Pages

Wednesday, May 24, 2006

Rendang Hati Macan

Dalam lelakon hidup saat ini, seseorang sering dihadapkan pilihan2 dilematis.
Ga usah ngomong situasi perang yang pilihannya hidup atau mati, di dalam dunia bisnis saja, seringkali motto yang dipakai adalah : siapa makan siapa.
Persaingan, orientasi target, kondisi ekonomi umum, kendala2 usaha, dll dapat menjadi tekanan yang menimbulkan stress, dan membuat hati mencelos. Dibutuhkan hati seliat baja dan segarang macan untuk memutuskan sesuatu, menjalaninya, dan menghadapi konsekuensinya sepanjang hidup.

Pilihan2 yang kudu dihadapi kadang sudah ga bisa di bahas pake logika dan hati nurani. Kondisinya kerapkali rumit, karena faktor2 yang ada seringkali abu2; bukan hitam atau putih. Selalu ada benturan nurani dan “akal sehat”
Plis deh! Jangan bilang bermurah hati; ini reality life!!…bukan reality show di tv.

Masalahnya, seringkali aku justru terjebak dengan suara hati yang biasanya dipengaruhi rasa iba. Beberapa teman pernah ngomong, “Pras jadi laki-laki kok ga tega-an….gampang diperalat loh!”

Kadang jadi mikir, mungkin aku bisa lebih “sukses” kalau lebih “tegas”; tidak mudah jatuh iba. Mungkin tiap hari kudu makan hati macan, beruang atau dingo agar jadi manusia berhati garang kayak macan.

Masalahnya, aku cuma doyan hati ayam atau hati sapi yg dimasak sambal goreng.
Bisa jadi itu yang membuat aku jadi manusia berhati ‘winnie the pooh’
….*sigh!

Monday, April 17, 2006

Life is Beautiful

lifes might be so fragile
but God create them beautiful
so, how come He wouldn't take cares

Monday, April 10, 2006

Ku Ingin Menghayati

Perayaan Pra Paskah sudah dimulai beberapa minggu yang lalu, tapi baru mulai hari ini aku menjalankan puasa dan pantang. Aku berniat puasa makan+minum sejak bangun pagi (tapi kopi tetep wajib!!) dan pantang online internet (kecuali utk email urusan kerjaan dan blog ini)
Siang ini lumayan juga nahan lapar + haus, dan nahan kebiasaan online. hehehe...

Tadi jam 6 sore buka, trus ikut ibadah khusus yang diselenggarakan tiap sore di gereja.
Ada teman2 dari Univ. Kristen Duta Wacana Yogya yang membawakan Ibadah Meditatif Taize; liturgi ibadah berasal dari Perancis yang menekankan pada doa dan suasana hening.
Kami diajak merenungkan sengsara Tuhan dan penghayatannya dalam kehidupan masing-masing.
Suasana gereja sore ini sangat berbeda. Jemaat dipersiapkan untuk dapat mengikuti ibadah secara simultan tapi hening. Kami duduk di tikar dengan penerangan lilin.
Dalam hening, aku merenungkan banyak hal;

Jangankan Tuhan, akhir-akhir ini Ti saja sampai bosen dengerin aku mengeluh 'stress'
Memang sih kehidupan akhir-akhir ini berat banget, khususnya urusan bisnis yang tentu saja sangat dipengaruhi situasi ekonomi negara.

Tapi!!!! kalau dilihat-lihat, dibandingkan, dsbnya.... seharusnya aku bersyukur, karena meskipun kondisinya sangat ketat dan membuat stress, toh bisnis masih berjalan.
Meskipun cash flow sangat ketat, toh semua kewajiban pokok masih terpenuhi : tagihan, gaji karyawan, dll

Setelah membaca Firman Tuhan, aku juga diingatkan, Tuhan sudah mengaruniakan Keselamatan juga Damai Sejahtera.
Seharusnya terhadap situasi kehidupan saat ini, aku merespon dan menghayatinya melalui sikap yg lebih positif. Dalam kondisi apapun Tuhan selalu menyertai (kata garwa aku, 'Gusti mboten sare')

Sungguh Ibadah sore hari ini memberi semangat baru.
Aku sungguh bersyukur. Aku bersyukur untuk Penyertaan Tuhan, kesempatan pelayanan di gereja, keluarga, pekerjaan, juga kehadiran Titi. Tuhan sungguh baik.

Aku sms adik-adik dan mama sebuah doa bersama :
"Tuhan, dalam masa Pra Paskah ini, kami ingin bersyukur untuk setiap berkat yang sudah KAU berikan. Tapi ajarlah kami juga untuk menghayati sengsaraMU agar hidup kami makin berkenan di hadapanMU. Amin"

Friday, March 31, 2006

Aku dan Joe

Ada seekor kucing di rumah kami. Namanya Joe.
Si Joe memang rakus, tapi lucu dan alim; gak suka kluyuran atau dugem.
Setiap pulang, aku selalu mendapati si si Joe nunggu di balik pintu.
Ibu bilang, “Joe kok deket banget sama kamu” hehe..

Tapi namanya juga kucing!!; suatu hari si Joe duel dengan kucing tetangga, sehingga pahanya terluka. Oleh ibu diberi betadine dan perban, tapi selalu saja dikoyak Joe.

4 hari sejak berkelahi, lukanya tambah parah dan infeksi. Joe jadi lemes, pincang, dan ga mau makan.
Aku masukin Joe ke dalam dos utk di bawa ke dokter hewan dekat rumah.
Waktu keluar rumah, si Joe malah ketakutan, loncat keluar dari dos dan berlari pulang. Pasti kakinya sakit sekali untuk berlari, tapi mungkin rasa takutnya lebih kuat.

Aku tangkap dan masukin dos lagi. Kali ini aku tutup pake keranjang.
Sepanjang perjalanan ke dokter, Joe teriak2. Heiz!! Malu banget diliatin orang, dikirain aku nyulik kucing. Untung saja sesampai di tempat dokter, si Joe jadi diem.
Karena masih bernanah, Joe hanya disuntik antibiotik dan lukanya dibersihkan. “2 hari lagi balik ya, lukanya akan di jahit”, kata dokter.

2 hari kemudian, aku bawa Joe ke dokter dan kembali menahan malu diliatin orang yang pasti mengira aku sedang menculik kucing. Kali ini si Joe malah sampai pipis.
Setelah dibius luka Joe di jahit dan diperban ketat.
Besoknya, si Joe sdh keliatan lebih baik dan mulai rakus kayak biasa.
Belum seminggu, Joe sudah kudu di bawa ke dokter lagi, karena perban lepas dan lukanya digarukin sampai terbuka lagi. Lukanya dijahit lagi dan perbannya diikat lebih kencang.
Waktu aku bawa pulang, Joe yang masih setengah sadar, menggeram2 ga jelas. Mungkin sakit dan pusing akibat dibius.

3 minggu kemudian aku bawa lagi ke dokter untuk melepas perban dan jahitan. Kali ini lukanya sembuh dan kering.

Tapi sejak itu Joe tidak pernah duduk dekat pintu waktu aku pulang, dan hanya mau dekat2 kalau liat aku bawa makanan.

Dasar Kucing!!

Sunday, February 19, 2006

The Finest Moment


Baru saja selesai nonton tayangan American Idol di tv; melihat ledakan kebahagiaan seseorang yang dinyatakan masuk babak selanjutnya. Meski belum menjadi pemenang kompetisi, tapi mungkin bagi mereka inilah the finest moment;
- ketika mimpi adalah kenyataan,
- ketika bahagia membuncah di dada,
- ketika terbang ke langit bukan suatu kemustahilan,
- ketika rasanya tak ada lagi yang diinginkan dalam hidup ini,

aku jadi terkenang dengan setiap‘the finest moment' yang pernah terjadi dalam hidup, yakni :

ketika suatu siang pertama kali disebutkan sebagai juara umum di kelas 1 SMA.

ketika suatu sore papa, mama dan adik2 surprise ke Yogya dan jemput di tempat latihan beladiri di Sitihinggil alun2 selatan

ketika suatu pagi, Alim -teman sekelas- gedor2 pintu kost ngasih tahu aku di terima di UGM

ketika suatu pagi berangkat ke Jakarta untuk menetap.

ketika suatu pagi menerima baptisan kudus di GKI Kebayoran Baru

terakhir kali di suatu pagi tanggal 15 Februari 2006 ketika seseorang menyandarkan kepala dibahu aku. (eh, yang bener waktu itu dia nangis atau kelilipan ya ?)

Tidak banyak ‘the finest momen’ terjadi dalam hidup aku. Langka. Tapi akan terjaga dan teringat sampai the 'last moment’ of life.

Halah!! :p