Pages

Monday, August 14, 2006

Diskriminasi

Belum lama ini RUU Kewarganegaraan RI disahkan.
Lumayan seneng karena berarti ada kemajuan dalam usaha menghilangkan diskriminasi. Tapi mungkin dalam kenyataan sehari-hari UU baru ini belum berarti apa-apa.

olotronok” adalah merk elektronik yang diproduksi di Indonesia.
Merek yang berasal dari Jepang ini terkenal di Indonesia. Kualitas produknya memang oke dan perusahaan ini memiliki banyak program kemasyarakatan. Selain itu slogan perusahaan menunjukkan visi “maju ke depan”
Tapi sudah jadi rahasia umum: seseorang keturunan china tidak akan diterima bekerja di perusahaan ini, kecuali sudah tidak ada alternatif lain.

Sebaliknya…

ilitrinik” adalah merk produk elektronik di Indonesia. Asalnya dari Jepang juga. Kebalikan dengan “olotronok”; jangan harapkan bertemu seorang yang bukan china di jajaran staf dan managemennya. Kalau bertemu orang non-china yang bekerja di perusahaan ini, jabatanya pasti diantara sopir, office boy, kepala gudang, atau satpam.

Jadi sering prihatin dan gusar.
Disatu sisi kebijakan 2 perusahaan itu (juga perusahaan2 serupa) rasanya sangat mengusik nurani. Kadang jadi pengen gak usah berhubungan dengan mereka. Tapi disisi lain rasanya mustahil mengelak menghadapi hal-hal stupid kayak gini.
Jadi mikir, orang2 kayak gitu dulu sekolahnya dimana, orang tuanya mendidiknya bagaimana, besok kalau mati di basement neraka lantai berapa….

Diskriminasi juga bukan cuma urusan ras, agama, suku, golongan….makin lama malah melebar ke urusan yang makin ga mutu.

Belum lama ini, aku menandatangani pembaruan akta penunjukkan dealer produk elektronik “olotronok”. Didalam perjanjian itu ada kolom nama isteri yang aku kosongin saja. Secara aku belum nikah.
Baru saja aku di telepon oleh staf perusahaan itu. Dia bilang ini bisa jadi masalah, dan sesuai “petunjuk” atasannya, aku musti membuat surat pernyataan belum menikah. Alamak!!

Oh ya, sebentar lagi peringatan 17 Agustus. Katanya sih peringatan “kemerdekaan”
Emang kita sudah merdeka ???

Monday, July 24, 2006

akal busuk lucifer

Semalam lucifer curhat dengan gendruwo berkolor pink; kapster langganannya.

lucifer
gue bete deh liat Tuhan!!!!

gendruwo berkolor pink
Ya iyalah bok! secara elo setan!

lucifer
Tuhan sabar banget sama penduduk Indonesia; kayak pada ga puas dengan bencana alam yg gue kirim, malah pada bikin swa-bencana. Lumpur sidoarjo, pembalakan liar, nilep uang bantuan bencana, tawuran massal.
Huh! Coba saja gue yang punya hak eksplorasi di sono; Gue cuma merem dan ngomong, “berisik loe!” dan Indonesia pun ilang dari peta dunia….

Thursday, July 20, 2006

tepung, minyak dan telur

Waktu kecil, aku selalu dingatkan untuk tidak menyia2kan makanan. Dengan cara mengambil makanan secukupnya, membeli makanan sesuai kebutuhan dan tidak mudah membuang2 makanan. Alasan yang selalu diberikan adalah, 'masih banyak orang lain yang saat ini kelaparan'

Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah acara pemuda, ada seorang rekan yang marah2 karena beberapa hari sebelumnya kami merayakan ulang tahun seorang teman dengan melumuri teman yang ultah itu dengan telur, kecap, coca cola, tepung,...you name it!
Terus terang saat itu ketika dimarahin, aku merasa mangkel. dalam hati aku mikir, "doh! segitunya! sok banget! toh belinya juga ga pake duit elo!"
Tapi di tengah trend bencana di negara ini (juga di negara2 tetangga) ajaran untuk selalu menghargai sesuatu anything yang bisa dimakan, menjadi sangat berarti. Sebulir tepung, seulas minyak, dan sebutir telur bisa menjadi makan malam bagi seorang anak yang malam itu harus tidur di tenda dan bapak ibunya baru saja mati.



Hari ini Mama ulang tahun. Tadi malam kami sekeluarga dine-out. Kami sangat bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan usia, damai sejahtera, serta kesehatan kepada mama.
Selesai makan, kami meminta waiter untuk membungkus lauk dan sayur yang tersisa untuk di bawa pulang. Bukan untuk kucing!
Tapi sebagai bagian ungkapan syukur kepada Tuhan atas kecukupan makanan, juga karena kami mengingat, 'banyak orang lain yang saat ini sedang lapar'

foto diambil dari sini

Sunday, July 16, 2006

siapa bilang aku dijual?


Aku sedang nonton tayangan pelelangan gaun-gaun milik Lady Di di Metro tv.
Itu orang-orang kok super kaya buanget!!; beli baju 'bekas' saja sepotong 500 jutaan. Ada yang beli lebih dari 3 potong malah. Ga kebayang duitnya sebanyak apa.
Aku cuma kuatir kalau ada yang ke Indonesia trus liat aku trus sambil nunjuk ngomong,
"kamu...aku beli deh!"

Tuesday, July 11, 2006

good nite dear...

Aku perhatikan, ternyata mengingat sesuatu; -i.e. angka- menjelang tidur itu suatu kekonyolan.

Beberapa malam ini, menjelang tidur aku baca ELDEST -> fiksi setebal 750 halaman karya Christhoper Paolini.
Saat tingkat kesadaran anjlok sampai 26,79% ditelan kantuk, biasanya aku cuma liat nomor halaman dan feel pede 'besok pasti ingat'....
tapi selalu saja, besoknya aku musti merunut ceritanya lagi sampai menemukan halaman terakhir yang dibaca.
ah, semoga ini bukan tanda-tanda sindrom pelupa kayak kakek2 tetangga. hehehe....

Selain baca, beberapa bulan ini ada kegiatan lain pengantar tidur : ngobrol lewat fren sama Titi yang di yogya. Murah banget, paling 1.500 rupiah perjam.
Ada saja yang bisa diobrolkan. Dari masalah kerjaan sampai urusan pacar kenalan yang sama ga jelasnya dengan penyelesaian Lapindo Brantas.
kira-kira ngobrol sama Titi 1 - 1,5 jam sudah membuat hidup hari ini lengkap dan permitted to have a sound sleep.
Ohya, tanggal 13 Juli 2007, Titi akan ujian skripsi.
Semoga sukses ya nak! Nanti kalau sudah selesai, malemnya kita ngobrol2 lagi. hehe..