Pages

Wednesday, April 14, 2010

Plisss yaaa!!!

PLIISSSS YA!!!!

nama saya PAULUS !

bukan Yulius, Filipus, Yohanes...apalagi Markus....!!!


*melengos sebal luar biasa!

Wednesday, April 07, 2010

Menoleh Ke Belakang

Tahun 2004 aku merintis usaha reparasi elektronik: S24.

Kantor S24 dibuka di pojokan gudang, hanya dengan 1 staf administrasi: Ana, serta 1 teknisi: Pujo, yang baru lulus dari SMK elektro.

Ana dan Pujo sangat bersemangat mengembangkan kompetensitas masing-masing, memiliki kepribadian yang baik, serta kami bekerja sama dengan kompak.
Pihak principal, dealer, serta konsumen yang berhubungan dengan S24 juga memberikan penilaian sangat baik kepada kinerja S24 maupun personilnya.

Aku merasa kami tim yang sangat potensial dan yakin akan berkembang.

Namun menginjak bulan ke empat, Pujo sering minta ijin tidak hadir.
Malah kemudian aku mendapat informasi bahwa Pujo akan mengundurkan diri.

Ketika aku mengajak Pujo bicara, terungkap bahwa sebenarnya cita-cita Pujo adalah menjadi polisi. Selama bekerja di S24 dia diam-diam mengikuti tahapan seleksi pendidikan kepolisian. Waktu itu hanya tinggal menunggu pengumuman final penerimaan. Dan dia yakin akan lolos.

Yang bikin kecewa adalah pada awal masuk bekerja di S24 Pujo menyatakan tidak punya rencana selain kerja di S24, tapi akhirnya Pujo mengakui bekerja di S24 untuk mengisi waktu menunggu proses pendaftaran masuk polisi.

Ini berarti aku kudu segera mempersiapkan pengganti Pujo.
Situasinya : Seandainya Pujo tidak diterima di kepolisian dan tetap di S24, saat itu S24 belum mampu membayar upah 2 teknisi.
Maka akhirnya aku memutuskan memberhentikan Pujo secara baik-baik.
Kebetulan saat itu ada seorang teman memberi rekomendasi seorang teknisi untuk melamar ke S24.

Meski keputusan itu diambil dengan cukup pertimbangan, meski kecewa dengan ketidak jujuran Pujo sejak awal; aku tetap merasa bersalah sudah memberhentikan seseorang yang bekerja di S24.

Apalagi ketika akhirnya ternyata Pujo tidak diterima di kepolisian.

Setahun kemudian ketika jumlah pekerjaan di S24 bertambah dan mampu membayar 2 teknisi, aku mencari Pujo tapi ternyata sudah bekerja di Bekasi.

.........................

5 tahun berlalu, atas perkenan Tuhan S24 telah tumbuh dan berkembang hingga jumlah teknisi mencapai 9 orang dan memiliki 2 cabang lagi.
Bahkan pada Juli 2009 S24 mendapat peluang membuka cabang di Cikarang-Bekasi.


….lalu akupun menoleh ke belakang……


Aku berpikir ini kesempatan untuk mengkompensasi rasa bersalah aku dengan Pujo dulu. Bagi aku, Pujo memiliki jasa merintis 4 bulan pertama S24. Aku pengen memberi kesempatan Pujo.

Beberapa kali Pujo sendiri berkata kepada mbak Ana: seandainya masih tinggal di Solo, dia pengen balik ke S24.

Segera aku minta mbak Ana, yang sudah menjadi kepala S24, untuk mengatur agar Pujo yang tinggal di Bekasi bisa datang ke Solo membicarakan peluang yang ada.

Saat hari yang disepakati tiba, Pujo tidak muncul.
Ketika di konfirmasi mbak Ana, Pujo bilang ga punya uang tiket ke Solo.

Oleh mbak Ana diatur waktu yang berikutnya. Dijanjikan uang tiket akan di ganti di Solo.
Tapi 1 hari menjelang waktu yang disepakati, Pujo sms minta ditunda karena istrinya sakit.

Tadinya aku berpikir: ah, yo wes lah! Gak usah saja.

Namun ketika ke Cikarang mempersiapkan pembukaan kantor, aku berpikir: coba sekali lagi ketemu Pujo ah…

Kali ini dia menemui aku di Cikarang.

Aku tanya kabar, situasi dan statusnya saat ini.

Pujo bilang sudah 2 tahun menganggur, belum berhasil mendapat pekerjaan.
Sehari-hari mengurus anak, istrinya yang bekerja sebagai SPG.

Aku menanyakan rencana kehidupannya serta menyampaikan peluang yang ada.

Pujo menjawab: tetap nyari pekerjaan, dan sangat berminat kalau diberi kesempatan bergabung S24 kembali.

Sekali lagi aku tegaskan komitmen Pujo untuk kembali ke S24.

Dan Pujo menyatakan : saya mau serius di S24 pak.

Teryakinkan, akupun menunjuk Pujo sebagai kepala cabang di Cikarang; dengan pertimbangan tugas-tugas admisnistratif lebih mudah dibanding pekerjaan teknis.
Dari segi skill teknis Pujo sudah pasti ketinggalan dibanding teman2 teknisi lain.
Aku memberi gaji tertinggi dalam kategori kelasnya.

Tapi selama tiga bulan pertama, aku tidak mendapat laporan kerja yang membaik. Malah pada akhir evaluasi bulan ketiga penilaian kinerja semakin kurang memuaskan.

Seperti de javue, pertengahan bulan ke empat, malam-malam Pujo telp, mohon maaf mulai besok tidak di S24 lagi.

Kali ini dia bilang akan buka warung bersama istrinya, memanfaatkan pesangon istrinya yang baru saja di PHK.

Monday, March 22, 2010

SALE!!! (me as well)


Kasus A

Bulan Januari kemarin One-One mengadakan clearance sale: diskon 50% tapi harga barang dinaikin dulu 2 kalinya. Jadi sebenarnya ga ada diskon.

Tak dinyana program ini sukses banget! Stok-stok lama yang kurang laku terjual habis. Peningkatan penjualan sangat signifikan.

Untuk program bulan Februari hanya free wrapping, mengingat ada momentum valentine.
Tapi penjualan malah ga seindah penjualan bulan Januari. Banyak konsumen yang datang menanyakan program diskon 50% yang lalu.
Ketika ditawarkan barang-barang dengan harga normal namun jatuhnya sama dengan harga diskonan 50%; konsumen ga tertarik. Aneh!

Jadi bulan Maret ini kami gelar lagi diskon 50%+10%. (*yups, lagi-lagi harga dinaikin dulu)

Hasilnya? Kesimpulannya? Evaluasinya?

Konsumen emang lebih tertarik dengan status ‘SALE’ dan ‘DISKON’


Kasus B

Ada seorang teman. Ga terlalu dekat meski lumayan sering sms-an tapi baru sekali ketemu, itupun rame-rame.
Topik sms-an kami tentang remeh-temeh kejadian sehari-hari, soal hoby, buku, dan hal-hal gak penting lainnya.

Kemarin malam kami sms-an tentang teman dia yang sedang pusing soal peternakan sapinya. (*harga sapi sedang turun uy!)

Kemudian out of the blue, teman aku ini sms : Do you know how lucky I am to know someone like you?

Aku jawab: plis deh!!

Hahaha…


Tapi akhir-akhir ini ada beberapa teman yang ngomong begitu. Padahal rasanya aku biasa-biasa wae, gak pernah ngasih perhatian khusus; ga selalu jawab sms mereka; ga pernah ngasih sesuatu yang bersifat materi, trus kadang pas cape aku juga judes…..

Hahaha.. aku jadi geli kalau ingat hal ini…..

Anyhow, itu pernyataan yang sangat berharga. Indeed.

Tapi pernyataan teman-teman ini tidak akan menjadi testimoni yang membuat aku lebih berharga di mata orang lain. Seandainya dipasang di friendster atau facebook, tidak akan membuat orang berbondong-bondong meng-invite aku jadi teman mereka.



Iseng saja, untuk perabotan chatting di chanel "theeeet…" (*sensor), aku iseng pasang foto dan profile di situs "theeeet…" (*sensor) dan situs "theeeet…" (*sensor)

Ada sih yang yang ngajak kenalan dan invite. Tapi gak banyak.
Kalau ditambahin statement dan testimoni teman diatas juga pasti gak akan menambah orang yang berminat.

Tapi beberapa bulan ini terjadi lonjakan invitation dan message mengajak kenalan.
Kalau dipakai chatting juga hasilnya adalah, “ayo ketemuan mas…” (*jedhenk!)

Padahal foto wajah dan data diri tetap; hanya di tambah beberapa foto semi naked yang menurut si Ridho aka TNRDC (the noisy yet rude debt collector) : SARU!

Tanpa aku sadar, dengan foto semi naked tersebut aku memberi image diri yang provokatif: Me for sale! cheap & get-able.

Hasilnya? Kesimpulannya? Evaluasinya?

Well, anyhow, anyway…… kepada beberapa teman: matur nuwun! Adalah anugerah juga bagi saya untuk menjadi teman kalian. Hehehe..

Tapi kok ada ya...orang yang menilai aku berdasar dada kerempeng & perut rata...

Huahahahahaha…..




(maaf, untuk kasus B tidak dibahas soal transaksi hasil mendiskon diri!)

Thursday, March 18, 2010

kuliah di mana ?

..... tadi sore bantuin mbak Nina di 'one-one kios kado'

seorang cowok terkagum-kagum mengamati aku membungkus boneka yang dibelinya.

untuk hadiah ulang tahun pacar saya, katanya.

ketika akhirnya aku serahkan kado yang selesai di bungkus, dia bertanya: mas, dulu kuliah dimana kok bisa bungkus kado sebagus ini...

aku cuma tertawa. flattered.
belajar bisa bungkus kado itu gampang, cukup nongkrong di wrapping counter atau liat-liat di buku.

tapi belajar bisa melakukan sesuatu dengan Hati, sehingga membuat orang lain bahagia; itu cuma bisa didapat di sekolah bernama: HIDUP.

Sunday, February 28, 2010

Sampai maut memisahkan.....

Aku memanggilnya mas Sujar; teman kerja ketika masih jadi arsitek di kantor pertama di Yogyakarta belasan tahun yang lalu.

Setahun kemudian, kami dan beberapa teman membentuk tim kerja baru di Jakarta. Waktu itu mas Sujar sudah menikah.
Mas Sujar sempat bekerja di Jakarta selama hampir 10 tahun (*kalau ga salah), selama itu pula istri dan anaknya tetap di Wates - Yogya.
Setiap hari Jumat jam 3 sore, mas Sujar pasti sudah kabur ke Gambir pulang ke Wates dengan kereta api.

Kami teman-temannya suka menggoda mas Sujar yang setia dan sangat mencintai keluarganya, meski sebenarnya kami salut dengan ketekunannya hidup hemat di jakarta agar bisa naik kereta api pulang menemui istri dan anaknya tercinta tiap Jumat.

Beberapa tahun yang lalu akhirnya mas Sujar pindah kerja ke Yogya, sempat ketemu sekali di kantornya yang baru.

Sekitar setengah tahun yang lalu mbak Dyah sms memberi tahu istri mas Sujar terkena Leukimia : kanker darah dan dirawat di rumah sakit.
Mbak Dyah juga cerita, mas Sujar tidak pernah tidur di rumah, setiap malam menemani istrinya di rumah sakit. Padahal perawatannya sudah berjalan beberapa bulan dan masih belum tahu sampai kapan.

Sebenarnya sudah pengen banget ke Yogya menengok mereka, tapi selalu saja tertunda.

Tapi hari Sabtu yang lalu dapat sms dari mbak Dyah, yang isinya mengabarkan istri mas Sujar dipanggil Tuhan.

Rasanya menyesal banget ga kesampaian menengok istri mas Sujar.
Beberapa hari ini gawean juga padat sekali dan gak mungkin melayat ke Wates. Jadi aku cuma nulis salam dan doa di wall fesbuk mas Sujar. Ga sampai hati ngomong langsung.

Tapi tadi sore sempat chat sebentar sama mas Sujar, aku ga sampai hati ngobrol banyak. Aku tahu pasti mas Sujar merasa sangat kehilangan.

Tapi yang paling sedih baca status mas Sujar di fesbuk :

Ya Allah, trimakasih telah Engkau pilihkan istri yang baik, apa yang di lakukan keseharian ke saya dan anak-anak hanya karena kewajiban IBADAH, meski dengan tertatih menahan sakit..... Maaf belum bisa membahagiakan mu... mengusahakanmu maksimal untuk sembuh,,, Allah berkehendak lain "INNALILLAHI WA INAILLAHI ROJIUN" semoga Allah membahagyakan mu di alam yang lebih baik.


pengen nangis!

aku pengen nangis!!!

dan jadi berpikir, apakah aku selama ini sudah membahagiakan mereka yang selalu aku sebut "yang kukasihi" : keluarga dan beberapa orang lagi....

Semoga Tuhan menguatkan mas Sujar dan anak-anaknya, membahagyakan istri mas Sujar di sisi-NYA.