagi alasan aku mau melanjutkan ke SMA: aku ga mau bantuin ortu jaga toko. Aku ga bisa membayangkan masa depan aku mengelola toko ortu. Emoh!!
Aku sebenarnya pengen jadi dokter, arsitek, petani atau peternak (hihihi…kok bisa ya…) tapi ga kebayang bisa jadi dokter dengan prestasi kayak gini dan semangat sekolah yang nyaris ga ada. Semasa kelas 2 SMP aku pernah mencoba beternak. Aku membeli 10 ekor DOC (day old chicken) di sebuah poultry shop, beli makanan ayam, beli buku “Cara Beternak Ayam Petelur”, bikin kandangnya sendiri dari kotak kayu bekas packing dagangan toko.
Ayamnya berhasil hidup hingga gede tapi aku keburu bosan sebelum ayam2 ini bertelur, akhirnya ayam2 dan kandang aku berikan ke tetangga.

Pada hari tes masuk SMA WW, instead of hadir aku malah ke Yogya untuk daftar di SMA De Britto.
Dalam buku Laskar Pelangi disebutkan penyakit gila itu ada 44 macam. Semakin kecil nomornya semakin parah gilanya. Waktu itu aku pasti sedang gila skala 3; karena De Britto adalah SMA center of exellence di Yogya, even teman2 sekelas yg jauh lebih pinter saja ga berani bermimpi masuk sekolah ini. SMA De Britto terkenal muridnya pinter2 dan ga kebayang itu berasal dari calon murid kayak aku.

Persis Suciati ikut audisi Indonesian Idol. Bulan levelnya!!

Aku pun dengan pede tidak tahu malu ikut test tertulis.

Diterima ? jelas enggak!!

Hilang sudah kesempatan masuk SMA. Di Solo jadwal penerimaan siswa SMA sudah lewat.
Sedih?...... Gak sih, tapi kalau terbayang seumur hidup kudu jaga toko….wadawwww!!

Pada waktu melihat pengumuman di De Britto itu, aku dan mama mendapat informasi bahwa gedung SMA de Britto pada sore hari dipakai oleh SMA St. Thomas.
Sore itu juga aku daftar tes masuk SMA St. Thomas. Daripada pulang Solo jaga toko?....... Mending aku milih ini saja deh!

Test masuk 2 hari kemudian.
Kali ini aku belajar untuk menghadapi test ini, dan berjanji pada Tuhan seandainya aku diterima, aku akan menjadi pelajar yang baik dan rajin.
Seingat aku yang ikut test ga banyak, paling 200 an orang. Jelas ini bukan SMA favorit.

Karena kuatir tidak diterima lagi, usai tes mama dan papa menemui kepala sekolah St. Thomas untuk meminta kesempatan, “Pak, mohon anak kami diberi kesempatan belajar di SMA ini. Apabila di semester I nilai anak kami tidak memenuhi standar, kami akan memindahkan anak saya kembali ke Solo”
Kepala Sekolah tidak menjanjikan apa-apa. Beliau hanya berpesan supaya seandainya tidak diterima aku tetap mencoba masuk SMA tahun depan di Solo.......

Tahun depan?
Waw!!
Asyik! Bisa bangun siang tiap hari…
Tapi setahun mau ngapain ? …..jaga toko ?

wadaaaaawwww!!!

2 hari setelah test, ada pengumuman : aku diterima!!!.

Aku seneng banget bisa sekolah di Yogya, sementara mama kuatir setengah mati, melihat track record aku di Solo, mama kuatir sebulan aku cuma sekolah 2 hari.
Aku juga mulai tidak yakin dapat memenuhi janji aku kepada Tuhan untuk menjadi pelajar yang baik? aahh…liat2 saja nanti….jangan2 malah makin ancur seperti waktu di SD….


To be continued...

Thursday, January 17, 2008

Resah 123

Resah.
Feel so uneasy.

Sedang di warnet.
Kebetulan lewat pas jalan dari rumah ke toko. Pengen nulis. Semoga resah bisa reda.

Ga tahu kenapa resah.

Mungkin karena hape ilang?
Sejak kemarin sore hape ga keliatan. Sudah dicari dimana-mana, di telpon tulalit, diteriakin ga jawab, dimaki apalagi…ga ketemu jugaaaaa!
Mungkin diambil orang.
Hape Nokia 2600. Sudah bocel2, keypads pudar, screen baret, puluhan kali jatuh, beberapa kali dibanting keponakan… hape ini sudah bersejarah banget.
Dulu beli hape ini karena ada fungsi spreadsheet yang sangat membantu untuk urusan kerja. Selama ini juga ga pernah bikin kasus. Terlebih dari itu, hape ini punya banyak kenangan: no simcard pertama punya hape, SMS-an sama garwa, going abroad, no rekening rekanan, no telp banyak saudara+teman, banyak dah!
Ilang tanpa pesan. sedih.
Bagi aku barang2 yang aku gunakan setiap hari selalu ‘priceless’. Jangankan hape, semua perlengkapan sekolah sejak SD saja masih aku simpan.
Not mentioning kudu ganti nomor baru, inform everyone nomor baru
….Sigh!


Mungkin karena Micha dibawa ke Lab ?
Terakhir waktu Micha (*keponakan 1 tahun) ke dokter untuk kontrol rutin balita, dokter minta agar Micha check darah, karena hidung dan pipinya agak kuning. Dokter bilang mungkin karena kebanyakan makan wortel atau sayur yang mengandung warna merah/kuning. Dokter juga bilang ga usah kuatir, tapi ga ada salahnya periksa darah.
Tetep saja aku kuatir!!!
Tadi Micha dibawa ke Prodia bersamaan aku ke warnet. Aku bisa bayangkan pasti Micha nangis ketakutan waktu diambil darah oleh perawat. Seandainya bisa gantiin, aku mau saja yang diambil darah. 1 liter juga boleh! Tambah cium kalau mau! Hehe!...

Oops!
Tadi aku online di YM. Mau say hello sama Arif (*teman di Jakarta, kerja di Metro) secara sudah lama sekali ga kontak, terakhir kali diteriakin “hei!! sombong!” …….Baru saja masuk message :

Message 01xxxx : selamat sore mas

Aku mikir….lupa2 ingat sama id-nya. Tapi kok ga ada di friendlist….
30 detik kemudian :
Weitzzz! Kayaknya ini si T*t*…….
Kwang kwang kwaaaaannnng!

Pras : selamat sore juga.

Trus aku segera sign out.

Mood + otak sedang ga pengen deal hal2 yang
‘complicated’
Divisi Customer Service sedang libur. Hihihi…..


Mungkin karena ‘sakaw’ ?
Iya semoga saja karena itu. Sedang sakaw, ketagihan.
Tadi pagi cuma minum coffemix satu sachet yang untuk pecandu kopi kayak aku kurang banget!!!
Pagi ini ke Klaten menemui Mr Henry; kirim bantal2 pesanan dan ngobrol2 soal bangunan. (*eh! Baru ingat! disana aku sempat nyruput capucino ding!...tapi cuma sesruput kok!). Baca pertemuan dengan Mr Henry di sini.
Ah iya! Semogaaaaa… bukan karena hape ilang, apalagi karena kuatir tentang Micha (*beloved nephew) karena yakin she will be okay!
Semoga karena memang kurang tidur jadi moodnya ga bening.
(secara sekarang kok ngantuk juga).

Wis lah! Balik toko sekarang. Kudu pasang lampu di studio supaya besok mbak Tari bisa kerja.

UUUAAAHEMMMMM…. (*menguap)

Monday, January 14, 2008

adult toys (you are what you play)

Bukan hanya Moses, Lia, Johan, Mikha (i.e. keponakan2 saya) dan others kids yang suka mainan alias toys. Orang dewasa juga suka mainan.
Bermain memang salah satu naluri dasar manusia dan binatang.
Bermain bisa menjadi media terapi jiwa. Membuat jiwa dan nyawa mengalir lancar.
Sebaliknya mainan juga menjadi cermin dari karakter dan jiwa seseorang.

Kalau keponakan2 saya suka mainan lego, nintendo, mobil2-an, boneka setara imajinasi mereka; mainan para dewasa dengan atribut kecerdasan, kekuasaan, kekayaan, kebebasan, dll bisa diluar batas imaji bahkan kadang ridiculous dan diluar batas nurani.
Mangkanya orang dewasa suka melembutkan istilah mainan dengan ‘hobby’

Mainan dewasa yang masih normal : gonta-ganti hape, mobil balap, audio system, ikan koi, tanaman anthurium (yang ga ada bagus2 nya), bikin perusahaan, travelling….

Yang rada gak normal : hacking (termasuk carding), sex toys, mainin isteri tetangga, 3 hari ga mandi, setahun 6 kali ke Las Vegas (judilah! Ga mungkin ke sana cuma beli celana dalam khan!)

Yang gak normal banget : mainin rakyat, naikin harga kedelai se-enak perut, nge-rontokin devisa sebuah negara, bikin busway di yogya, jadi muridnya Sumanto dan Imam Samudra…..

Nge-blog juga termasuk mainan. A normal one! Hehe…

Baca blog saya trus kagum sama saya? itu baru mainan alias hobby sehat!

Hihihihi……

Wednesday, January 09, 2008

Between 2007 - 2008

Hari ini rasanya matahari bersinar lebih *cling*!
Komputer selesai di-install ulang, so bisa dipake kerja (dan online lagi) hehe…so sweeeeetttt :p
Komputer ini udah 2 mingguan ga bisa dipake gara2 tertular spyware.
Sumpah ga buka situs2 ga jelas penyebar virus! Pasti gara2 flashdisk yang aku pakai ke toko foto. Bisa dibayangin komputer toko foto yang setiap hari dicolokin flashdisk2 yang membawa jutaan virus aneka rasa. Urusan2 berikut ini yang bikin ga sempat bawa komputer ke tukang servis.

Holiday Syndrom
Ga sempat terkena ‘holiday syndrom’ jalan2 awal desember kemarin, tetap saja tergopoh2 dengan timbunan kerjaan rutin: order dari pelanggan, nota yg kudu diberesin, belum lagi masalah2 dadakan yang belum bisa dibereskan teman2.
Penjualan lumayan bagus terdorong momen kenaikan harga sebagian barang elektronik.
Lantai 4 Coyudan yang hampir selesai di renovasi kudu dibersihkan. Sekarang ada 2 kamar tidur, pantry, ensuite, dan patio. Senengnya!.... punya tempat tinggal yang “layak”.


Natal Panti Jompo
Sejak awal November 2007 sudah teken kontrak untuk ndekor natal Panti Wreda Asih, panti jompo di Solobaru. Sebenarnya sudah paling males kalau disuruh ndekor. Tapi aku sedang pengen melakukan sesuatu untuk Natal tahun ini dan ndekor di panti jompo kayaknya bisa ngasih point tinggi. Hehe..

Natal di panti jompo ini diselenggarakan hanya 5 hari dari kepulangan dari jalan2 kemarin; jadi kudu dikerjakan grabag-grubug dan SKS (sistem kebut semalam). Manjat2 tangga pasang back drop, pita2 kertas, re-decorate pohon natal, bikin kandang natal…..ngobrol sama penghuni panti….wuih!!
Tapi seperti biasa : semua bilang hasilnya keren dan inovatif. Bahkan hingga akhir desember PN2PJ (*persatuan nenek2 panti jompo) masih melarang dekornya dilepas. Buntutnya diwanti2 ndekor lagi untuk natal tahun depan.


Pameran Mica Work
1 hari setelah ngerjain dekor, dikejar pameran MicaWork di Plaza Ambarukmo Yogya dari tanggal 19-23 Desember. Beda dengan pameran yang pertama, kali ini ga semangat banget!. Paling males kalau ngerjain sesuatu ‘tergantung’ orang lain. Pameran kali ini aku hanya ngurus produknya: untuk operasional pameran dll diurus sama Ay. Hasil pameran cuma bisa nutup biaya sewa stand.
Kalau pameran yang oktober kemarin, aku bolak-balik solo-yogya setiap hari, kali ini sama sekali ga niat. Mbuh!! luweh!


3 + 1
Di hari yang sama, 4 teman2 guru sekolah minggu di GKI Kebayoran Baru : Ika, Rinda, Dewi dan Rani datang ke Solo dan nginep di Panca Murah. Yang 3 cewek asli Batak, hanya Ika yg bisa ngomong jawa. Jadi deh gue nganterin turis supaya ga digetok harga di ps klewer. Ceritanya si Ika mau menikah April tahun depan, so mereka travelling melepas masa lajang (*kyaaaa…). Payahnya, sesampai di Solo, Ika malah ngedrop dan 2 hari pertama tidur terus, sementara yg lain muter2 ke yogya dan sekitarnya.
Setiap malam sempat ngajak mereka ‘jelajah kuliner’ di solo : nasi liwet, timlo, gudeg, bestik harjo (disini pernah ngomel sama seseorg yg pake celana pendek: kayak pergi sama tukang kebon), nasi pecel bu Ugi di Tawangmangu….

Moses + Lia
Liburan akhir tahun ini direncanakan mau ngumpul di solo semua, Moses dan Lia : keponakan dari jakarta mau dititipkan sama oom nya yang ganteng ini, karena ortu mereka mau bawa papa Linda ke Kuala Lumpur untuk pengobatan diabetesnya.
Moses 5 tahun, Lia 4 tahun. Meski ada suster yang ngurusin mereka, selama di Solo mereka hanya mau diurus sama oomnya ini. Itu artinya sejak bangun pagi, mandi, makan kudu bersama oomnya. Termasuk kalau jalan2 ke mall, trus Lia pengen buang air. Aku bingung kudu masuk toilet yang mana: cowok apa cewek, secara Lia ngotot maunya masuk toilet cewek. Hehe…
Kejadian lah jualan teve sambil teriak : "MOSES!! TURUN! jangan naik2! Nanti jatuh!!....LIA!! makanan dikunyah! Jangan diemut terus!!....ini kuahnya!"
Kalau malam, mereka hanya mau tidur dengan oomnya. Padahal semalam mereka bisa bangun beberapa kali, mau pipis lah, nangis karena ga sengaja saling tendang, mimpi buruk, atau kepanasan.
Sampai hari ini mereka masih di Solo.
Saking hebohnya ngurus mereka, aku bilang sama mama, “ternyata cape ngurusin anak kecil. seandainya kudu menikah even tinggal minggu depan, pasti aku batalin!!”


Banjir Solo
Hehehe… Solo BANJIR! Gak semua daerah sih, tapi hebohnya kemana2. Untung saja kami ga kebanjiran sama sekali. Aku sih harap2 cemas membayangkan kalau sampai Solo benar2 kebanjiran. Pasti lucu liat teve dan kulkas di toko terendam air.
Tapi mama sudah parno bilang supaya aku siap2 aqua dan makanan kering di Coyudan yang berlantai 5, supaya siap dijadikan tempat ngungsi.
Blessing in disguisenya adalah Servis 24 kebanjiran pekerjaan, tumpukan mesin cuci, kulkas, teve, dll sampe menggunung dan bikin rumah di keprabon kayak penampungan barang bekas.


Servis 24 Yogya
Sudah 2 bulan ini ngebet pengen buka cabang Servis 24 di Yogya. Banyak pergumulan batinnya, tapi aku kok lumayan optimis ini bisa berjalan dan berprospek baik. Sudah ada beberapa pilihan tempat dan proses rekrutmen sedang berjalan. Topik ini nanti dibahas tersendiri.

Kangen
Bukan! Aku bukan fans ‘Kangen Band’.
Awal januari 2008 tiba2 kangen luar biasa sama seseorang. Sampai2 selama 2 hari gelisah mengganggu kerja dan kompensasinya sms2 ga jelas sama orang lain. Untung bisa melewati masa “krisis” tanpa kudu melakukan hal2 aneh.

Tahun 2007 berakhir nyaris ga terasa, saking banyaknya kehebohan. Bahkan malam natal saja ga sempat ke gereja. (pembelaan aku : loh khan sudah natalan di singapore!!)
Tapi aku sungguh bersyukur bisa melewati tahun 2007 dengan selamat meski masih digayuti rasa kehilangan garwa.
Pergantian tahun hanya terasa waktu aku dan mama ke gereja pagi tanggal 1 Januari yang sudah jadi tradisi kami berdua. Seperti biasa aku berdoa untuk mama, papa, ay, wik, nyo, iwan, irawan, linda, paolien, moses, lia, johan, mikha, ieie dan kebablasen doain garwa juga (hehe kebiasaan sama urutan daftar absen) : apapun yang terjadi di tahun yang akan datang, Tuhan tetap menjaga.

Oh ya satu lagi untuk dicatat di posting ini : AirAsia (my beloved airline) bikin jalur Solo-Jakarta. ELOK TENAN!!!!