Pages

Saturday, June 25, 2011

Published Soon!

Hari ini rasanya sueeeennneeeeng banget.
Sampai-sampai terpikir mengikat kaki ke tiang lampu depan rumah agar tidak loncat-loncat terus. Huhuhu…

Dua hari yang lalu, mbak Atiek dari sebuah penerbit buku besar di Solo telpon minta bertemu untuk membicarakan penerbitan isi salah satu blog yang aku kelola.

Wew!

Tadi siang kami sudah bertemu dan langsung membicarakan konsepnya.
Ternyata aku dan mbak Atiek punya konsep yang sama untuk buku yang ditargetkan akan terbit sekitar Oktober nanti.

Senangnya!
Bukankah ini pertanda dan awal yang baik :)


Hingga buku tersebut diterbitkan, banyak hal bisa terjadi: ditunda, batal, dll.

Tapi aku sudah bersyukur pada Tuhan, tulisan dan karya aku diapresiasi.

*nyari rantai untuk mengikat kaki

Friday, June 17, 2011

Gajah, siapakah saya....

Sekitar bulan April kemarin, aku dan bu Julia diundang bu Esther Karundeng untuk menjadi juri lomba lukis caping yang diselenggarakan dalam rangka ultah Panti Wreda Asih.
Pesertanya sudah sepuh-sepuh.

Ibu Esther mempertemukan aku dengan salah seorang peserta.
Namanya lupa, tapi peserta ini: seorang nenek yang usianya 94 tahun.

Emak ini suka menggambar; terutama ayam jago dan gajah, ungkap bu Esther yang mengambilkan sehelai kertas kosong dan bolpoin.

Si nenek segera menggambar dengan satu tarikan garis seekor figur gajah. Karakteristik banget!

Emak kenapa suka menggambar gajah? tanyaku.

Gajah itu binatang yang besar tapi tidak ganas. jawab si emak.
Gajah juga tidak sembrono. Ketika disuruh menaiki undakan kayu, dia memeriksa apakah kayu-kayu itu cukup kuat untuk diinjak.
Ini adalah gajah yang sering aku lihat di Siam. katanya lagi sambil meneruskan gambarnya.

Catatan: Siam adalah nama resmi negara Thailand yang dipakai sampai tahun 1949
Si nenek pasti sudah lupa jumlah, jenis kelamin, suara dan bau gajah yang dilihatnya waktu itu.
Mungkin dia pernah lihat gajah ngamuk di televisi.

Tapi, adalah waktu yang menghapus aspek-aspek detail dan drama yang gak penting. Yang mengendap dibenaknya saat ini adalah citra seekor gajah : binatang yang besar tapi tidak ganas.

Bisa jadi citra yang ada di endapan benak dan hati itu adalah citra sejati seekor binatang. Atau juga seseorang.

Biasanya peristiwa yang terjadi sekian tahun yang lampau memang terlupakan detail dan sisi dramanya.
Yang masih mengendap di dasar benak dan relung hati adalah citra dan kesan peristiwa itu.
Serta citra sejati orang-orang yang terkait: siapakah seseorang itu sebenarnya.

aku sudah lupa kado ultah apa yang diberikan AAA kepadaku 5 tahun yang lalu, tapi aku ingat AAA adalah teman yang murah hati

aku sudah lupa kata-kata yang diucapkan BBB 2 tahun yang lalu, tapi aku ingat BBB adalah seseorang yang sabar dan penyemangat.

aku sudah lupa apa yang dilakukan CCC di kantor 4 tahun yang lalu, tapi aku ingat CCC adalah seorang penolong.

aku sudah lupa masakan yang dibuat DDD 7 tahun yang lalu, tapi aku ahu DDD adalah tukang masak berbakat

aku sudah lupa detail peristiwanya, tapi aku ingat EEE adalah penipu.

------

Tadi sore aku melihat tautan di fesbuk: beberapa teman yang dulu pernah bekerja di kantor yang sama, menyelenggarakan temu kangen di Jakarta.
Aku diundang tapi gak bisa hadir. Padahal pengen sekali ketemu mereka yang dulu selama beberapa tahun intens berinteraksi.

Dulu, ketika pertama kali bertemu mereka, aku bertanya: siapakah kamu.

Kali ini, seandainya bisa bertemu, aku akan bertanya: siapakah saya?

Friday, June 03, 2011

Kucing, Kunci, Keripik

Kucing
Aku sering heran, mengapa baju aku bagian dada dan perut selalu dekil.
Sampai-sampai aku kuatir punya penyakit amnesia: tanpa sadar melata dari singapore sampai thailand :D
Ternyata ini gara-gara suka meluk-meluk dan gendong Miley yang suka klesotan dan berguling-guling gak liat tempat: di gudang yang lantainya berdebu, di taman atau di atas lemari yang penuh sarang laba-laba nya…weks!

Percuma Miley dimandiin di petshop, dikasih parfum. Sesampai di rumah klesotan dan tidur sembarangan lagi.

Kalau kayak gini khan berarti baju aku gak ada bedanya dengan kain pel.

Dasar kucing!

Miley sini! Gendong lagi….


Kunci
Sampai sekarang aku masih takjub.
Kemarin siang ada seseorang masuk warung.
Pakai topi pet, baju rangkap dua, celana jeans, sepatu kets. Semua dekil.

Orang ini kemudian mengeluarkan buku, kliping2 dan dokumen2 kumal dan bercerita bahwa dia sudah 4 tahun berkeliling mengunjungi kota-kota kabupaten di Indonesia.

Saat ini tinggal 20 kabupaten yang belum dikunjunginya.
Dia percaya di kota kabupaten ke 20 itu, dia akan menemukan kunci peti harta karun berisi emas yang akan dia serahkan kepada pemerintah demi kemakmuran negara ini.

Dan untuk menyelesaikan misi mulianya, dia butuh dukungan aku.
‘Sebagai anak bangsa’ katanya.

Aku bilang, maaf saya hanya penunggu, bukan pemilik toko ini.

Oh tidak apa-apa, kalau untuk anak bangsa kelas pegawai seperti anda, ada bukunya sendiri.
Ucapnya sambil mengeluarkan buku besar yang lebih kumal lagi yang isinya daftar nama dan sumbangan-sumbangan.

Maaf sekali lagi pak, pemilik toko tidak berada di tempat, dan saya belum bisa memberikan dukungan.

Oh ya sudah.
Tapi saya tuh kecewanya, mengapa setiap saya mencari dukungan untuk menemukan kunci itu, banyak anak bangsa yang tidak berada di tempat. Padahal saya sudah mengeluarkan uang 2 milyar…. Sungutmya, sambil memasukkan dokumen-dokumennya dan pergi.

Aku diam saja terbelalak bingung, serba salah, sekaligus takjub.


Keripik
Aku kagum dengan beberapa teman yang masih muda, kerja gak sampai dua tahun, duitnya sudah segunung.
Saking melimpahnya trus pada beli iPad. as easy as aku beli keripik jagung.
Padahal hanya dipake fesbukan, tuiteran, browsing gak penting dan main game angry bird. Mungkin juga dipake baca blog aku. Hehe.

Terakhir naik prameks, ada orang sepanjang jalan solo-yogya ketimpringan gonti-ganti ngeluarin blekberi, leptop, serta ipad dari tasnya.

Blekberinya untuk dengerin lagu yang dicolokin ke kupingnya.
Leptopnya dibuka sebentar untuk ngetik apa gak jelas.
ipadnya untuk main game yang jadi tontonan anak-anak kecil.

Aku cuma terkagum-kagum ada orang kok kaya raya seperti itu. Sementara aku di kereta hanya bisa baca "Garis Batas"nya Agustinus Wibowo sambil mengunyah keripik jagung happytoss :D