Pages

Monday, August 25, 2008

Garwa

Acara BRI di Trans TV malam ini menampilkan Jikustik yang berkolaborasi dengan Waljinah.
Kwang..kwang…kwang! Ancur mawur!
Aku perhatikan pas lagu “Putri” Si mbok Waljinah ga bisa mengikuti cengkok lagu pop trus pas masuk lagu jawa, penabuh gendingnya ga ‘masuk’ dengan pas, akibatnya si mbok Waljinah kehilangan pitch control-nya.

Ketika Pongky mau nyanyi ‘Seribu Tahun Lamanya’, ada surprise: Novi –istri pongki- muncul dan menyanyikan intro lagu itu. Si Novi membawa bunga dan boneka Hommer yang diberikan ke si suami.
Shortly, akhirnya mereka duet nyanyi lagu itu. Keren banget! Bahasa tubuh dua orang itu menunjukkan ikatan emosi mereka berdua sebagai suami istri.
"So sweet" komentar Olga Lydia yang jadi MC nya.
Di acara itu aku baru tahu kalau Pongky dan Novy menikah di gereja.
Ga ada hubunganya sih, tapi aku jadi ingat bahwa setiap pernikahan di gereja basically tidak bisa diceraikan.

Ketentuan ini berlaku di semua gereja mainstream: protestan, katolik, ortodox bahkan gereja Kristen Syria. Cuma gereja di Las Vegas yang mengijinkan perceraian. Hehe..

Gereja memandang pernikahan adalah janji suci sepasang manusia kepada Tuhan. Pada setiap pernikahan, setiap mempelai berjanji kepada Tuhan : akan setia saling mendampingi dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan. Pendeta juga akan merespon dengan kalimat: apa yang disatukan dihadapan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia.
Tentu saja gereja menyadari konflik2 yang akan muncul dalam perjalanan berumah tangga, untuk itu gereja selalu menyediakan dukungan pendampingan bagi anggota jemaatnya.
Pada kasus-kasus tertentu misalnya terjadi kekerasan domestik yang parah, gereja akhirnya menyetujui perceraian, tapi gereja tidak akan pernah memberikan ijin kepada dua orang itu untuk menikah lagi. Kecuali rujuk.

Caroline, (seseorang yang pernah mampir di hati) menikah secara Katolik. Karena suatu hal akhirnya mereka harus bercerai. Gereja tempat Caroline berjemaat ketika akhirnya memberikan ijin perceraian, tapi sang Romo berkata kepada Caroline: Apa yang pernah tercatat di bumi juga tercatat di surga.
Pernikahan dengan orang lain berarti adalah zinah. Itu artinya selama Caroline masih menjadi seorang kristen, dia tidak akan bisa menikah lagi sepanjang hayat.

Dalam pemahaman gereja, suami-istri juga menggambarkan ikatan manusia dan Tuhan. Sama persis dengan budaya jawa juga terdapat konsep ini :manungal-ing Gusti lan kawula.
Dalam budaya jawa, suami istri juga dinyatakan sebagai satu nyawa, mangkanya seorang suami atau seorang isteri disebut garwa (sigaran nyawa: belahan jiwa).
Secara nyawa seharusnya satu dan utuh, maka ketika mereka bercerai mereka kehilangan separuh nyawa alias hanya setengah hidup.
Manusia barulah ‘hidup’ apabila memiliki ikatan dengan Tuhan. Kira-kira begitu.

Sepasang suami isteri memang seharusnya abadi, tidak hanya sampai kakek-nenek. Seperti matahari yang setia terbit setiap pagi seorang garwa juga selalu setia dan ada.

Balik ke soal Jikustik, menurut aku frasa lagu ‘Putri’ ini yang paling nyokot :

..bila engkau rindu aku putri,
coba kau pandangi langit malam ini, aku di situ.
bila itu tak cukup mengganti
cobalah kau hirup udara pagi, aku di situ…..

Friday, August 15, 2008

Apartemen K 920 – feat. Heri Santoso


Tadi pagi seorang kurir mengantarkan surat yang amplopnya polos ga ada nama pengirimnya. Sempat mikir ini junk-mail, atawa dari penggemar ga jelas, tapi ternyata pemberitahuan pembangunan kembali Grand Surya Apartemen di daerah Jakarta Barat.
Aku beli satu unit apartemen ini tahun 1997, tapi kemudian krisis moneter menebar tulah, dunia properti terjungkal dan pembangunan apartemen ini macet.
Seneng banget kalau apartemen ini akhirnya bisa diteruskan pembangunannya. Artinya duit aku ga ilang dan after this ini aku punya apartemen di jakarta. CIHUY!!
(*nyanyi lagunya Ellya Kadam : hatiku gembira membawa boneka…)

Seneng banget pokoknya !! rasanya ini berita paling menyenangkan tahun ini :D rasanya bisa membuat semangat fully re-charged.

Tapi apartemen ini membuat aku jadi ingat lagi Heri Santosa, seorang teman yang jadi korban mutilasi.
Setelah mendengar berita itu, aku sempat nulis tentang pertemanan kami as follows, tapi selama ini hanya disimpan sebagai draft, belum sempat diedit….

Solo - Juli 2008
Beberapa hari yang lalu ke warnet. Sudah rada lama ga online.
Seperti biasa langsung buka detik.com dan login di mail.yahoo.
Di detik.com aku cari berita tentang Margaret Tatcher atau berita politik penting lain, tapi ga ketemu dan ga ada berita lain yang menarik. Pas mau klik ‘log out’ aku tertegun dengan judul pembunuhan mutilasi…

Weitz!! Kok mirip nama teman aku : Heri Santoso
Emang nama ini rada mass product, tapi kok di hati rasanya ga sedep banget!

Langsung aku baca berita satu persatu. Dan makin lama makin membuat beat jantung makin ga jelas! Bukan hanya nama yang persis, tapi…

Usia 40 tahun…kok sama
Tinggi 170-an…kok sama.
Kulit putih dan bersih …kok sama
Mancung dan bermata coklat….sama heh!
Tampan…..Heri emang tampan!

Hati aku sudah mencelos….

Rumah di bekasi….Waduh! kok sama lagi..
Pekerjaan Sales persh baja……waw! Loh!... Loh! Kok mirip!
Asal Surabaya…….weitz! Heri dari Malang apa Surabaya ya??

Rasanya badan aku jadi dingin, goose bump every where….

Mobilnya……kalau ini sih aku ga tahu
Istrinya bernama Ayu dan beranak satu….yang ini kok mirip lagi!!!!

Hei!...hei!!!

Langsung aku search berita terkait, berharap ada foto korban, tapi yg ada hanya deskripsi tertulis tentang korban yang dimutilasi jadi 7 bagian.
Aku langsung berlari pulang sambil sms Tio tentang kekuatiran aku dan berdoa semoga ini hanya kemiripan saja!
Setelah telpon sana-sini…….ternyata kekuatiranku mengejawantah: It’s him!
It’s him!
Heri Santoso teman aku yang terbunuh!

Rasanya jadi stress banget, sampai badan kayak masuk dandang kukusan!

Damn!
Damn!
Damn!
Jakarta - Tahun 1995
Kalau rata-rata teman sekantor selalu menyuruh Sayuti a.k.a office boy untuk beli makan siang, aku lebih suka pergi dan makan di warung-warung sekitar kantor kami di Wijaya Grand Center, Kebayoran baru
Pas makan siang itu sering banget ketemu rombongan Heri, Tatik, Bowo, Ayu, Rani, Umar dan Uni.
Sebenarnya kami bekerja di holding yg sama, tapi beda perusahaan. Kalau aku di konsultan perencana, mereka di unit kontraktor. Kantor kami juga sama, hanya beda lantai.
Dari cuma saling menyapa, kami ber 9 jadi sering janjian makan bareng, dan membentuk geng jalan2. Kalau pas akhir minggu pake mobil kantor ke anyer, bogor, bandung, atau sekedar menjelajahi mall….

Diantara teman-teman ini, aku dan Heri relatif lebih dekat karena kebetulan saja kami memiliki waktu luang yang sama serta memiliki kemiripan dalam hal makanan, dan yang paling utama : nonton pameran properti di Senayan tiap akhir pekan.

Heri bukan tipikal cowo L-Men, malah rada chuby. Kadang dia meledek kami seperti angka 10. Dia menyebut dirinya ‘molegh’ Tapi Heri memiliki daya tarik unik. Selama pertemanan kami, aku tahunya dia dekat dengan teman satu kantor, si Uni (*cewe jawa asli loh, bukan dari padang). Tapi ga jelas statusnya. Heri selalu bilang kalau belum punya duit untuk pacaran apalagi menikah. Heri memang tulang punggung keluarganya: ibu, serta 3 orang adik perempuan.
Keluarga ini hidup sederhana di sebuah rumah petak. Kalau malam Heri tidur di depan teve di ruang tamu, karena satu-satunya kamar dipakai oleh ibu dan adik2nya yg cewek.

Heri orang yang hemat. Dia yang memaksa aku kemana2 naik bis kota, “kalau bisa naik bis kota, ngapain kudu naik taxi!” …..“Ayo pulang. Tapi naik angkot wae! Aku ga mau naik taksi!”
Jadilah aku (*kadang masih berdasi) diseret-seret naik bis dari terminal-ke terminal; Blok M, Lebak Bulus, Kampung Rambutan ……. Ciracas.
Instead makan di mall atau sebangsanya, dia lebih suka makan di warung. Dua warung favorit : Rawon di Blok M dan nasi uduk dekat kost aku di Radio Dalam.
Heri seorang muslim yang taat, dan rajin puasa senin kemis. Meski sangat toleran, misalnya pas bulan puasa tetep maksain menemani aku pergi makan siang.
Kalau malam minggu kami sering dugem, tapi ga pernah merokok, minum berakohol apalagi sampai bawa ‘bungkusan’ pulang. Hihihi….

Dalam masa pertemanan, aku paling gigih mendorongnya menyelesaikan kuliah. Aku bantuin ngerjain skripsinya. Aku masih ingat skripsinya: “Kadar Dan Jenis Semen Dalam Menentukan Kekuatan Adukan Beton” hingga dia lulus dan diwisuda. Menjadi yang pertama memiliki gelar sarjana di keluarga besarnya.

Dari hoby kami menjelajahi pameran properti, akhirnya aku mendapatkan apartemen Grand Surya Jakarta Barat dan Heri memilih rumah di Limus Pratama di Bekasi. Kami saling memberi semangat dalam bekerja dan menghemat gaji agar bisa menyicil angsuran masing2.
Kami jadi makin sering nonton pameran properti dan interior. Hampir setiap hari minggu menjelajahi toko interior dan bangunan, meski hanya untuk window shopping….lumayanlah bisa nyicil mimpi mendekor rumah sendiri. Hehe…
Tapi pada tahun 1997 Indonesia terkena krisis ekonomi, dunia properti kolaps. Kalau rumah Heri bisa selesai dibangun, apartemen aku macet.
Ketika serah terima rumahnya, Heri minta aku yang membuat check-list. Mas khan lebih ngerti soal kualitas bangunan, katanya.
Heri pernah berkata, ‘sampai kapanpun, aku ga akan lupa bagaimana aku bisa menyelesaikan kuliah dan memperoleh rumah di Bekasi’


Kami berteman selama 6 tahun hingga tahun 2000 aku resign dan balik ke Solo.
Itu pertemuan terakhir kami. Tidak lama kemudian Heri dimutasi ke Kendal selama hampir setahun, akhirnya resign juga dan pindah kerja.

Selama tahun 2000-2008 kami berbicara lewat telp hanya 3-4 kali. Terakhir sekitar 2 tahun yang lalu. Bisa dikatakan hilang komunikasi. Meski demikian tadinya aku berpikir suatu saat pasti ketemu lagi.

Aku masih ingat perkenalan kami yang pertama
Aku masih ingat suara tawanya
Aku masih ingat bagaimana dia berbicara
Aku masih ingat tempe goreng dan rawon kesukaan kami
Aku masih ingat giginya yg agak tongos
Aku masih ingat perselisihan2 kami
Aku masih ingat banyaknya cabe setiap kali dia beli rujak
Aku masih ingat telp kami malam2 kalau ga bisa tidur
Aku masih ingat dia menangis ketika aku mengantarnya opname karena tifus.
Aku masih ingat kami berdua makan nasi goreng depan BIP bandung
Aku masih ingat naik angkot malam2 kalau kerumahnya
Aku masih ingat fanta merah yang dia suguhkan ketika terakhir ke rumahnya
Aku masih ingat jabat tangan terakhir ketika kami berpisah di tahun 2000
Aku masih ingat pada tahun 2006 di telp Heri berkata,…Mas kalau ke jakarta kasih tahu ya…


Tapi… aku pengeeeeeen cepat lupa bagaimana Heri harus meninggal.

Heri…..
ikhlaskan yang sudah terjadi, pastikan damai besertamu saat ini; I know you better than most people.
Selamat jalan Heri..

Saturday, August 09, 2008

SimCard

Di jaman kakek-nenek saya dulu, hambatan teknis berkomunikasi adalah bahasa dan jarak. Tapi dijaman ini, yang katanya era teknologi dan kebanyakan orang menguasai bahasa lebih dari satu, ada saja yang menjadi faktor yang membuat ber-komunikasi lancar/tidak lancar.

Seminggu yang lalu aku ditelpon teman lama di Jakarta, Lawrence, seorang rekanan pas masih jadi arsitek.
Sesudah ngobrol ngalor ngidul dia tanya, Pau sim card kamu Simpati bukan? Supaya kalau ngobrol bisa gampang dan murah.
Bukan hanya Lawrence yang tanya kayak gitu. Para supplier, langganan, termasuk kenalan2 ga jelas biasanya juga tanya apakah provider simcard nya sama. Alasannya identik : supaya komunikasi lebih lancar. Kalau providernya beda, alih2 ngobrol, menginformasikan sesuatu hanya pake sms yang kadang jadi ga komunikatif banget.
Dulu ketika komunikasi dengan garwa masih aktif, kami sampai bela-belain beli hp Fren supaya bisa ngobrol berjam-jam.

Kemarin saya di Yogya, entah bagaimana bisa terbawa bis dan ga boleh turun sama sopirnya. Ketika sampai di Muntilan, saya berhasil membujuk pak sopir untuk bisa turun. Tapi aku ga tahu bagaimana bisa balik ke Yogya. So aku sms Titi cerita aku terdampar di Muntilan dan tanya dimana letak terminal.

1 menit
2 menit
10 menit
ga dibalas!
Aku sms lagi..
Tetep ga dibalas! Yey! Bocah ki…..


Ditengah rasa bete, tiba2 aku terbangun dan sadar aku baru saja bermimpi. Pantesan!!!
Mungkin saat itu Titi ga sedang tidur, jadi meski kami sama2 pake IM3 tetep saja ga bakal bisa ‘delivered’ antara dunia mimpi dan dan dunia nyata. Atau kalau sedang tidur dan bermimpi, dia ada di dunia mimpi beda benua. Hihihi…

Thursday, August 07, 2008

-EMB-

Tadi pagi ngajak 4 tukang beca langganan + Pak Sukadi ke Solobaru untuk unloading barang2 dari Semarang. Kira2 jam 12, aku ajak mereka makan siang. Awalnya bingung mau diajak makan dimana, tapi Pak Sukadi telah berjasa kepada bangsa dan negara dengan nunjukin warung dekat situ. Keliatan bersih. 4 sekawan pesan nasi pecel, aku dan pak Sukadi pesen nasi + oseng2. ada yang minum es teh manis, aku tetep teh manis panas.
Aku berlagak murah hati, Ayo silahkan, makan! makan saja! ambil lauk2nya…tenang saja, Oom pasti bayar! Ga usah sungkan! Oom punya duit kok!...
(*hihihi…persis adegan film oom2 senang sedang beraksi di nite club tahun 70’an)
Selain enak dan ada pemandangannya (*blink-2) ternyata murah banget. Setelah dihitang-hitung… cuma 19 ribu. Iya 19 ribu rupiah, bukan Ringgit apalagi Euro! (*US dollar mah udah ga keren!) Murah, bersih dan kenyang!

Jadi ingat waktu SMA dulu, makan siang dekat kost menunya nasi sop ayam, 1 potong tempe goreng garing dan 1 gelas teh panas, cuma bayar 100 rupiah. Pake koin seratusan yg tebal. Itu tahun 1983-85 (*Ridho stop ngitung umur saya! Udah dibilang aku 22 tahun kok ngeyel sih!).
Pas kuliah kost di Pogung Baru, ada warung makan mahasiswa yang judulnya “EMB” menurut pemiliknya itu singkatan dari Enak-Murah-Bersih. Enak sih relatif; Murah sih iya (*nasi sayur + ayam goreng + teh manis cuma 350 rupiah); Bersih? Yey! Mbuh! Berantakan dapurnya sih iya.

Di perjalanan pulangnya ada sms dari Titi yang sambat soal tekanan gawean. Aku jawab, bukankah hakekat kehidupan adalah berjuang mengalahkan tantangan a.k.a tekanan hidup….

Ada orang yang percaya bahwa tingkat kesuksesan hidup berbanding lurus dengan iman dan amalnya; bahwa orang yang iman+amalnya baik pasti hidupnya juga lancar, sukses, ga menghadapi tantangan…

Tapi lain orang (*termasuk aku) percaya bahwa Tuhan tidak menjanjikan kehidupan yang selalu lancar. Pasti ada gunung yang kudu didaki, laut yang kudu diseberangi, mall yang kudu dijelajahi, negara yang kudu di 'backpacking-i'. Tapi Tuhan menjanjikan akan menyertai dalam perjalanan hidup. Dan Tuhan tidak akan membiarkan pencobaan yang lebih besar dari kemampuan seseorang.(*yey! Bukan Ridho-si anak santri- aja yg bisa ngasih wejangan!, aku oom2 niteclub tahun 70-an juga bisa..hihihi…)

Hari ini cape banget bongkar muatan. Tapi kegiatan hari ini malah mengurangi kejenuhan kegiatan rutin.

Sebenarnya sudah beberapa hari ga punya duit utk beli pulsa. Tadi supaya bisa reply sms Titi bela-belain beli pulsa. Tapi kok ga di balas lagi. Mungkin dia sudah cukup dikuatkan dengan reply aku, tapi mungkin juga dia salah nomer; sebenarnya dia mau sms ke mas siapa gitu, bukan ke aku…..soal-e dia tadi nyebut ‘mas’ bukan ‘oom’ hihihi…

To Ridho : aku ga ‘garingan’ kok, di hati aku masih ada setetes embun yang bisa menyemaikan harapan semoga suatu saat dia akan kembali….

Sunday, August 03, 2008

My Heart


11 tahun yang lalu, 2 dokter dengan kompak mendeklarasikan aku mengidap arithmia-cardia, yakni detak jantung yang tidak normal. Ketika kambuh jantung berdetak lebih dari 180 denyut permenit. Padahal detak jantung normal : 60-80 detak/menit. Saking cepatnya, jantung tidak berkontraksi optimal sehingga darah tidak terpompa dengan baik dan tekanan darah jadi nge-drop.

Recently, ga ada hujan ga ada badai, makin sering kambuh: tiba2 jantung berderap kencang. Ibarat musik, beat-nya ga jelas : reggae atau hip-hop. Juga beda dengan deg2-an liat duit, deg2-an ini rasanya seperti meniup balon yang bocor, nafas pendek, lemes, mata berkunang2, bibir kebas, dan kadang migrain mendadak.
Kalau sudah begitu meski sedang duduk dikursi, aku langsung jongkok atau sekalian duduk di lantai. Supaya andai sampai pingsan, jatuhnya ga fatal.

Kalau sedang parah, aku minum kopi agar tekanan darah naik (yang kalau kebanyakan juga membuat jantung malah makin ngebut)
Tapi bebeberapa hari ini aku menemukan alternatif yang lebih baik untuk menaikkan tekanan darah: nonton berita di teve tentang kondisi rakyat yang makin berat: antri minyak, harga2 naik, tapi para pejabat hanya ribut soal pilpres, dan kalaupun ada yang memberi komentar tetang kondisi rakyat saat ini, komentarnya GA MUTU BANGET!!…NGET!...NGET!!!


gambar diambil dari sini

Friday, August 01, 2008

SMS ala Esia

Dulu pas dikasih adik aku hp baru, aku beli nomer Im3.
Secara ini nomer baru, aku iseng godain beberapa teman sms pake nomer baru ini. Pura-puranya aku ngajak kenalan ala Playboy Kabel hehe..
Tapi gagal total! Langsung ketahuan. Hampir semua langsung mengenali.
Kata mereka, karena smsnya ‘Pau banget”: minim singkatan alias standar EYD, lengkap subyek-predikat-obyek.
Menurut aku, mustinya sms ya gitu. Lha wong komplit gitu saja masih bisa dipahami salah, apalagi kalau disingkat2 kayak yang di iklan esia…..
Aku juga paling begah kalau nerima sms yang disingkat2, huruf vokal dihilangkan, huruf kecil-besar diacak2, ditambah ga pake spasi…. Halah! Halah! Halah!

Menurutku iklan Esia yang ngajarin sms disingkat, ga pake vokal, dll kudu ditentang. Ga mendidik banget! Mo jadi apa generasi muda bangsa ini! (*serasa kakek2 banget: nyinyir. Hehehe..)

Tapi paling emosi lagi kalau liat orang naik motor sambil sms! Apa ga mikir… setidaknya kalau ga peduli dengan nyawanya sendiri, bukankah bisa nabrak orang lain. Trus apa bedanya dengan Ryan, the serial killer?